Showing posts with label Health. Show all posts
Showing posts with label Health. Show all posts

Hindari Stigma Negatif, Begini Penanganan Kusta saat Pandemi

 

Hindari Stigma Negatif Kusta
Penyakit Kusta, via halodoc.com


Indonesia masih belum bebas kusta, bahkan menjadi negara dengan total kasus kusta terbesar ketiga di dunia setelah Brazil dan India. Penderita kusta banyak mendapatkan stigma negatif dari masyarakat, padahal ada berbagai cara untuk mencegah dan mengobati kusta, terlebih saat pandemi seperti sekarang ini.


Meski sudah ada target Indonesia bebas kusta tahun 2020, namun kenyataanya ada delapan provinsi endemis kusta, diantaranya Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat. Penyebabnya daerah tersebut sulit dijangkau dan masih tertinggal sehingga kesulitan untuk mengakses informasi. 


Selain itu, kusta juga menyerang masyarakat yang tidak mampu dan asupan gizi yang kurang sehingga daya tahan tubuhnya melemah dan mudah terjangkit kusta. Target untuk memberantas kusta di tahun 2020 mendapat tantangan karena pandemi, namun bukan berhenti begitu saja.



Mengenal Kusta


Kusta adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Kusta dapat menyerang kulit,  selaput lendir pada saluran pernapasan atas, sistem saraf perifer, serta mata. Kusta dapat menyebabkan luka pada kulit, kerusakan saraf, melemahnya otot, dan mati rasa.


Kusta atau lepra ditandai dengan rasa lemah atau mati rasa di tungkai dan kaki, lalu diikuti munculnya lesi pada kulit. Kusta atau lepra disebabkan oleh infeksi bakteri yang dapat menyebar lewat percikan ludah atau dahak yang keluar saat batuk atau bersin.


Seseorang dapat tertular kusta jika kontak dengan penderita dalam waktu yang lama. Seseorang tidak akan tertular oleh penyakit kusta karena bersalaman, duduk bersama, atau hubungan seksual. Kusta juga tidak ditularkan dari ibu ke janin yang dikandungnya.


Bakteri ini membutuhkan waktu 6 bulan hingga 40 tahun untuk berkembang di dalam tubuh. Tanda dan gejala kusta bisa saja muncul 1 hingga 20 tahun setelah adanya infeksi bakteri pada tubuh penderita.


Bakteri ini dapat tumbuh pesat pada bagian tubuh yang bersuhu lebih dingin seperti tangan, wajah, kaki, dan lutut. Apabila terlambat diobati bisa menyebabkan cacat tubuh atau disabilitas, seperti jari membengkok, luka, atau bahkan putus, mata tidak menutup dan kaki melemah.



Faktor Risiko Penyakit Kusta


Ada beberapa faktor  risiko yang mengakibatkan seseorang terkena penyakit Kusta, di antaranya:

1. Melakukan kontak fisik dengan hewan penyebar bakteri kusta tanpa memakai sarung tangan

2. Tinggal di daerah endemik kusta

3. Mempunyai kelainan genetik yang berakibat terhadap sistem kekebalan tubuh



Stigma Negatif atau Mitos tentang Kusta


Penyakit Kusta masih ditakuti masyarakat karena dianggap menular dan sulit disembuhkan. Bahkan, orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) terisolir dari dunia luar, padahal penyakit ini bisa dicegah dan diobati jika dilakukan penanganan yang benar.


Ada beberapa stigma negatif atau mitos tentang kusta yang masih dipercayai masyarakat, meski hal tersebut hanya tidak benar. Stigma negatif atau mitos kusta tersebut diantaranya :


1. Kusta adalah sebuah kutukan


Penyakit kusta bukanlah kutukan, karena penyebabnya adalah infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Infeksi bakteri ini ke dalam tubuh melalui permukaan kulit atau lendir saluran pernapasan.


2. Kusta membuat jari kaki dan tangan menghilang


Orang dengan penyakit kusta, biasanya jari tangan dan kaki mereka tidak normal. Hal itu disebabkan infeksi bakteri di bagian jari tangan maupun kaki yang menyebabkan jari tangan maupun kaki menjadi kaku dan akhirnya mati rasa.


3. Kusta mudah menular dan mewabah


Kusta memang bisa menular, tapi penularannya tidak mudah. Jika saat ini seseorang kontak dengan orang yang punya penyakit kusta, 2 sampai 3 tahun bahkan 10 tahun lagi kemungkinan muncul penyakit ini, namun dengan daya tahan tubuh yang kuat, mampu terhindar dari penyakit ini.


4. Kusta tak akan bisa disembuhkan


Kusta bisa disembuhkan meski dalam waktu yang lama dan pengobatan teratur. Biasanya penderita kusta akan mendapatkan antibiotik khusus untuk mematikan bakteri sekitar 6-24 bulan.


5. Penderita kusta harus dikucilkan masyarakat


Dengan berjabat tangan atau melakukan kontak fisik lainnya dengan pemderita kusta, tak akan langsung terkena kusta. Terlebih  jika penderita kusta itu sudah melakukan pengobatan, maka penyakitnya sudah tidak menular.


