Showing posts with label The Journey of my life. Show all posts
Showing posts with label The Journey of my life. Show all posts

Mengukir Asa yang Baru di Tahun 2023

 

Mengukir asa di tahun 2023,
Ilustrasi dari canva.com

Tahun 2022 sudah usai, selamat datang tahun yang baru. Mari mengukir asa yang baru di tahun 2023. Ucapkan alhamdulillah untuk tahun 2022 yang sudah dilewati dan bismillah untuk menyambut hari baru di tahun 2023. Tahun 2022 penuh cerita, terlewati juga berbagai momen dalam hidup.


Sepanjang tahun 2022 sudah melewati banyak hal. Ada suka, sedih, senang, bahagia, terluka, tertawa, menangis, pokoknya udah kaya nano-nano, ramai rasanya. Meski begitu akhirnya bisa melewati tahun 2022 dan kini sudah memasuki tahun 2023. Ada banyak harapan di tahun baru ini. Meski banyak juga reminder atau renungan setelah mengalami berbagai hal di tahun 2022.



Flashback, berbagai peristiwa dan renungan untuk diri 


Awal tahun 2022 di Bulan Januari, saya masih berobat jalan setelah akhir Bulan Desember dirawat di RS daerah Cimahi karena sesak napas. 


Tadinya saya khawatir kena Covid-19, karena sebelumnya sempat flu berat. Awalnya anak saya yang sakit, setelah berobat ke dokter anak membaik dan saya yang sakit. Beberapa hari flu, saya sempat kehilangan penciuman tapi masih bisa mengecap rasa.


Saat itu saya dikejar deadline beberapa tulisan yang harus segera tayang, membuat saya kekurangan waktu istirahat. Saya ingat saat subuh, cuaca dingin tiba-tiba saya merasa kesulitan bernapas. Saya juga menggigil saat itu. Kepala rasanya mau pecah. Akhirnya saya berobat ke UGD dan diberikan terapi uap agar tidak terlalu sulit bernapas.


Saya ingat di lakukan pemeriksaan EKG atau rekam kantung di UGD. Akhirnya saya boleh pulang. Setelah berobat, dua atau tiga Hari kemudian, kondisi saya masih belum membaik. Saya pun merasakan lemas dan kesulitan bernapas. Agak heran juga karena saya nggak punya Asma tapi rasanya sesak sekali.


Kali ini saya di bawa ke UGD yang berbeda dengan RS sebelumnya, hanya masih di daerah Cimahi juga. Akhirnya berbagai tes lab dan medis dilakukan, sebelum saya dirawat selama 3 hari di RS. Ternyata kadar kalium saya rendah sekali, selain itu saya juga kena Bronchitis Kronis. 


Selama ini saya memang ngerasa kalau kedinginan mudah batuk-batuk, dulu nyangkanya alergi cuaca, ternyata bukan alergi setelah dicek foto thorax atau rontgent dada. 


Setelah sekitar 2 bulan pasca dirawat, saya merasa sudah cukup membaik dan bisa beraktivitas seperti biasanya. Ketika dirawat di RS, sempat merasa kegiatan ngeblog perlu saya batasi, karena  saya sering bangun tengah malam, kurang tidur karena ngejar deadline tulisan sehingga membuat kondisi kesehatan saya ngedrop.


Hanya saja saya dapat notifikasi bahwa di akhir tahun kemarin tulisan saya terpilih menjadi salah satu pemenang hiburan ketika mengikuti lomba blog akhir tahun 2021 yang lalu. Saya yang jarang sekali ikutan lomba, nggak nyangka menang lomba blog meski hanya pemenang hiburan saja. Rasanya udah happy banget. 


Menang lomba blog itu berasa bahagia banget, merasa tulisan saya bisa dihargai dan diapresiasi membuat saya kembali bersemangat untuk ngeblog kembali. 


Di pertengahan tahun ketika anak masuk SD, perlu adaptasi ritme yang baru. Antar jemput anak, menemani anak belajar di rumah.  Antar jemput ngaji membuat saya agak lambat menulis, apalagi kalau ada job, satu blog post saja bisa selesai berhari-hari karena saya perlu membagi fokus di dunia maya maupun dunia nyata. 


Saat saya menjadi penulis artikel di tahun 2017-2018, saya terbiasa menulis artikel setiap hari. Dulu senang mengirimkan tulisan ke media online. Rasanya seneng sekali kalau tulisan saya bisa dimuat di media online. Di akhir tahun 2018 saya baru pasang TLD dan setelah itu saya fokus ngeblog sampai sekarang. 


