Inilah Cara Terbaik Menjalani Pernikahan Versi 9 Perempuan untuk Meraih Bahagia


sumber : Pixabay.com


Pernikahan adalah penyatuan dua jiwa. Menikah berarti menyempurnakan setengah Dien atau agama. Bagaimana cara terbaik menjalani pernikahan?
Sebenarnya pertanyaan ini seperti yang simpel tetapi jawabannya perlu dicari dan digali mendalam.

Saya pernah mengadakan giveaway saat anniversary yang kelima beberapa bulan yang lalu. Menanyakan bagaimana cara terbaik bagi perempuan menjalani pernikahannya. Saya menuliskan ini dengan merangkum dari opini 9 oramg perempuan bagaimana cara mereka dalam menjalani kehidupan pernikahan yang bahagia.

Saya akan bagikan opini para perempuan tentang arti pernikahan buat mereka dan bagaimana cara menjalaninya. Semoga bisa menguatkan ikatan pernikahan dan samawa selalu, ya. Yuk, simak saja apa kata mereka tentang cara terbaik menjalani pernikahan di bawah ini!

1. Kebahagiaan dan keberkahan pernikahan dengan mendekat pada-Nya


Menikah itu sederhananya ketika ada seseorang yang mengajak kita naik perahu bersama, kemudian sama-sama berjanji untuk menikmati setiap perjalanannya, pasang surut ombaknya, gelap cerah langitnya hingga akhirnya sampai ditempat tujuan yg sama pula yakni surga-Nya kelak.

Dengan menikah, besar peluang munculnya masalah- masalah baru namun berarti semakin besar pula peluang untuk mendapatkan ladang pahala yang baru, atau sederhananya saat akad terucap maka sebagai istri kita akan punya pintu surga yang baru.

Maka solusinya saling memahami hak  dan kewajiban masing-masing karena hukumnya timbal balik.

Hak istri = kewajiban suami
Kewajiban istri = hak suami

Ibarat segitiga sama sisi, semakin suami dan istri mendekat kepada Allah maka pernikahan pun akan dekat dengan kebahagiaan, sebaliknya jika suami dan istri jauh dari Allah maka kehidupan rumahtangganya akan jauh dari keberkahan.

Jadi, bagi saya, pasangan bahagia berarti pasangan yang sama-sama berusaha saling membahagiakan satu sama lain. Bukankah sakinah itu harus diperjuangkan?

Pernikahan yang hebat berarti yang dengannya akhirat terasa lebih dekat.

Benar kata penulis Asma Nadia bahwa pernikahan adalah medan ibadah yang paling indah. (Meilawati Nurhani)

2. Menikah adalah proses belajar seumur hidup


Menikah, adalah fase kehidupan sebenarnya di dunia nyata, menurut saya. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, menjalankan pernikahan serasa rumit, jika kita tengah berada pada hati yang sempit. Sebaliknya, akan dirasa mudah, ketika hati ini diberi kelapangan dalam menjalankannya.

Semua asam garam yang kami rasakan dalam sebelas tahun perjalanan berumah tangga, sungguh membutuhkan banyak pengorbanan. Menikah, tidak hanya bagaimana memelihara agar rasa cinta itu tetap ada, melainkan tetap menjalankan komitmen, atas pilihan yang sudah dijatuhkan sebelumnya, tak tanggung-tanggung, seumur hidup lamanya. Bahkan, jikalah boleh meminta, sehidup sesyurga bisa terlaksana.

Faktanya, menjatuhkan pilihan tak sesulit bertahan pada pilihan. Akan banyak pertentangan, yang mengharuskan dua jiwa kembali mencari irisan, agar tetap bisa beriringan.

Menjalankan pernikahan membutuhkan pembelajaran, karena apa? Setiap hari akan selalu ada pelajaran baru yang harus bisa dilalui. Untuk itu, kesabaran kita akan senantiasa dipertanyakan, melalui ujian kehidupan yang datang silih berganti.

Teruslah jaga komitmen dan cinta ini, meski tak semerkah saat dirimu meminang dulu, setidaknya jangan biarkan ia layu.

Bersamamu, saya belajar menjadi wanita dewasa yang lebih baik. (Ai Quratul Ain)

3. Tips pernikahan agar tercipta harmoni dan langgeng


Menikah itu tak hanya berurusan dengan perbedaan. Menikah bisa diibaratkan sebagai jembatan, yakni menjembatani jurang perbedaan antara suami istri.
Menjalani hidup dengan menggenapkan dien (agama) adalah sebuah awal dari menjalani proses kehidupan. Pernikahan akan memberikan banyak manfaat bagi suami dan istri.