Orang dengan penyakit kusta  membutuhkan dukungan dari orang-orang sekitarnya saat menjalani pengobatan, bukan untuk dikucilkan 


6. Kusta hanya bisa menyerang lansia


Penyakit ini bisa menyerang siapa saja, meskipun usianya masih muda.  Namun, memang bakteri penyebab kusta memiliki masa inkubasi yang lama, sehingga baru akan menimbulkan penyakit setelah sekian lama. Jadi, kebanyakan baru terdeteksi ketika sudah memasuki usia yang tidak muda.



Ketahui Pencegahan Penyakit Kusta


Lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan? Upaya pencegahan diharapkan bisa menekan penambahan jumlah penderita kusta di Indonesia. Sampai sekarang belum ada vaksin untuk pencegahan kusta. 


Diagnosis dini dan pengobatan yang tepat merupakan cara terbaik untuk mencegah komplikasi dan penularan penyakit meluas. Selain itu, hindari juga kontak dengan hewan pembawa bakteri kusta sebagai upaya untuk mencegah kusta.


Pandemi belum juga usai, tetap jalankan prokes seperti memakai masker, jaga jarak, mencuci tangan dengan air mengalir, sabun atau antiseptik pun ikut menurunkan risiko terkena berbagai penyakit, termasuk kusta.


Masyarakat perlu berperan serta untuk menanggungi kusta. Adanya gerakan terpadu dari pemerintah bertujuan untuk memberi pemahaman tentang penyakit kusta pada masyarakat, terutama di daerah endemik.


Hal ini menjadi langkah penting untuk mendorong para penderita agar memeriksakan diri dan mendapatkan pengobatan. 


Pemberian informasi ini juga diharapkan dapat membuat masyarakat menjadi lebih paham dan berhenti memberi stigma negatif tentang kusta dan diskriminasi terhadap penderita kusta.


Pada tanggal 31 Mei 2021, saya mengikuti Youtube Live di Ruang Publik KBR yang berkolaborasi dengan NLRI tentang "Geliat Pemberantasan Kusta dan Pembangunan Inklusif Disabilitas di Tengah Pandemi."


Talkshow tentang Kusta
Talkshow tentang Kusta,
via dokumentasi pribadi


Tantangan dalam pemberantasan Kusta saat pandemi


Talkshow "Geliat Pemberantasan Kusta dan Pembangunan Inklusif Disabilitas di Tengah Pandemi" ini dibawakan oleh Host Ines Nirmala dan dua orang narsum yaitu Bapak Komarudin, S.Sos,M.Kes dari Wakil Supervisor Kusta Kan Bone dan Bapak DR Rohman Budijanto, SH,MH. dari Direktur Eksekutif The Jawa Post Pro Otonomi JPIP Lembaga  Nirlaba Jawa Pos yang bergerak di bidang otonomi daerah.


Geliat Pemberantasan Kusta
Geliat Pemberantasan Kusta,
 Ruang Publik KBR


Target Indonesia bebas kusta tahun 2020 yang lalu, menjadi tantangan karena ada pandemi Covid-19. Namun, upaya pemberantasan kusta yang mengalami hambatan terkait pandemi ini bukan berarti terhenti.


Ada beberapa program pemerintah yang menjadi target belum terlaksana karena saat pandemi ada larangan untuk pengumpulan masa, meskipun itu untuk penanggulangan penyakit kusta.


Menurut Bapak Komarudin, berdasarkan temuan kasus kusta di Bone pada tahun 2020, jika dibandingkan dengan tahun 2019 terjadi penurunan dari 195 kasus menjadi 140. Terjadi penurunan sebanyak 55 orang atau 28%.


Penurunan karena pandemi ini salah satunya disebabkan pihak dinkes tidak bisa mengadakan kunjungan langsung ke masyarakat karena pandemi. Kemungkinan penemuan kasus pun berkurang.


Upaya deteksi dini penyakit kusta di masyarakat ini mengalami hambatan karena tenaga kesehatan tidak diperbolehkan bertemu masyarakat, terutama di awal pandemi. Namun, program pemberantasan kusta ini harus tetap dilanjutkan dan tak boleh terhenti agar penyebaran penyakit tidak meluas. 


Namun, kini para kader atau bidan desa melakukan pendataan langsung ke masyarat dengan memakai APD dan memperhatikan protokol kesehatan. Selanjutnya ditindaklanjuti pihak puskesmas dengan melakukan pemeriksaan pada pasien di rumah, Balai desa atau di Puskesmas.


Prevelensi kusta di tahun ini selama masa pandemi mengalami penurunan menjadi 1.7 % per 10.000 penduduk. Padahal, sebelum pandemi prevelensi kusta ini tidak pernah lebih dari 2 %. 


Sepanjang sejarah di Kab Bone selama 20 tahun terakhir prevelensi kusta sebesar 2.5 % per 10.000 penduduk. Kemungkinan penemuan kasus berkurang karena pandemi.


Penularan, deteksi awal, dan penanganan penyakit Kusta


Penularan kusta ini mirip Covid-19, yaitu lewat air liur, sputum atau dahak, droplet, tetapi perbedaannya efek Covid-19 dapat menyerang organ dalam sedangkan kusta kondisi fisiknya lebih terlihat sehingga mudah diidentifikasi.