Satu hal yang saya syukuri banyak sekali merasakan berkah menulis dari ngeblog, dimulai dengan terapi, bisa berbagi pemikiran, menuliskan berbagai informasi, sampai akhirnya merasakan berkah menulis dengan mendapatkan penghasilan dari menulis di blog atau menjadi influencer.


Akhir tahun ditutup dengan hal yang membuat saya perlu meluaskan penerimaan terhadap ketentuan atau takdir yang sudah ditetapkan oleh-Nya. Saya perlu belajar untuk rida menerima dan Ikhlas melepaskan titipan yang sekarang sudah tidak dalam genggaman saya lagi. 



Sebuah Harapan, mengukir asa baru di 2023

Ada yang datang dan pergi, menutup tahun 2022 dan menyambut tahun 2023 ada banyak asa yang terukir. Dalam doa dan harap, kita semua menuju hari baru di tahun 2023. Semua yang terjadi pasti ada hikmahnya.


Katakan Alhamdulillah untuk tahun 2022 dan Bismillah menyambut tahun 2023. Alhamdulillah masih diberikan kesempatan usia dan sampain ke tahun 2023. Bersyukur sudah melewati berbagai hal di tahun 2022. Tetap mengucap syukur meski ada hal yang tidak sesuai dengan keinginan dan harapan di tahun lalu.


Mengurai kejadian yang telah terjadi, mulailah sibuk memperbaiki diri. Jangan menyalahkan keadaan atau orang lain jika ada hal yang tidak sesuai harapan. Mulailah menata kembali langkah Kita di tahun yang baru. Mulai lebih peka dan peduli terhadap kesehatan sendiri, jangan menutup mata jika tubuh sudah menimbulkan tanda meminta jatah untuk rehat. 


Sejak jadi ibu biasanya kalau anak sakit, cepat diobati. Beda dengan diri sendiri yang sakit, kadang nggak dirasa karena menjadi ibu itu nggak boleh sakit lama-lama. Nanti gimana anak kalau ibunya sakit, siapa yang ngurusin coba? 


Setiap orang pasti punya cerita tersendiri di tahun 2022, seperti halnya rekan saya, Teh Okti penyuka traveling seperti saya dan suka  mendaki gunung. Blogger Cianjur  yang berbagi cerita mengenai pengalamannya menjadi relawan saat gempa Cianjur terjadi akhir tahun 2022 yang lalu. Saya berharap dan mendoakan para penduduk yang terkena gempa sehat selalu dan ada dalam lindungan-Nya 


Semoga ditahun yang baru ini Kita diberikan kesehatan, kemudahan dan kelancaran semua urusannya, dilancarkan rezeki dan selalu dalam penjagaan-Nya.  Semua yang terjadi ambil hikmahnya, jangan sampai mengulang kesalahan yang sama ditahun 2023. 


Mengukir asa baru di tahun 2023, harapannya semoga Kita bisa memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi. Bagaimana dengan Sahabat Catatan Leannie, apa nih harapan atau resolusi kalian di tahun ini?



Salam,





Cerita di balik Laboratorium Klinik, Antara Profesi dan Panggilan Hati

Antara Profesi dan Panggilan Hati
Cerita di balik Laboratorium,
via dokumentasi pribadi dan canva 


Saya menuliskan cerita di balik Laboratorium klinik,  antara profesi dan panggilan hati berdasarkan kisah saya sendiri.  Saya adalah lulusan Analis Kesehatan, kini dikenal dengan nama ATLM atau Ahli Tenaga Laboratorium Medik. 


Saya kuliah di Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Bandung tahun 2003 yang lalu. Sudah mau 20 tahun lalu ternyata. Lulus D3 Analis Kesehatan atau punya gelar Amd, AK di tahun 2006. Sudah cukup lama banget, kan?


Jadi kalau nanya usia, ya usia saya juga udah di atas 30 plus. Plusnya juga lumayan banyak. Hehe ...  Sudah banyak sekali hal yang saya lewati selama ini. Sedikit berbagi kisah hidup saya di blog ini.


Setelah lulus kuliah, saya memasukkan banyak lamaran kerja tapi sampai tiga bulan nganggur belum dapat panggilan kerja juga sampai akhirnya saya mencoba melamar kerja di luar kota, yaitu di Pandeglang Banten. Berhubung ada keluarga ayah yang tinggal di sana. Saya menjadi TKK di RSUD Banten. 