Agar terbangun harmoni memasuki usia 15 tahun pernikahan, kami kerap kali menjalankan hal-hal berikut:
a. Saling menerima kelebihan dan kekurangan pasangan.
b. Mengelola emosi
c. Membangun empati
d. Saling bersinergi
e. Saling berbagi peran.
f. Saling instrospeksi diri atau muhasabah
g. Saling mendoakan.

Tujuh hal diatas selalu kami upayakan demi melanggengkan kehidupan rumah tangga dan melabuhkan biduk bersama dalam keluarga. Intinya dengan membangun sikap saling memahami akan sampai pada titik Samara (Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah). (Laily Fitriani)

4. Cinta bukan kata kunci dalam pernikahan, perlakukan pasangan sebagai sahabat.


Sebelum menikah, banyak laki-laki tidak bisa tidur sepanjang malam hanya karena memikirkan kata-kata dari perempuan yang dipujanya. Namun setelah menikah dia akan cepat terlelap, bahkan sebelum istrinya selesai bercerita.

Pertengkaran dalam rumah tangga terjadi bukan karena kurangnya cinta, melainkan karena kurangnya persahabatan. Cinta beresiko berubah menjadi obsesi, tapi persahabatan selamanya tentang berbagi.

"Asyik kan, kalau kita punya pasangan rasa sahabat?"

Ini loh, asyiknya versi saya:
a. Saya tidak pernah malu mendekatinya setelah bangun tidur, meski belum mandi dan gosok gigi. SayaSaya per perasaannya tidak akan berubah, meski aku sedang jelek-jeleknya.
b. Kami bisa betah ngobrol lama, tanpa takut kehabisan bahan bicara.
c. Kami punya lelucon, yang hanya dipahami berdua.
d. Sikap konyol yang kami punya, adalah hal sederhana yang membuat kami selalu saling jatuh cinta.

Apakah menjadikan pasangan sebagai sahabat itu hal mudah? Tentu butuh proses sepanjang hidup, tapi jika kita memiliki perasaan yang bahagia, maka punya pasangan rasa sahabat bisa kita nikmati setiap saat.

Jadi, bahagiakan dulu perasaan kita. Yakinkan, bahwa bahagia itu adalah diri kita sendiri, tidak bergantung pada orang lain. (Dini Lestari)

5. Membahagiakan diri dalam pernikahan


Pernikahan itu harusnya dijalani dengan perasaan bahagia. Dimulai dari memilih seseorang yang memang dirasa sangat tepat untuk menjadi pendamping, lalu menghalalkan hubungan yang didasari komitmen untuk saling menyayangi sampai akhir.

Namun, tidak semua pasangan dipersatukan dalam ikatan pernikahan yang berlandaskan rasa cinta. Ada banyak kasus terjadi, salah satunya, pernikahan terlaksana  dengan alasan dijodohkan. Apa pun sebabnya, saya percaya bahwa jodoh itu memang sudah ditentukan oleh Tuhan.

Sebisa mungkin, menualah bersama pasangan yang sudah digariskan Tuhan menjadi teman hidupmu, sampai maut memisahkan. Selagi pasanganmu itu adalah manusia beragama dan berakhlak baik.

Jadi, cara terbaik menjalani pernikahan versi saya, berusahalah untuk tetap bahagia. Hati yang bahagia selalu menciptakan situasi tenang. Menerima segala kekurangan pasangan dengan lapang dada.

 Jangan malu dan pelit saat meminta dan memberi maaf. Tidak mengkotak-kotakkan antara tugas suami atau istri, bila memungkinkan, lakukan bersama-sama.

Saling jujur dan percaya dalam banyak hal.
Satu poin penting lainnya adalah, jangan terlalu mendengarkan 'mulut orang-orang di sekelilingmu', percayalah ... tak ada yang paling mengerti soal rumah tanggamu selain dirimu sendiri. (Syefrianidar)

6. Menikah berarti jangan egois dan malu untuk mengalah


"Sejatinya, pernikahan itu bukan masalah siapa yang menang, siapa yang kalah. Harus bisa jalan berdampingan, bukan berebut siapa di depan. Jangan sama-sama egois. Jangan malu untuk mengalah."

Selalu ingat, wejangan ibu saat anak bungsunya ini akan masuk ke episode baru kehidupan. Menjadi seorang istri dan akan menjadi ibu nantinya.