Program kerja Pemerintah Bone untuk pemberantasan kusta ini bekerja sama dengan pihak puskesmas, diantaranya :

1. Pemberian obat kusta Kemoprofilaksis

2. Pemeriksaan penderita kusta secara berkelanjutan

3. Survei atau pemeriksaan anak di sekolah

4. Kampanye tentang eliminasi kusta yang melibatkan kader juga bidan desa.


Deteksi awal gejala kusta biasanya sulit untuk ditemukan, namun saat adanya kelainan kulit, dilakukan pemeriksaan untuk memastikan diagnosis kusta. 


Tidak ada kebiasaan yang bisa menyebabkan kusta tetapi penularan kusta terjadi karena adanya penderita kusta yang tidak atau terlambat berobat yang berpotensi menularkan pada keluarga maupun tetangga. 


Berdasarkan survei, dari 100 orang ternyata 95 % tidak mudah terkena kusta, sedangkan yang 5%, terjangkit kusta. 


Penularan dari penderita kusta tergantung kekebalan tubuh juga. Meski kusta ini penyakit menular, tetapi penderita kusta pun perlu mendapat perhatian dan dukungan. 


Penyakit kusta bisa menyebabkan kecacatan, tetapi hal ini bisa bisa dicegah jika penderita kusta selalu memeriksakan tangan, mata, dan kaki. 


Penderita perlu mengecek apakah ada luka pada tangan, cek juga apakah matanya berkabut atau kaki mengalami mati rasa? Penderita juga perlu secepatnya berobat dan melakukan perawatan diri. 


Jika ada luka pada kaki, perawatannya yaitu merendam dengan air, bersihkan, dioles dan dibalut. Lakukan perawatan ini secara teratur sampai luka bisa sembuh. Perlu juga terus berobat dan dilakukan monitoring untuk memantau kesehatan pasien.


Solusi yang dilakukan pemerintah Bone dalam rangka pemberantasan kusta yaitu dengan mengadakan penyuluhan di desa maupun sekolah. Selain itu mengajak masyarakat untuk melakukan protokol kesehatan sesuai kondisi sekarang yang belum bebas dari pandemi.



Kesetaraan disabilitas dalam bekerja dan berkarya


Talkshow tentang Kusta
Kesetaraan disabilitas dalam Jawa Post,
Ruang Publik KBR


Dalam Talkshow tentang "Geliat Pemberantasan Kusta dan Pembangunan Inklusif Disabilitas di Tengah Pandemi" Bapak DR Rohman Budijanto, SH,MH. dari Direktur Eksekutif The Jawa Post Pro Otonomi JPIP Lembaga  Nirlaba Jawa Pos yang bergerak di bidang otonomi daerah berbicara tentang isu inklusifitas tidak boleh diabaikan.


Dalam ruang intrinsik Jawa Post, isu inklusifitas ini memang tidak pernah secara spesifik dikampanyekan, namun pihak Jawa Pos sendiri tak pernah melakukan diskriminasi atau membeda-bedakan saat rekruitmen atau penerimaan kerja.


Pihak Jawa Post memberi ruang untuk bekerja dan berkarya. Jawa Post mempekerjakan difabel yang mengalami bibir sumbing menjadi editor yang kompeten, ada juga layouter yang kakinya cacat, alih bahasa yang badannya cebol. Semua itu bukan halangan bagi difabel untuk bekerja selama mereka memiliki kompetensi yang baik.


Stigma buruk bagi penderita kusta juga perlu diperbaiki. Sekecil apapun jumlah penderita kusta mereka tetap warga negara Indonesia yang berhak mendapatkan pengobatan, perhatian, bukan untuk dikucilkan. 


Mereka bisa diajarkan berbagai keterampilan agar bisa tetap semangat untuk sembuh dan menjalani hidup lebih baik. Selain itu mereka juga bisa diajarkan untuk berbisnis online agar tidak khawatir bertemu dengan orang lain secara langsung.


Mari peduli terhadap kusta dengan hindari stigma negatif tentang mereka. Kusta juga bisa dicegah, diobati dan berpotensi untuk sembuh. Harapan Kita semua, semoga nantinya Indonesia akan benar-benar bebas dari kusta.




Salam,




Jangan Anggap Tabu, Ini Pentingnya Edukasi Manajemen Kebersihan Menstruasi

 

Manajemen Kebersihan Menstruasi
Pentingnya edukasi Manajemen Kebersihan Menstruasi, via freepik.com


Berbicara masalah menstruasi, terkadang masih dianggap tabu oleh masyarakat. Padahal edukasi tentang managemen kebersihan saat menstruasi itu penting. Nah, dalam rangka menyambut Hari Kebersihan Menstruasi tanggal 28 Mei 2021 diselenggarakan webinar "Sehat dan Bersih saat Menstruasi."


Ternyata ada sejarah di balik penentuan tanggal 28 Mei sebagai Hari Kesehatan Menstruasi. Jujur saja, saya juga baru tahu kalau tanggal 28 itu berasal dari siklus rata-rata menstruasi perempuan dan angka 5 dari lamanya menstruasi seorang perempuan rata-rata selama lima hari tiap bulannya.


Hari Kebersihan Menstruasi diperingati setiap tanggal 28 Mei bertujuan meningkatkan kesadaran perempuan akan pentingnya manajemen kebersihan menstruasi, mematahkan stigma dan norma sosial negatif tentang menstruasi yang masih dianggap tabu oleh masyarakat. Peringatan ini adalah aksi tahunan yang melibatkan berbagai pihak, baik pemerintah, organisasi, pihak swasta dan masyarakat luas.