Lika-liku mencari dan mendapatkan pekerjaan


Ketika bekerja pertama Kali di RSUD, gaji honorer yang saya terima hanya sekitar 350 ribu saja. Sedih rasanya ketika setiap bulan, ibu saya yang kirimin uang buat biaya hidup saya. 


Inginnya, sih, saya yang ngasih ke orang tua. Hanya sampai 2-3 bulan, saya kerja di RSUD. Setelah ini saya kembali ke Bandung dan mencoba peruntungan dengan melamar ke berbagai Lab atau RS di Bandung.


Saya pernah bekerja di Lab klikik swasta pratama atau lab swasta yang kecil, nggak apa-apalah gajinya kecil juga. Saya inget gaji pertama bekerja di Bandung adalah 850 ribu rupiah.


Sedangkan UMR udah sekitar 2,5 jutaan untuk UMR Kota Bandung Di tahun 2007. Jika dibandingkan dengan sekarang, yang pasti udah lebih besar dari ini soalnya ini udah beberapa belas tahun lalu. 


Saya bekerja di Klinik Swasta tersebut hanya beberapa bulan setelah itu saya diterima di sebuah Laboratorium Klinik Swasta Utama yang cukup terkemuka di Bandung. Pengalaman kerja di Laboratorium klinik ini Sekitar 4 tahunan lebih.


Inget dulu kerja jam 6 pagi pulang bisa sampai malam alias lembur kalau ada medical check up, bisa dari instansi atau penerimaan karyawan baru yang butuh tes kesehatan di Laboratorium. 


Kadang saya juga ikut tim sampling  untuk pengambilan sampel darah karena ada medical check up, baik dari Bandung atau pun dari luar kota. Banyak pengalaman yang saya dapatkan saat bekerja di lab ini.


Setelah hampir lima tahun bekerja di Lab Utama, saya melanjutkan kuliah D-4 satu tahun di Poltekkes Kemenkes Bandung jurusan ATLM atau Ahli Tenaga Laboratorium Medik. Salah satu pilihan hidup yang membuat saya belajar banyak hal.



Resign setelah menikah


Setelah beberapa tahun bekerja di Lab Klinik swasta saya memutuskan resign dan melanjutkan kuliah di tahun 2012 dan tahun 2013 saya lulus D-4 Analis Kesehatan. Akhirnya saya sempat menjadi asisten dosen di salah satu kampus swasta di Bandung setelah lulus kuliah D-4 Di tahun 2013. 


Hanya saja setelah ini saya menikah di tahun 2014 dan resign dari kampus. Satu keputusan yang berat saat itu antara menikah dan melanjutkan kuliah S-2 karena dibiayai pihak kampus. Saya memilih untuk menikah dan resign dari kerjaan. Itulah pilihan hidup yang saya ambil saat itu. 


Sudah bertahun-tahun saya bekerja dan resign setelah menikah, perlu adaptasi cukup lama untuk terbiasa. Saya yang biasanya bekerja di luaran sana, lalu diam di rumah sebagai IRT, jujur saja nggak mudah, apalagi dengan banyaknya omongan yang membandingkan Full Time Mom vs Working Mom. Namun, sekarang saya sudah tidak terlalu mengambil hati ucapan tersebut.


Namun, saya membiasakan diri, apalagi setahun setelah menikah dan memiliki anak, saya ingin fokus ke anak dan keluarga. Sebuah pepatah bilang "Bisa karena Terbiasa," menjadi orang tua terutama ibu adalah tanggung jawab besar bagi saya. 


Meski sejujurnya saya merasakan rasa rindu bekerja kembali seperti sebelum menikah. Untunglah saya menemukan passion menulis, awalnya saya ingin menulis novel tetapi malah nyemplung jadi penulis artikel dan akhirnya nyaman menjadi blogger.


Bersyukur setelah menjadi blogger, saya banyak merasakan berkah menulis. Dari mulai healing, bisa sharing ke banyak orang hingga bisa sedikitnya nambah penghasilan tambahan. Bonus dari ngeblog yang saya syukuri. Alhamdulillah senang sekali ketika hobi yang ditekuni menjadi profesi.