Bukan tanpa alasan ibuku sering mengulang hal ini, kalahkan ego.
Delapan tahun sudah kami menikah, dan sampai saat ini, hal ini masih kami lakukan :
a. Mengucapkan maaf dan terimakasih. Hal sepele memang, tapi ini penting bagi pasangan untuk merasa saling menghargai.
b. Bersalaman (mencium punggung tangan suami dan sebaliknya) dan mengecup kening. Ingat rida suami ada di tangannya dan rido istri di keningnya.
c. Obrolan absurd atau becandaan, yang cuma kami berdua yang mengerti.
Ini bukan tentang benar atau salah
Bukan perihal siapa yang harus mengalah. Bukan soal 'saya' atau 'kamu'

Menikah adalah 'kita' yang harus bisa berjalan bersama, dengan tujuan yang sama.

Jadi jika ditanya "Bagaimana cara terbaik menjalani pernikahan?" Jalani saja, jadi dirimu sendiri, hargai pasanganmu jadikan dia teman hidupmu bagian dari dirimu, bukan hanya 'partner berumahtangga'.
(Wulan Dewi)

7. Menikah adalah komitmen dan komunikasi


Menikah muda adalah tantangan tersendiri dalam menjalani pernikahan hingga bertahan sampai detik ini. Bagaimana susah payahnya mengontrol gejolak emosi jiwa muda,sampai menahan diri untuk tidak mudah terbawa perasaan. Yang patut saya syukuri adalah saya mendapati suami yang bisa berperan menjadi teman ,sahabat, bahkan kakak (karena usia suami juga yang cukup jauh diatas saya) sehingga saya bisa melewati semua jalan terjal itu dengan (saya enggak akan pernah bilang mudah,karena memang pada kenyataannya tidak) lancar.

Pernikahan memang tentang bagaimana kita memegang komitmen dan berkomunikasi. Klise? Iya, tapi memang seperti itu tentang bagaimana mempertahankan rasa dan memelihara asa. (Yanti Septrimayanti)

8. Komunikasi adalah kunci sebuah hubungan apalagi pernikahan jarak jauh


Komunikasi ... adalah hal penting paling mendasar yg harus di perkokoh dalam menjalani hubungan pernikahan jarak jauh.

Terlebih di zaman digital ini
Tidak ada alasan untuk tidak saling mengedepankan komunikasi untuk menjaga hubungan tetap harmonis
karena dengan komunikasi kita bisa mereduksi jarak agar kami sebagai keluarga bisa tetap merasa dekat. (Artha Kusumawardhani)

9. Menjaga hubungan selalu harmonis lewat pillow talk


Menjaga hubungan selalu harmonis memang susah tapi alhamdulillah selama hampir 10 tahun saya sama suami akur-akur saja malah tiap hari masih pacaran terus  karena kebiasaan kami itu sebelum tidur kami ngobrol sambil ngopi ngomong keseharian kami udh ngelewati apa aja (pillow talk), tujuan kami supaya saat kita pergi tidur, hati dan pikiran udah lega  dan bisa tidur nyenyak.

Setiap bangun subuh cara membangunkan suami atau kadang suami yang bangunin saya dengan bisikan mesra tujuannya agar pagi kita penuh dengan senyuman. (Siti Aisyah)

Membaca opini dari para perempuan menjadi reminder atau pengingat bagi diri bahwa memang pernikahan adalah proses pembelajaran seumur hidup. Menyempurnakan setengah Dien dan membawa diri juga pasangannya menjadi lebih dekat dengan-Nya.

Itulah cara terbaik menjalani pernikahan versi 9 perempuan untuk meraih kebahagiaan. Semoga sakinah, mawadah, dan warahmah yang menjadi tujuan pernikahan bisa Kita capai setelah membaca pengalaman para perempuan di atas. Aamiin.




Salam,












30 comments

  1. MasyaAllah, keren sekali sharingnya.. Alhamdulillah sebagian besar sudah saya praktekkan bareng suami. Tinggal beberapa nih yang belum.. Semoga kita selalu bersama sampai Jannah bersama pasangan kita.. Aamiin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Sama-sama, Mbak. Saya tulis ini buat pengingat juga.

      Delete
  2. Tahun ini insyaallah usia pernikahan genap 10 tahun, meskipun begitu rasanya kayak masih butuh belajar terus. Masih butuh ilmu dan sharing dari teman-teman. Benar memang, menikah itu proses menyatukan dua kehidupan secara terus menerus. Meskipun udah tiap hari ketemu pun, rasanya harus terus berusaha agar selalu "klik"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, udah mau sepuluh tahun aja, Mbak. Pasti banyak cerita dan lika-liku selama berumah tangga. Sama Mbak, saya juga masih belajar, apalagi usia pernikahan saya baru 5 tahun

      Delete
  3. Keren sekali sharingnya mbak banyak pembelajaran yang didapat untuk terus berjuang mengarungi biduk rumah tangga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Memang menikah itu proses pembelajaran seumur hidup. Moga bermanfaat, ya

      Delete
  4. Pillow talk itu penting banget ya.
    Ah, intinya memang sebelum nikah calon pengantin itu kudu pelatihan nikah dulu, karena meskipun tulisan-tulisan bermanfaat gini banyak berseliweran, hanya ada sedikit pasangan yang mau menerapkannya.