Webinar Sehat dan Bersih saat Menstruasi
Webinar Sehat dan Bersih saat Menstruasi,
via dokumentasi webinar


Webinar yang berjudul Sehat dan Bersih Saat Menstruasi ini dipandu oleh Novita Angie sebagai host dan narsum yaitu Prof. Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, Sp.OG(K), MPH dari Perkumpulan Obstetri & Ginekologi Indonesia (POGI), ada juga dr. Dwi Oktavia Handayani, M. Epid-Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia yaitu Anna Surti serta Mada Shinta Dewi dan Adi Prabowo dari Mundipharma Indonesia. Webinar ini bertujuan untuk mengedukasi perempuan tentang pentingnya manajemen kebersihan menstruasi.



Tentang Menstruasi 


Menstruasi
Tentang Menstruasi,
via freepik.com


Pembahasan tentang menstruasi ini dipaparkan secara lengkap oleh Prof. Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, Sp.OG(K), MPH dari Perkumpulan Obstetri & Ginekologi Indonesia (POGI), dan dr. Dwi Oktavia Handayani, M. Epid-Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.


Menstruasi adalah kondisi normal yang dialami oleh perempuan yang ditandai keluarnya darah dari organ intim selama 3-7 hari tiap bulan, selama satu periode rata-rata 28 hari atau 21-35 hari. Hal ini menjadi pertanda bahwa perempuan siap untuk reproduksi atau memiliki anak karena menstruasi diawali dengan sel telur matang yang siap dibuahi.


Darah yang keluar sebenarnya adalah lapisan dalam rongga rahim yang dipersiapkan untuk tempat menempelnya sel telur yang telah dibuahi, kemudian berkembang menjadi janin.


Menstruasi adalah proses biologis normal yang dialami perempuan. Setiap anak perempuan idealnya harus mendapat informasi tentang menstruasi sebelum mengalami menarke atau menstruasi untuk pertama kalinya. 


Pengetahuan tentang menstruasi ini sangat penting supaya anak perempuan bisa menjaga kebersihan dan kesehatan organ intim kewanitaan selama periode menstruasi, serta tetap beraktivitas dengan nyaman. 



Data dan fakta mengenai kebersihan menstruasi


Data manajemen kebersihan menstruasi
Data tentang manajemen kebersihan menstruasi, via dokumentasi webinar


Kesadaran perempuan di Indonesia mengenai pentingnya manajemen kebersihan menstruasi masih sangat rendah. Ironisnya lagi, seorang ibu ternyata menjadi sumber stigma, mitos, kepercayaan dan miskonsepsi yang merugikan kesehatan perempuan.


Data menunjukkan bahwa hanya 5 dari 10 anak perempuan yang tahu apa yang harus dilakukan saat menarke, hanya 6 dari 10 anak yang bertanya mengenai menstruasi pada ibunya, hanya 5 dari 10 anak perempuan yang mengganti pembalut setiap 4-8 jam saat menstruasi, sisanya hanya mengganti pembalut 2 kali sehari, dan hanya 5 dari 10 anak perempuan yang mencuci tangannya sebelum dan sesudah mengganti pembalut saat menstruasi.



Apa itu Manajemen Kebersihan Menstruasi?


manajemen kebersihan menstruasi
Manajemen kebersihan menstruasi,
via freepik


Manajemen Kebersihan Menstruasi adalah pengelolaan kebersihan dan kesehatan saat seorang perempuan mengalami menstruasi.


Perempuan juga harus menggunakan pembalut yang bersih dan diganti sesering mungkin selama menstruasi.


Perempuan memiliki akses pembuangannya, dapat mengakses toilet, sabun, dan air untuk membersihkan diri dengan nyaman dengan privasi terjaga.


Manfaat pentingnya edukasi Manajemen Kebersihan Menstruasi, diantaranya:


1. Menjaga kebersihan ekstra pada saat menstruasi


2. Mengetahui kondisi kesehatan akibat manajemen kebersihan menstruasi yang buruk


3. Mengetahui cara mencegah kanker serviks, infeksi vaginal, dan juga ketidaknyamanan seperti gatal, bau tak sedap dan keputihan karena manajemen kebersihan menstruasi yang buruk.


4. Mengetahui cara membersihkan area kewanitaan yang dilakukan sehari-hari atau pada saat menstruasi.


Edukasi yang dilakukan pemerintah mengenai manajemen kebersihan menstruasi atau MKM, diantaranya melalui Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) bagi anak usia sekolah dan remaja. Selain itu, mendorong masyarakat agar aktif mencari informasi kesehatan yang tepat, termasuk mengenai MKM kepada tenaga kesehatan terdekat.



Masalah kesehatan dan cara merawat kebersihan saat menstruasi


masalah saat menstruasi
Masalah saat menstruasi, via freepik


Masalah kesehatan yang terjadi karena manajemen kebersihan menstruasi yang buruk diantaranya infeksi saluran reproduksi, infeksi saluran kemih, infeksi jamur, dan peningkatan risiko kanker serviks.


Saat menstruasi, risiko infeksi meningkat karena bertambahnya jumlah bakteri buruk di vagina, akibat turunnya tingkat keasaman vagina karena adanya darah haid sehingga rentan terkena infeksi.