Kangen Kerja lagi, menerima kembali pekerjaan part time di Laboratorium Klinik 


Setelah nikah dan punya anak, saya menerima pekerjaan part time di Lab Cimahi. Saya bekerja jika ada yang berhalangan hadir. Jadi nggak tiap hari kerja. Namanya juga part time.


Sebenarnya sudah dua kali saya ditawari jadi pegawai tetap di sini hanya saja memikirkan anak saya nanti siapa yang ngurus, berhubung ibuku kerja, sih. Sebentar lagi ibuku juga akan pensiun, beliau bilang biar anakku sama Ibu saja. 


Saran beliau saya sebaiknya mencari kerja lagi dan ketika saya berpikir memang sebenarnya saya juga kangen kerja lagi di Lab, lalu ada tawaran kerjaan part time kembali di Lab tempat saya kerja dulu. 


Akhirnya saya ambil aja kesempatan ini. Jujur saja, faktor usia juga belum punya STR atau surat tanda registrasi alias surat izin bekerja, membuat saya agak kesulitan mencari kerja di tempat baru karena kedua hal tersebut.


Berhubung saya nggak bisa kalau hanya diam saja di rumah, selain menulis, saya juga berjualan baju anak dan dewasa. Semakin banyak kegiatan saya sekarang ini. Saya cukup enjoy terutama bisa bekerja di Laboratorium Klinik kembali. Saya jadi teringat gaji pertama dan hadiah yang saya berikan untuk ibu dari hasil kerja perdana saya di Lab 


Sebagai tenaga kesehatan, saya punya teman yang menuliskan tema kesehatan alias menjadi blogger kesehatan. Rekan saya ini seorang Blogger Semarang. Saya juga dulu pernah beberapa bulan tinggal di Ibu Kota Jawa Tengah ini. Semarang punya cerita, kota ini cukup punya kenangan spesial bagi saya.


Itulah cerita di balik laboratorium klinik, the journey of my life. Antara profesi dan panggilan hati. Menuliskan kisah sendiri,  melukiskan banyak memori di dalamnya. Nah, kalau Sahabat Catatan Leannie apa nih kisah yang paling berkesan di hidup kalian, sharing dong di kolom komentar!



Salam,






Sewindu Menikah denganmu, Happy 8th Anniversary

Sewindu pernikahan, via freepik


September ceria ... September ceria, milik Kita bersama. 7 September, sewindu menikah denganmu, happy 8th anniversary untuk kita. Sudah banyak pelajaran kehidupan selama 8 tahun pernikahan. 

Bukan waktu yang pendek untuk sebuah perjalanan selama berumah tangga, semoga masih dikasih umur dan kesempatan untuk terus bersama dan menemani tumbuh kembang anak hingga dewasa.

Pernah dengar kalau jodoh itu "jorok?" Bukan berarti jorok itu bisa ditemukan di tempat yang kotor, kumal atau nggak bersih, ya? Saya berpendapat kalau jorok di sini artinya berserakan, dalam artian bisa ditemukan di mana pun dan kapan pun. 

Saat berharap jodoh datang, malah nggak datang-datang. Eh, pas udah pasrah, nggak nungguin jodoh dia datang sendiri. Lagunya Afgan yang judulnya "Jodoh Pasti Bertemu" itu memang benar adanya. 

Buat yang belum ketemu jodohnya dan sedang dalam penantian, kadang ada rasa galau ketika jodoh belum tiba atau baper saat lihat pasangan yang 'uwu-uwu,' tenang aja dan nggak usah bersedih. Percaya aja deh kalau setiap manusia itu diciptakan berpasang-pasangan. 

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat kebesaran Allah.’ (Adz-Zaariyat: 49)


Flash Back, Menemukanmu


Saya jadi teringat tepatnya 9 tahun saat pertama kali bertemu denganmu lagi. Jadi flashback di tahun 2014 saat Kita mengikat janji suci. Mengingat kembali moment sakral akad nikah yang terjadi tanggal delapan tahun silam. 

Siapa yang menyangka jodoh saya itu dekat sekali, rumahnya pun masih satu RT alias tetangga. Pertama kali bertemu kembali saat reunian zaman SMU atau awal-awal masuk kuliah, karena saya dan suami itu satu almamater saat SD. 

Dulu, kita sama-sama ikutan Paskibra di SD. Temen-temen saya, kakak kelas, bahkan kakak pembina Paskibra aja nggak nyangka kalau kita berjodoh. 

"Kalau tahu jodohnya deket, kenapa nggak nikah dari dulu aja?" Tanya salah satu tetanggaku.