    Sedih deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Penting, soalnya sudah ada yang membuktikannya. Yang nulis itu, hehe ... Berkomunikasi sebelum tidur bisa mengeratkan pasangan.

      Kayaknya memang sebelum nikah suka ada bimbingan pra nikah. Namanya juga pernikahan belajarnya seumur hidup. Untuk bisa sakinah memang penuh perjuangan, kadang harus melepas ego demi kebaikan.

      Praktiknya kan tergantung yang bersangkutan sama pasangannya.

      Delete
  5. Setuju bangett teh, namanya menikah ini ibarat sekolah seumur hidup. Sama seperti menjadi orang tua, tiap hari kita belajar hal yang baru

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bener banget memang. Setiap hari belajar untuk lebih baik dan memahami

      Delete
  6. MasyaAllah menikah itu memang ibadah terlama ya... Kadangkala secara teori kayaknya mudah, tapo kebanyakan org gagal mrnjalankan. Terimakasih sudah diingatkan lagi mb.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Memang perjuangan banget dalam membina bahtera rumah tangga. Iya, sama-sama. Moga bermanfaat

      Delete
  7. Tipsnya sangat bermanfaat Mba. Dalam hubungan apapun komunikasi memang salah satu kunci penting yang harus dipegang ya Mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kalau komunikasi kurang lancar khawatirnya nanti ada masalah baru. Komunikasi itu penting, perempuan dan laki-laki punya persepsi sendiri soalnya.

      Delete
  8. Beneran bagus inih. Makasiy ya teh. Moga saya bisa bahagia dgn pernikahan ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Mbak. Moga pernikahannya berkah dan bahagia, ya.

      Delete
  9. Makasih sharingnya teh, memang nikah itu ibadah seumur hidup, jadi udah pasti harus terus belajar karena ujiannya pun akan terus ada, seneng bgt kalo baca tips2 kaya gini, jadi berasa diingatkan kembali

    ReplyDelete
  10. Wah, reminder ini apalagi buat saya yang sudah menikah hampir 18 tahun.
    Terima kasih sudah diingatkan, Mbak untuk mewujudkan pernikahan bahagia. Semoga Samawa selalu penikahan kita ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Mbak Dian. Wah, udah 18 tahun aja nih pernikahannya. Aamiin, doa yang sama buat Mbak Dian

      Delete
  11. Baca ini jadi adem. Belakangan emang mesti belajar lagi dengan status baru, orang tua. Sayanya belajar, suami juga.

    Ngatur ritme biar tetep seiya sekata. Sekarang PR nya malah pillow talk ini. Sering bnget keskip. Gantinya ya ngobrol pas nggak mau tidur.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang kadang pillow talknya kelewat, ya. It's oke yang penting komunikasi terus terhubung.

      Delete
  12. Ada yg sdh 10, 11, bahkan 15 th. Apakabar sayah yg baru 6 th. Bener masih harus belajar dan saling mengerti. Sharenya keren banget mbak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga baru 5 tahun menuju ke 6 tahun ini. Sama, Mbak. Berasa masih penyesuaian. Makasih, Mbak. Semoga bermanfaat, ya

      Delete
  13. Suka banget dengan uraian 9 poin di atas. Bener ya mba, menikah itu proses belajarnya panjang dan ujiannya pun setiap saat. Ibarat kata seperti universitas kehidupan, yang didalamnya banyak memberikan hikmah dan pembelajaran. ahh,so sweet banget sih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Prosesnya panjang sampai seumur hidup. Ibadah terlama dan untuk menyempurnakan setengah Dien.

      Delete
  14. Point 1 penting bgt ya mba.. karena pernikahan harusnya semakin membuat kita dan pasangan lebih dekat kepada Allah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, Mbak. Memang tujuan utama pernikahan adalah menjadi lebih dekat dengan-Nya. Harus berjuang bersama-sama menjadi lebih baik dan lebih taat.

      Delete

Silakan tinggalkan komentar. Mohon tidak menyertakan link hidup. Terima kasih atas kunjungannya.