Masalah seperti keputihan, gatal, bau tidak sedap, peradangan, hingga penyakit serius seperti kanker serviks dapat dicegah dengan perawatan area kewanitaan yang bisa dilakukan sehari-hari, tak hanya pada saat menstruasi saja. Apabila merasakan gejala yang tidak normal saat menstruasi, maka dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter.


Oleh karena itu, perempuan perlu mengetahui pentingnya penerapan manajemen kebersihan menstruasi yaitu membersihkan vagina secara benar baik dengan air bersih mengalir bisa juga dengan cairan pembersih antiseptik wanita yang sesuai dengan pH vagina dan dapat digunakan saat menstruasi. 


Perhatikan juga penggunaan pembalut bersih dan dapat menyerap darah dengan baik. Jangan lupa mengganti pembalut secara teratur minimal setiap 4 jam sekali.


Merawat area kewanitaan terhitung mudah, yaitu membasuh vagina dengan air mengalir setelah buang air kecil dan besar, jangan membersihkan area kewanitaan dengan sabun mandi, tetapi gunakan pembersih kewanitaan yang sesuai dengan pH vagina dan mendukung flora normal, gunakan tisu berbahan lembut untuk mengeringkan miss v, jangan lupa mencuci tangan sebelum dan sesudah membersihkan area kewanitaan, perhatikan penggunaan celana dalam berbahan katun, serta mengganti celana dalam saat terasa lembab atau basah. 


Bagi perempuan yang sudah melakukan kontak seksual disarankan untuk melakukan pemeriksaan pap smear atau IVA secara teratur.



Jangan anggap tabu bicara tentang menstruasi

Bicara menstruasi, jangan anggap tabu
Bicara tentang menstruasi, via pexels


Saya jadi teringat mengalami menstruasi pertama kalinya saat SMP, saya engga kaget lagi ketika menarke, berbeda dengan teman saya yang sampai masuk UKS karena pingsan ketika menstruasi pertama kalinya. Makanya penting sekali bicara menstruasi pada anak perempuan sejak dini sebelum mereka mengalami menstruasi. Jangan anggap tabu soal menstruasi dan kesehatan reproduksi.


Dalam webinar Sehat dan Bersih saat Menstruasi Anna Surti dari Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia memaparkan tentang "Ibu Bicara Menstruasi." Ternyata anak perempuan yang tak pernah berbicara tentang menstruasi pada ibunya biasanya akan merasa takut, malu dan bingung saat menarke. Padahal, banyak manfaat yang didapat saat seorang ibu meluangkan waktu untuk bicara menstruasi dengan putrinya, seperti kesehatan reproduksi yang lebih baik serta kedekatan ibu dan anak. 


Faktanya, tidak sedikit anak perempuan yang mencari informasi sendiri tentang menstruasi dari teman atau internet, dan mendapatkan info yang tidak benar, padahal peran ibu sangatlah penting sebagai pemberi informasi bagi putrinya. Oleh sebab itu, ibu juga perlu membekali diri dengan pengetahuan tentang cara membicarakan menstruasi pada anaknya sejak dini.


Ada 7 tips untuk membicarakan menstruasi dengan anak, diantaranya : 


1. Sosok ibu adalah seseorang yang diharapkan anak untuk membicarakan menstruasi, jadi bekali diri dengan informasi yang benar karena banyak beredar mitos seputar menstruasi.


2. Membuang pemikiran bahwa bicara tentang menstruasi itu tabu, karena hal ini penting untuk dilakukan.


 3. Jangan berpikir bahwa pembahasa tentang menstruasi ini bisa dibicarakan satu kali saja, tetapi lakukan berulang kali secara bertahap.


 4. Bersikap positif karena isu tentang menstruasi bisa menjadi hal yang sensitif buat anak perempuan


5. Lebih baik banyak berdiskusi dan mendengarkan, daripada langsung menceramahi anak


6. Jelaskan secara kongkrit dengan gambar dan benda yang digunakan, contohnya penggunaan pembalut saat menstruasi


7. Jelaskan pula kepada anak laki-laki, supaya mereka dapat menghormati perempuan yang sedang menstruasi dan tidak melakukan bullying pada perempuan saat menstruasi.




Sehat dan bersih dengan Rangkaian Produk Betadine


Betadine Feminine Care
Betadine Feminine Care


Mundipharma Indonesia berkomitmen memperbaiki kualitas hidup masyarakat Indonesia, terutama perempuan dalam menjaga kebersihan dan kesehatan area kewanitaannya. Sejak tahun 2017 Mundipharma Indonesia berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan RI dan POGI menyelenggarakan program edukasi mengenai kebersihan menstruasi, serta membagikan Buku Saku ‘Sehat dan Bersih Saat Menstruasi’ kepada lebih dari 1,000,000 perempuan Indonesia. 


Melalui kegiatan edukasi tersebut, harapannya perempuan Indonesia paham mengenai cara menjaga kebersihan dan kesehatan area kewanitaan sedini mungkin, serta bisa beraktivitas dengan nyaman selama menstruasi.


Mundipharma Indonesia melalui Betadine Feminine Care melakukan kampanye edukatif #YangIdeal untuk mengajak perempuan Indonesia mengetahui dan mengerti cara yang ideal dan tepat menjaga kebersihan dan kesehatan area kewanitaan, salah satunya dengan menggunakan pembersih khusus area kewanitaan yang ideal dan sesuai untuk kebutuhan sehari–hari, saat menstruasi, dan saat terjadi infeksi di organ kewanitaan.