Dulu ibuku bilang inginnya saya nikah dengan orang yang dekat saja, jangan sama yang jauh. Takut susah ketemu nanti katanya.

Eh, bener aja manjur banget ucapan ibuku, akhirnya saya nikah dengan orang yang rumahnya dekat. Tinggal jalan, nggak sampai lima menit juga udah sampe. Doa orang tua terutama ibu memang mustajab, ya. 

Jodoh itu memang misteri, pernah menargetkan menikah di usia 25 tapi setelah 27 tahun pun belum tahu kapan dan dengan siapa saya menikah.

Entah sudah berapa kali saya ditanya kapan nikah. Hanya saya senyumin saja, soalnya saya juga nggak tahu kapan nikah dan dengan siapa menikah. 

Akhirnya saya berserah dan pasrah saja. Saya menyibukkan diri dengan melanjutkan kuliah dari D3 ke D4 Analis Kesehatan atau sekarang dikenal dengan nama "Ahli Tenaga Laboratorium Medik," atau ATLM.

Teman-teman seumuran saya udah pada nikah duluan, mereka udah pada punya anak satu, dua bahkan tiga anak di usia saya saat itu. Ya sudahlah, saya nggak mau terlalu memikirkan hal itu. Lelah nantinya.

Siapa yang menyangka jodoh saya itu kakak kelas sewaktu SD dan rumahnya juga berdekatan. Cuman memang sejak lulus SD, saya nggak pernah ketemu lagi di SMP, SMU, atau kuliah. 

Zaman masih kerja juga paling ketemu saat lebaran Idulfitri atau Iduladha aja. Ketemunya pas salaman aja. Udah gitu aja, sejak SD juga nggak terlalu dekat paling hanya tahu namanya aja. Memang zaman SD saya juga jarang ngobrol sama dia.

Akhirnya kumenemukanmu ...
Saat hari ini mulai merapuh
Akhirnya kumenemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh  

Pas banget kalau denger lagu "Akhirnya Kumenemukanmu," yang dinyanyikan oleh Naff.  Siapa yang familiar lagu ini? Fix, Kita seangkatan.  Mendengar lagu ini, kok berasa saya banget gitu, loh. 

Akhirnya saya menemukan dia yang kini jadi jodoh saya. Dia yang sekarang jadi suami saya, pertama kali menghubungi lewat SMS. Dulu belum ada WA soalnya. Dia bilang mau datang untuk silaturahmi dan saya mempersilakan dia berkunjung ke rumah. 

Siapa sangka dia datang ke rumah dengan ibunya. Ibunya langsung bilang dong mau melamar saya. Dia bilang akan menikah tahun depan, karena butuh waktu baginya buat mempersiapkan pernikahan. 

Saya hampir nggak percaya sih, jodoh itu datangnya tiba-tiba. Takjub juga dengan jalan dipertemukan dengan jodoh. 

Jujur saja, saya memang agak risau tentang jodoh saat itu. Akhirnya nggak terlalu banyak berharap setelah pengalaman pahit menunggu seseorang dalam waktu lama dan berujung kecewa.

Memang benar kalau berjodoh itu jalannya dipermudah, ya. Nggak pakai galau lagi soal  penantian. Saya menerima lamarannya karena menurut saya dia itu baik dan datang di saat yang tepat. 

Yang terpenting, dia datang memberikan kepastian. Keluarga pun sama-sama saling merestui. Akhirnya saya dan dia menikah tanggal 7 September 2014, delapan tahun lalu.


Memetik hikmah dalam sewindu pernikahan 


Menuliskan kisah sendiri, flashback cerita saya dan suami setelah delapan tahun pernikahan. Sejujurnya saya merasakan naik turunnya hubungan kami. Sejak setelah menikah, lalu memiliki anak pasti banyak hal yang telah kami lalui bersama. 

Ada bahagia, sedih, tangis, tawa, kesal, jengkel, marah dan akhirnya kami bisa saling menerima satu sama lainnya. Menggenang anniversary kedelapan saya pun banyak bersyukur pada-Nya.

Alhamdulillah, Tuhan masih memberikan waktu dan kesempatan Kami bersama. Berlayar mengarungi samudra kehidupan. Kadang bertemu angin sepoi-sepoi, pernah juga bertemu angin kencang bahkan badai sekalipun.

