![]() |
| Perusahaan EV di Indonesia, via otomotif.kompas.com |
Industri kendaraan listrik (electric vehicle/ EV) memasuki fase kompetisi yang semakin matang di 2026. Setidaknya ada tujuh perusahaan EV di Indonesia yang mencatat lonjakan saham atau menjalankan strategi bisnis baru di 2026. Setelah periode penyesuaian harga dan tekanan margin pada 2024 hingga 2025, sejumlah produsen mulai menunjukkan arah strategi yang lebih jelas; efisiensi biaya, inovasi baterai, serta ekspansi lintas negara.
Bagi investor yang aktif memantau pergerakan saham Amerika, sektor EV kembali menarik karena volatilitasnya membuka peluang capital gain sekaligus risiko tinggi. Berikut ini tujuh perusahaan EV yang mencatat lonjakan saham atau menjalankan strategi bisnis baru di 2026, di antaranya:
1. Rivian Automotive: Reposisi ke Segmen Mass Market
Rivian menjadi salah satu emiten EV dengan sentimen positif di awal 2026. Setelah sebelumnya fokus pada kendaraan premium seperti pickup dan SUV kelas atas, perusahaan kini memperkenalkan lini yang lebih terjangkau melalui proyek R2. Strategi ini bertujuan memperluas target pasar dan meningkatkan volume produksi.
Selain itu, Rivian juga melakukan efisiensi manufaktur dengan menyederhanakan platform kendaraan dan memperbaiki manajemen rantai pasok. Investor melihat langkah ini sebagai upaya memperbaiki margin kotor yang sempat tertekan. Lonjakan saham terjadi karena pasar menilai perusahaan mulai menemukan jalur profitabilitas yang lebih realistis.
2. Tesla: Optimalisasi Biaya dan Ekosistem Energi
Tesla tetap menjadi pemimpin opini di sektor EV global. Pada 2026, strategi perusahaan tidak hanya fokus pada penjualan kendaraan, tetapi juga integrasi ekosistem energi, termasuk baterai penyimpanan dan infrastruktur pengisian daya.
Tesla memperkuat produksi baterai internal untuk menekan biaya dan mengurangi ketergantungan pemasok eksternal. Di sisi lain, pembaruan perangkat lunak berbasis over-the-air (OTA) terus menjadi keunggulan kompetitif. Meski persaingan harga semakin ketat, Tesla mempertahankan positioning sebagai brand teknologi otomotif, bukan sekadar produsen mobil listrik.
3. BYD Company: Integrasi Vertikal dan Ekspansi Ekspor
BYD memanfaatkan kekuatan integrasi vertikal, mulai dari produksi baterai Blade Battery hingga perakitan kendaraan, untuk menjaga struktur biaya tetap kompetitif. Pada 2026, perusahaan memperluas penetrasi pasar Eropa dan Amerika Latin dengan membangun fasilitas perakitan lokal.
Ekspansi ini berdampak pada meningkatnya aktivitas ekspor kendaraan listrik dan komponen dari China ke berbagai negara. Dalam konteks ini, peran forwarder China menjadi krusial bagi distributor internasional yang ingin memastikan pengiriman unit kendaraan, baterai, maupun suku cadang berlangsung efisien dan sesuai regulasi lintas negara. Lonjakan volume ekspor EV China turut memperkuat ekosistem logistik global di sektor otomotif listrik.
4. XPeng: Diferensiasi lewat Teknologi Otonom
XPeng menempatkan dirinya sebagai produsen smart EV. Fokus utama perusahaan di 2026 adalah pengembangan sistem bantuan pengemudi berbasis kecerdasan buatan dan integrasi software yang lebih canggih.
Perusahaan juga memperluas lini SUV dan sedan dengan desain futuristik serta fitur digital yang menyasar konsumen muda. Pendekatan ini membuat XPeng lebih mirip perusahaan teknologi dibanding manufaktur otomotif konvensional. Investor melihat potensi pertumbuhan jangka panjang dari monetisasi software dan layanan berbasis data.
5. NIO: Ekspansi Battery-as-a-Service
NIO tetap konsisten mengembangkan model Battery-as-a-Service (BaaS). Skema ini memungkinkan konsumen membeli mobil tanpa baterai dan berlangganan layanan penukaran baterai di stasiun swap.
Strategi tersebut mengurangi harga awal kendaraan sekaligus menciptakan pendapatan berulang bagi perusahaan. Pada 2026, NIO memperluas jaringan swap station ke beberapa negara baru di Asia dan Eropa, menjadikan model bisnisnya semakin unik dibanding kompetitor.
6. Li Auto: Stabilitas dan Segmentasi Keluarga
Li Auto dikenal dengan pendekatan SUV keluarga yang menekankan kenyamanan dan jarak tempuh optimal. Pada 2026, perusahaan memperluas portofolio ke model EV murni tanpa range extender, mengikuti trend global elektrifikasi penuh.
Pertumbuhan penjualan yang stabil membuat Li Auto dipandang sebagai perusahaan dengan risiko lebih terkontrol dibanding startup EV lain. Fokus pada segmen keluarga kelas menengah memberi diferensiasi yang jelas di pasar domestik China.
7. VinFast: Ambisi Global dari Asia Tenggara
VinFast memperlihatkan ekspansi agresif dengan memperkuat fasilitas produksi di Asia dan Amerika Utara. Strategi 2026 berfokus pada penetrasi pasar negara berkembang serta pengembangan kendaraan listrik dua roda.
Langkah ini menunjukkan bahwa industri EV tidak lagi didominasi Amerika dan China saja. Produsen dari Asia Tenggara mulai menunjukkan daya saing, terutama dengan dukungan kebijakan pemerintah dan insentif industri hijau.
Arah Baru Industri EV: Siapa yang Paling Siap Memimpin?
Tahun 2026 menegaskan bahwa industri EV memasuki babak baru: efisiensi operasional, integrasi teknologi, serta ekspansi global menjadi kunci pertumbuhan. Dari lonjakan saham hingga strategi bisnis inovatif, ketujuh perusahaan di atas mencerminkan arah transformasi industri otomotif listrik dunia.
Dari Rivian hingga Vinfast, itulah 7 Perusahaan EV di Indonesia dengan lonjakan saham atau menjalankan strategi bisnis baru di 2026. Bagi investor maupun pelaku bisnis, memahami dinamika strategi tiap perusahaan menjadi faktor penting dalam membaca peluang jangka panjang di sektor kendaraan listrik yang semakin kompetitif.
Salam,


No comments
Terima kasih atas kunjungannya. Moderasi komentar saya aktifkan, ya. Komentar akan muncul setelah saya setujui. Mohon tidak berkomentar sebagai anonim atau menyertakan link hidup. Link hidup akan saya delete. Maaf jika ada komentar yang belum terbalas.