Dalam hal ini Betadine Feminine Care menyediakan rangkaian produk area kewanitaan yang lengkap dan berkualitas tinggi.


Betadine Feminine Care merupakan rangkaian lengkap untuk mendukung kebersihan dan kesehatan area kewanitaan, mulai dari sehari–hari, menstruasi dan juga infeksi area kewanitaan. 


Untuk sehari–hari, Betadine Feminine Wash dilengkapi dengan Prebiotik yang merupakan makanan dari bakteri baik dan memberikan perlindungan alami sehari–hari. 


Untuk infeksi di area kewanitaan, Betadine Feminine Hygiene dengan Povidone–Iodine yang memiliki spektrum luas dan terbukti mengatasi keputihan berlebih, gatal, bau tak sedap dan iritasi ringan yang kerap terjadi saat menstruasi. 


Ada juga tisu basah pembersih kewanitaan dengan prebiotik yang 100% biodegradable atau flushable


Mencegah lebih baik daripada mengobati. Jangan lupa untuk menjaga kebersihan area kewanitaan dengan serangkaian produk Betadine. Semua produk Betadine ini bisa didapatkan di marketplace ini  https://shopee.co.id/betadineofficial atau https://www.tokopedia.com/betadineofficial?source=universe&st=product.


Jangan anggap tabu bicara tentang menstruasi, oleh karena itu edukasi dan pemahaman pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan saat menstruasi pada perempuan bisa terus ditingkatkan. Yuk, praktikkan manajemen kesehatan menstruasi!



Salam,









Vaksinasi pada Dewasa, Seberapa Efektif dilakukan saat Pandemi?

Vaksin dewasa
Vaksin pada dewasa, 
Pexels.com/Gustavo.Fring


Pandemi Covid-19 belum berlalu, beberapa waktu yang lalu saya dan keluarga memilih melakuan vaksinasi influenza sebagai upaya preventif dan menjaga kesehatan keluarga. Seberapa efektif sebenarnya pemberian vaksin pada dewasa?


Melihat pemberitaan di televisi, mengenai update kasus COVID-19 di Indonesia yang tiap hari masih meningkat, tetapi sayangnya banyak masyarakat di lingkungan saya yang sudah merasa jenuh, hingga abai dengan protokol kesehatan.


Kita enggak boleh mengabaikan pandemi ini, vaksinasi merupakan salah satu upaya untuk mencegah dan meningkatkan daya tahan tubuh keluarga.



Apa itu Vaksinasi?

Vaksin
Vaksin, via freepik.com


Vaksinasi merupakan proses
penyuntikan mikroorganisme penyebab suatu penyakit yang telah dilemahkan atau dibunuh ke dalam tubuh untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh.


Anggapan bahwa pemberian vaksinasi hanya dibutuhkan oleh bayi atau anak tidak sepenuhnya benar karena ternyata orang dewasa perlu untuk mendapatkan vaksin.


Ternyata orang dewasa pun perlu untuk suntik vaksin ulangan tiap periode tertentu. Dengan adanya vaksinasi, tak hanya terlindung dari penyakit tetapi mencegah penyebarannya meluas.


Di Indonesia, ada lima jenis vaksin yang wajib dilakukan, yaitu hepatitis B, BCG, Polio, MR, dan DTP.  Jika belum pernah vaksin saat masih kecil, maka saat dewasa harus menerima vaksin yang dijelaskan di atas.



Rekomendasi vaksinasi pada dewasa

Vaksin dewasa
Vaksin dewasa, via freepik.com


Selain vaksinasi wajib di atas, ada beberapa jenis vaksin yang dianjurkan untuk dewasa diantaranya Vaksin Influenza, Vaksin Pneumococcus,Vaksin Hepatitis A dan B, Vaksin Meningitis, Vaksin Difteri, Vaksin Tetanus, Vaksin Herpes Zooster, Vaksin HPV, Vaksin Varricela atau Cacar Air, Vaksin Meningitis.


Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan saat orang dewasa akan melakukan vaksinasi seperti riwayat pemberian vaksin saat kecil, apakah sudah memperoleh imunasasi yang lengkap?


Selain itu, ada perbedaan waktu pemberian vaksin pada dewasa dan tentunya dosis, kandungan atau komponen vaksin dewasa ini berbeda dengan vaksin anak.


Pemberian vaksin pada orang dewasa perlu memperhatikan kondisi medis tertentu, seperti saat hamil, penderita jantung, diabetes, stroke, infeksi HIV dan kondisi lain yang memerlukan perhatian lebih menerima vaksin. Perlu ada konsultasi dengan ahli terkait kondisi pasien saat akan melakukan vaksinasi.


Saat pandemi seperti sekarang ini, ada 3 jenis vaksin dewasa yang dianjurkan yaitu Vaksin Influenza, Vaksin Pneumococcus, dan Vaksin Meningitis.

Ketiganya perlu dilakukan karena  menjadi penyakit serius yang terkadang  diabaikan karena dinilai sepele atau gejala yang terjadi tidak cukup familiar.



Seberapa efektif vaksinasi dewasa saat pendemi?

Vaksinasi
Vaksinasi saat pandemi,
via freepik.com


Keadaan pandemi ini membuat orang lebih aware untuk waspada, menjaga daya tahan tubuh sebagai upaya pencegahan agar tidak tertular Covid-19.