Bersyukur apapun masalahnya, Kami bisa melewati semuanya bersama. Kebahagiaan yang dilihat orang lain saat ini, mereka belum tahu aja sudah banyak hal yang Kami lewati untuk sampai ke tahap sekarang ini.

Terima kasih Ya Rabb telah mengirimkan dia yang kini jadi suamiku. Keluarga kecil kami semakin lengkap dengan hadirnya buah hati tercinta. 

Satu hal pelajaran kehidupan yang saya ambil dalam berumah tangga adalah "Seni Mengalah." Mengalah bukan berarti kalah, tapi mengalah untuk saling menerima kekurangan pasangan. 

Mau dan bersedia memperbaiki diri tanpa harus menuntut pasangan seperti yang saya inginkan. Belajar untuk berkomunikasi secara positif dan saling memaklumi satu sama lain. Mau saling support dan mendoakan apa yang menjadi harapan masing-masing. 

Menuliskan kisah sendiri cukup melegakan karena menulis itu bisa jadi healing. Senang sekali saya menemukan passion saya di bidang menulis dan menjadi blogger

Seperti halnya teman lifestyle blogger Mba Syntako juga suka jalan-jalan seperti saya. Buat yang mencari rekomendasi tempat wisata dan liburan di Lembang bisa banget berkunjung ke Bandung.

Sewindu menikah denganmu, mengukir kisah Kita bersama. Bertemu dengan jodoh jadi satu cerita yang amazing buat saya. Nah, sharing juga dong, Sahabat Catatan Leannie tentang pengalaman paling berkesan di hidup kalian?


Untukmu yang Pernah Singgah, meski Sekejap tetapi Selalu Kuingat

Untukmu yang pernah singgah
Untukmu yang pernah singgah,
Canva


Rasanya baru menuliskan judul ini saya udah membuat saya berkaca-kaca. Mendapatkan anugerah kehamilan kedua memang sesuatu yang begitu membahagiakan. Namun, ketika Allah mengambil kembali titipan-Nya, sebagai seorang hamba, saya hanya bisa pasrah.

Untuk calon buah hatiku yang selalu kusayang, Allah ternyata lebih sayang dirimu. Untukmu yang pernah singgah, meski sekejap, tetapi selalu kuingat. Kamu udah ada di tempat yang terindah, Nak. Ibu ikhlas melepasmu (Catatan Leannie)

Baru sekali usg, jelang usia 8 week, katanya kantung kehamilan sudah terbentuk dan ada janin kecil di dalamnya. Dokter bilang Kamu sehat-sehat aja, jadi ibumu ini enggak perlu khawatir meski saat itu ada flek.

Dulu pas hamil Dzaky pun keluar flek, tapi istirahat sehari udah enggak keluar lagi. Alhamdulillah sekarang anak saya udah mau lima tahun akhir september tahun ini.
Setelah usg semalam saya pun tenang, katanya kondisi calon bayi saya baik-baik saja, dia sehat kok.

Saya hanya khawatir saja berarti, ya. Itu yang ada di benak saya. Makanya tetap beraktivitas kaya biasa, ngurus anak, nyiapin menu buka dan sahur.

Ternyata saya keliru, selepas subuh habis nyiapin sahur keluar lagi darah yang lumayan banyak, malah kaya menstruasi. Saya udah deg-degan, khawatir kenapa-kenapa. Udah mikir enggak-enggak, sampai nangis-nangis sama suami.

Setelah agak tenang saya coba hubungi temen waktu kerja di stikes yang profesinya bidan atau perawat, mereka belum ada yang ngangkat telepon, bikin saya was-was, kenapa bisa kaya menstruasi, pendarahan di masa kehamilan, kan, bukan kondisi yang wajar.

Akhirnya saya minta suami nelpon bidan yang nanganin kelahiran anak pertama saya, suami bilang kronologis kejadiannya dan saran bidan buat bedrest selama lima hari, baru usg ulang buat memastikannya.

Entahlah berapa lama saya nangis, agak kenceng juga nangisnya. Suami juga kayaknya agak gimana gitu, mungkin enggak enak didenger tetangga. Setelah saya berhenti nangis, dia mendatangi saya dan bilang gini.

"Udahlah, enggak apa-apa, kalau belum rezeki Kita, ya udah mau gimana lagi. Mumpung masih kecil juga janinnya, kalau pun bukan rezeki kita, ya, enggak apa-apa. Sekarang kata Bidan disuruh bedrest aja, Jangan ke mana-mana dulu, Jangan beraktivitas berat dulu. Kamu istirahat aja. Nanti setelah lima hari baru Kita usg lagi." Ucap suami saya sambil menghibur istinya yang baru berhenti nangis.

