Showing posts with label Wedding anniversary. Show all posts
Showing posts with label Wedding anniversary. Show all posts

Sewindu Menikah denganmu, Happy 8th Anniversary

wedding anniversary
Sewindu pernikahan,
ilustrasi dari canva.com dan dokpri


September ceria ... September ceria, milik Kita bersama. 7 September, sewindu menikah denganmu, happy 8th anniversary untuk kita. Sudah banyak pelajaran kehidupan selama 8 tahun pernikahan. 

Bukan waktu yang pendek untuk sebuah perjalanan selama berumah tangga, semoga masih dikasih umur dan kesempatan untuk terus bersama dan menemani tumbuh kembang anak hingga dewasa.

Pernah dengar kalau jodoh itu "jorok?" Bukan berarti jorok itu bisa ditemukan di tempat yang kotor, kumal atau nggak bersih, ya? Saya berpendapat kalau jorok di sini artinya berserakan, dalam artian bisa ditemukan di mana pun dan kapan pun. 

Saat berharap jodoh datang, malah nggak datang-datang. Eh, pas udah pasrah, nggak nungguin jodoh dia datang sendiri. Lagunya Afgan yang judulnya "Jodoh Pasti Bertemu" itu memang benar adanya. 

Buat yang belum ketemu jodohnya dan sedang dalam penantian, kadang ada rasa galau ketika jodoh belum tiba atau baper saat lihat pasangan yang 'uwu-uwu,' tenang aja dan nggak usah bersedih. Percaya aja deh kalau setiap manusia itu diciptakan berpasang-pasangan. 

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat kebesaran Allah.’ (Adz-Zaariyat: 49)


Flash Back, Menemukanmu


Saya jadi teringat tepatnya 9 tahun saat pertama kali bertemu denganmu lagi. Jadi flashback di tahun 2014 saat Kita mengikat janji suci. Mengingat kembali moment sakral akad nikah yang terjadi tanggal delapan tahun silam. 

Siapa yang menyangka jodoh saya itu dekat sekali, rumahnya pun masih satu RT alias tetangga. Pertama kali bertemu kembali saat reunian zaman SMU atau awal-awal masuk kuliah, karena saya dan suami itu satu almamater saat SD. 

Dulu, kita sama-sama ikutan Paskibra di SD. Temen-temen saya, kakak kelas, bahkan kakak pembina Paskibra aja nggak nyangka kalau kita berjodoh. 

"Kalau tahu jodohnya deket, kenapa nggak nikah dari dulu aja?" Tanya salah satu tetanggaku.

Dulu ibuku bilang inginnya saya nikah dengan orang yang dekat saja, jangan sama yang jauh. Takut susah ketemu nanti katanya.

Eh, bener aja manjur banget ucapan ibuku, akhirnya saya nikah dengan orang yang rumahnya dekat. Tinggal jalan, nggak sampai lima menit juga udah sampe. Doa orang tua terutama ibu memang mustajab, ya. 

Jodoh itu memang misteri, pernah menargetkan menikah di usia 25 tapi setelah 27 tahun pun belum tahu kapan dan dengan siapa saya menikah.

Entah sudah berapa kali saya ditanya kapan nikah. Hanya saya senyumin saja, soalnya saya juga nggak tahu kapan nikah dan dengan siapa menikah. 

Akhirnya saya berserah dan pasrah saja. Saya menyibukkan diri dengan melanjutkan kuliah dari D3 ke D4 Analis Kesehatan atau sekarang dikenal dengan nama "Ahli Tenaga Laboratorium Medik," atau ATLM.

Teman-teman seumuran saya udah pada nikah duluan, mereka udah pada punya anak satu, dua bahkan tiga anak di usia saya saat itu. Ya sudahlah, saya nggak mau terlalu memikirkan hal itu. Lelah nantinya.

Siapa yang menyangka jodoh saya itu kakak kelas sewaktu SD dan rumahnya juga berdekatan. Cuman memang sejak lulus SD, saya nggak pernah ketemu lagi di SMP, SMU, atau kuliah. 

Zaman masih kerja juga paling ketemu saat lebaran Idulfitri atau Iduladha aja. Ketemunya pas salaman aja. Udah gitu aja, sejak SD juga nggak terlalu dekat paling hanya tahu namanya aja. Memang zaman SD saya juga jarang ngobrol sama dia.