Baca juga :  Berbeda dari Flu Biasa, Inilah Pandemi Covid-19 yang Menyita Perhatian Dunia


Salah satu vaksin yang penting dilakukan adalah vaksin influenza, yang dianjurkan setahun sekali, namun kadang banyak yang menganggap sepele penyakit flu ini.


Sebaiknya saat melakukan vaksinasi, pastikan kondisi tubuh sedang fit dan sehat,  tidak sedang demam dan flu agar antibodi yang terbentuk lebih maksimal dan dapat memperkuat kekebalan tubuh.


Baca juga : 7 Tips Jitu Meningkatkan Sistem Imun untuk Menangkan Virus Corona


Pemberian vaksin dewasa merupakan investasi bagi tubuh agar tidak mudah sakit dan tidak menimbulkan gejala yang parah atau komplikasi yang berlebihan.


Halodoc hadir untuk masyarakat, memberikan kemudahan mengakses layanan kesehatan dan memberi rasa aman terutama saat pandemi seperti sekarang ini. Aplikasi Halodoc ini terdiri dari fitur-fitur seperti layanan konsultasi dengan dokter, seperti chat, panggilan suara, juga video dengan dokter selama 24 jam.


Halodoc
Aplikasi Halodoc,
via dokumentasi pribadi


Selain itu, Halodoc melayani pembelian obat-obatan, kunjungan ke RS, cek lab juga. Masyarakat bisa mengakses berbagai informasi kesehatan terupdate lewat aplikasi ini.


Dengan demikian, vaksinasi pada dewasa cukup efektif dilakukan saat ini,  sebagai upaya preventif dan mencegah penularan penyakit meluas. Jadi, enggak usah ragu lagi, ya, untuk melakukan vaksinasi dan jangan lupa mengakses Halodoc untuk kemudahan mengakses layanan kesehatan.



Salam,







Depresi pada Perempuan, Kenali Gejala, Penyebab dan Cara Mengatasinya

Depresi pada perempuan
Depresi pada perempuan,
Pexels.com/Duong Nhan

Sebenarnya depresi bisa terjadi pada siapa saja, baik laki-laki atau perempuan. Namun, risiko terkena depresi ternyata dua kali lebih besar terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Kita perlu mewaspadai bahaya depresi, oleh karena  itu penting untuk mengetahui gejala, penyebab dan cara mengatasinya.

Depresi pada perempuan bisa terjadi lebih awal, lebih lama waktunya dan mungkin bisa terjadi kembali dibandingkan pada laki-laki. Hal ini disebabkan karena wanita  lebih perasa dan sering mengalami perubahan hormon.

Depresi berat bisa sangat berbahaya, loh, bahkan bisa berujung kematian. Oleh sebab itu penting sekali untuk mengenali gejala depresi sejak awal dan melakukan cara untuk menangani kasus depresi ini.


Apa itu Depresi?


Depresi merupakan gangguan suasana hati dan mood yang disertai perasaan sedih mendalam, berkepanjangan, dan ada rasa tak peduli.

Depresi bisa terjadi pada seseorang jika setelah dua minggu, ia merasa sedih, putus harapan, atau tidak berharga.

Kondisi ini bisa menyebabkan efek yang lebih buruk pada penderitanya, yaitu produktivitas kerja menurun, hubungan sosial terganggu, hingga keinginan untuk bunuh diri.

Stress atau perasaan tertekan sering kali bisa memicu depresi, tetapi bisa saja terjadi depresi tanpa didahului stress. Keduanya adalah dua hal yang berbeda.

Stress terjadi pada seseorang yang merasa tertekan karena berbagai faktor, baik dari luar maupun dari dalam dirinya dan telah berlangsung sejak lama.

Berbeda dengan stres, depresi adalah sebuah penyakit mental yang berdampak buruk terhadap suasana hati, perasaan, selera makan, pola tidur, stamina, dan tingkat konsentrasi seseorang yang mengalami depresi.

Ternyata siapa pun bisa terkena depresi, terutama jika ada riwayat dalam keluarga terdekat yang pernah mengalami kondisi ini.

Berdasarkan penelitian, wanita lebih berisiko terkena depresi daripada pria, hal ini  disebabkan karena wanita  lebih perasa dan sering mengalami perubahan hormon, contohnya saat keadaan hamil atau menstruasi.


Gejala Depresi


Seseorang yang terkena depresi dapat diketahui dari ciri-ciri fisik dan psikologi penderitanya.

Tanda atau gejala depresi ini bisa lebih rumit dari stress, muncul secara bertahap, sehingga agak sulit untuk mengetahui kapan pertama kali mengalami depresi. 

Nah, di bawah ini merupakan berbagai gejala depresi yang biasanya terjadi:

a. Menarik diri dari lingkungan sosial dan keluarga

b. Merasa sedih seolah-olah tidak ada harapan lagi

c. Hilang semangat, motivasi, energi, dan stamina

d. Sulit mengambil keputusan

e. Makan lebih sedikit atau lebih banyak dari biasanya

f. Tidur lebih sebentar atau lama dari biasanya

g. Sulit berkonsentrasi

h. Sulit mengingat-ingat

i. Merasa bersalah, gagal, dan sendirian

j. Berpikiran negatif secara terus-menerus

k. Mudah kecewa, marah, dan tersinggung

l. Sulit menjalani kegiatan sehari-hari

m. Hilang minat pada hal-hal yang biasanya dinikmati

n. Adanya pikiran untuk bunuh diri


Ternyata gejala depresi terberat adalah ingin menyudahi hidup dengan kematian dan bagi penderita depresi, bunuh diri adalah solusinya.