Mendengar suami bilang begini, saya agak tenang dikit, sih. Meski memang saya udah mikir tentang ancaman keguguran karena pendarahan yang enggak biasa.

Lima hari rasanya begitu terasa, anak saya dititipin ke mama, berhubung rumahnya tetanggaan. Alhamdulillah terasa berkah banget rumah mama deket sama rumahku, jadi kalau ada apa-apa, mudah buat minta bantuan mama. Banyak banget hal baik yang saya rasakan saat setelah nikah, rumahnya berdekatan dengan rumah mama.

Hari demi hari terasa lama banget, bedrest ini bikin enggak tenang, tetep aja saya banyak berpikir ini dan itu. Saya masih agak tenang ketika masih merasakan mual, pusing, itu tandanya saya masih hamil. Itu aja yang ada dalam pikiran saya.

Toh, ternyata ada teman saya juga yang harus bedrest dan akhirnya janinnya terselamatkan. Saya pun berpikir positif seperti ini buat menenangkan hati, hanya tetap saja ketika tahu saya masih pendarahan terus dan enggak berhenti bikin saya agak was-was juga.

Tiba saatnya hari kelima setelah bedrest berakhir. Saya usg ke Rumah Bersalin atau Klinik Handayani yang letaknya di Jalan Gunung Batu, saya pilih tempat ini karena dekat dengan rumah saya.

Saya udah agak deg-degan juga, udah membayangkan kondisi yang enggak pengen saya rasakan. Begitu tiba giliran saya buat masuk dan Usg, saya udah bersiap-siap denger penjelasan dokter kandungan. Udah deg-degan aja dari pas masuk ruangan dokter.

Dokter bilang, ini masih ada kantung kehamilannya, tapi janinnya udah enggak ada. Saya denger ini aja udah berasa shock. Jadinya saat dokter bilang ke saya kalau saya harus dikuret. Saya cuman bengong aja. Udah speechless, enggak tahu harus ngomong apaan.

Meski dokter kandungan bilang kalau kondisi rahim saya masih sehat dan subur, saya masih bisa hamil kembali setelah tiga bulan setelah proses kuret. Saya masih enggak bisa ngomong apa pun. Sambil saya panggil suami biar ngobrol lagi sama dokternya.

Saya sendiri udah enggak bisa fokus. Rasanya lemes banget, saya juga sedih banget dan rasanya dada ini begitu sesak.

Dokter menyarankan saya buat kuret, begitu ditanya BPJS, saya agak sedih karena  BPJS saya udah off sejak dua tahun lalu, kalau pengen diaktifin saya sekeluarga perlu bayar denda sebanyak enam juta rupiah biar BPJS saya, suami dan anak bisa aktif.

Untunglah ada mama saya yang membantu kesulitan saya, mama bilang pakai aja uang mama, alhamdulillah sertifikasi mama udah cair. Memang kalau guru tiap tiga bulan sekali dapet sertifikasi, hanya saja beberapa waktu yang lalu karena pandemi, sempat tertahan dulu sertifikasinya.

Setelah ini saya mau menuliskan pengalaman ketika kuret di RSKIA Kopo atau RSKIA Kota Bandung. Sedih rasanya hati saya ketika suami bilang kangen tangisan bayi dan saat Dzaky, anak pertama saya menanyakan mana dedenya Dzaky?

Meski sedih, saya harus bisa melewati semua ini. Meski enggak mudah, karena kehamilan kedua ini begitu Kami nantikan. Mungkin inilah yang terbaik menurut-Nya untuk saat ini. Kami semua sayang Dede, tapi Allah lebih sayang dirimu. Surga adalah tempatmu kembali, ya, sayang.

Pengalaman Kuret kemarin di RSIA Kopo jadi hal yang takkan terlupakan karena kuretnya dilakukan di tengah pandemi dan jelang lebaran juga. Penuh perjuangan soalnya. Untuk lebih jelasnya lagi, akan saya tuliskan di blog post selanjutnya.

Buat Sahabat Catatan Leannie, saya mau ucapkan Taqobalallahu Minna Wa Minkum, Maaf lahir batin buat semuanya. Selamat Idul fitri 1441 H.



Salam,