Akhirnya kumenemukanmu ...
Saat hari ini mulai merapuh
Akhirnya kumenemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh  

Pas banget kalau denger lagu "Akhirnya Kumenemukanmu," yang dinyanyikan oleh Naff.  Siapa yang familiar lagu ini? Fix, Kita seangkatan.  Mendengar lagu ini, kok berasa saya banget gitu, loh. 

Akhirnya saya menemukan dia yang kini jadi jodoh saya. Dia yang sekarang jadi suami saya, pertama kali menghubungi lewat SMS. Dulu belum ada WA soalnya. Dia bilang mau datang untuk silaturahmi dan saya mempersilakan dia berkunjung ke rumah. 

Siapa sangka dia datang ke rumah dengan ibunya. Ibunya langsung bilang dong mau melamar saya. Dia bilang akan menikah tahun depan, karena butuh waktu baginya buat mempersiapkan pernikahan. 

Saya hampir nggak percaya sih, jodoh itu datangnya tiba-tiba. Takjub juga dengan jalan dipertemukan dengan jodoh. 

Jujur saja, saya memang agak risau tentang jodoh saat itu. Akhirnya nggak terlalu banyak berharap setelah pengalaman pahit menunggu seseorang dalam waktu lama dan berujung kecewa.

Memang benar kalau berjodoh itu jalannya dipermudah, ya. Nggak pakai galau lagi soal  penantian. Saya menerima lamarannya karena menurut saya dia itu baik dan datang di saat yang tepat. 

Yang terpenting, dia datang memberikan kepastian. Keluarga pun sama-sama saling merestui. Akhirnya saya dan dia menikah tanggal 7 September 2014, delapan tahun lalu.


Memetik hikmah dalam satu dasawarsa pernikahan 


Menuliskan kisah sendiri, flashback cerita saya dan suami setelah delapan tahun pernikahan. Sejujurnya saya merasakan naik turunnya hubungan kami. Sejak setelah menikah, lalu memiliki anak pasti banyak hal yang telah kami lalui bersama. 

Ada bahagia, sedih, tangis, tawa, kesal, jengkel, marah dan akhirnya kami bisa saling menerima satu sama lainnya. Menggenang anniversary kedelapan saya pun banyak bersyukur pada-Nya.

Alhamdulillah, Tuhan masih memberikan waktu dan kesempatan Kami bersama. Berlayar mengarungi samudra kehidupan. Kadang bertemu angin sepoi-sepoi, pernah juga bertemu angin kencang bahkan badai sekalipun.

Bersyukur apapun masalahnya, Kami bisa melewati semuanya bersama. Kebahagiaan yang dilihat orang lain saat ini, mereka belum tahu aja sudah banyak hal yang Kami lewati untuk sampai ke tahap sekarang ini.

Terima kasih Ya Rabb telah mengirimkan dia yang kini jadi suamiku. Keluarga kecil kami semakin lengkap dengan hadirnya buah hati tercinta. 

Satu hal pelajaran kehidupan yang saya ambil dalam berumah tangga adalah "Seni Mengalah." Mengalah bukan berarti kalah, tapi mengalah untuk saling menerima kekurangan pasangan. 

Mau dan bersedia memperbaiki diri tanpa harus menuntut pasangan seperti yang saya inginkan. Belajar untuk berkomunikasi secara positif dan saling memaklumi satu sama lain. Mau saling support dan mendoakan apa yang menjadi harapan masing-masing. 

Menuliskan kisah sendiri cukup melegakan karena menulis itu bisa jadi healing. Senang sekali saya menemukan passion saya di bidang menulis dan menjadi blogger

Seperti halnya teman lifestyle blogger Mba Syntako juga suka jalan-jalan seperti saya. Buat yang mencari rekomendasi tempat wisata dan liburan di Lembang bisa banget berkunjung ke Bandung.

Sewindu menikah denganmu, mengukir kisah Kita bersama. Bertemu dengan jodoh jadi satu cerita yang amazing buat saya. Nah, sharing juga dong, Sahabat Catatan Leannie tentang pengalaman paling berkesan di hidup kalian?




Salam,