Seperti kasus kematian seorang artis Bollywood yang pernah saya tulis sebelumnya tentang Pratuysha Banerjee
Kematian Pratyusha Banerjee dikaitkan dengan stress berat yang berlanjut ke tahap depresi hingga menyebabkan sang artis bunuh diri.

Permasalahan hidup yang menderanya selama ini membuat jiwa artis Bollywood ini tertekan. Oleh sebab itu, Kita perlu mewaspadai stress yang bisa berujung depresi.


Penyebab Depresi


Depresi ini ternyata lebih sering terjadi pada dewasa. Penyebabnya bermacam-macam, ada yang berhubungan dengan hormon, faktor genetik dan zat kimia yang ada di otak.

Ada beberapa faktor risiko yang dapat memicu terjadinya depresi, diantaranya:


1. Mengalami kejadian traumatis


Seseorang yang mengalami kejadian traumatis  dapat memicu terjadinya depresi contohnya adalah korban kekerasan atau penyiksaan fisik,  pelecehan, kematian orang terdekat, masalah dalam hubungan baik pernikahan, persahabatan, keluarga, percintaan, atau dengan rekan kerja, serta kesulitan ekonomi.

2. Memiliki penyakit kronis atau serius


Seorang pasien dengan penyakit kronis atau serius  seperti kanker, stroke, atau HIV/AIDS bisa memicu terjadinya depresi. Keadaan pasien yang mengalami sakit bisa melemahkan jiwanya juga sehingga rentan terkena depresi.

3. Memiliki kepribadian tertentu


 Seseorang yang memiliki kepribadian tertentu, contohnya merasa rendah diri, terlalu keras dalam menilai diri sendiri, pesimis, atau terlalu bergantung kepada orang lain bisa menjadi salah satu penyebab depresi.

4. Ketergantungan alkohol dan narkoba


Ketergantungan alkohol dan narkoba ternyata bisa memicu atau  memperparah depresi. Kedua hal ini tak bukanlah bukan cara untuk melarikan diri dari masalah, tapi bisa menyebabkan kecanduan dan over dosis sebagai dampak buruk lainnya.

5. Konsumsi obat tertentu


Ternyata beberapa jenis obat dapat meningkatkan risiko depresi. Contohnya obat tidur, pemenang dan obat untuk hipertensi. Obat-obatan ini dapat menyebabkan kecanduan bagi penderitanya.

6. Memiliki riwayat ganguan mental lain


Seseorang yang memiliki gangguan mental lain, contohnya gangguan kecemasan atau gangguan makan punya risiko lebih berisiko mengalami depresi. Contohnya: gangguan kecemasan atau gangguan makan.



Cara Mengatasi Depresi dengan Pencegahan dan Pengobatan yang tepat


Adanya slogan yang mengatakan mencegah lebih baik dari mengobati adalah hal yang tepat. Pencegahan depresi bisa dilakukan  dengan menjalankan pola hidup sehat untuk mencegah terjadinya depresi dan agar kondisinya tidak bertambah berat.

Seperti dilansir aldodokter.com tanggal 11 Maret 2019, ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk mencegah depresi yaitu:

a. Lakukan  relaksasi untuk mengatasi stres, misalnya yoga atau pilates

b. Waktu tidur yang cukup, minimal 8 jam per hari

c. Tidak mengkonsumsi alkohol

d. Olahraga secara teratur

e. Bersilaturahmi dengan berkunjung pada  keluarga atau teman di  waktu senggang

f. Batasi penggunaan sosial media

g. Lakukan pengobatan terhadap penyakit kronis yang dapat menyebabkan  depresi

h. Jauhi orang yang berpengaruh buruk

i. Laporkan pada pihak berwenang jika mengalami kekerasan atau penyiksaan secara fisik atau psikis.

j. Konsultasi dengan psikiater jika mulai merasa khawatir terus menerus dan sedih yang berkepanjangan.


Bagi saya, menulis juga bisa menjadi sebuah terapi, kadang yang saya rasakan seperti itu. Ada hal yang enggak bisa diungkapkan pada orang lain, enggak bisa dipublish di media sosial karena bersifat privasi, bisa saya tumpahkan ke dalam tulisan.

Memang lebih seperti diary yang khusus untuk saya tulis dan baca sendiri. Ini bisa melegakan hati. Kadang saya pun merasa lega setelah bermunajat pada-Nya. Curhat sama yang Maha Kuasa dan Maha segala-galanya 


Pengobatan Depresi


Jika mengetahui tanda dan gejala depresi, maka harus cepat mengambil tindakan, karena depresi bisa disembuhkan dengan penanganan yang tepat.

Perlu ada bantuan konseling dengan psikolog atau psikiater. Kemungkinan akan ada rujukan untuk menjalani berbagai terapi seperti psikoterapi atau tetapi kognitif perilaku.

Psikiater juga akan memberikan obat anti depresan untuk meredakan depresi. Obat anti depresan memerlukan waktu sekitar dua hingga empat minggu untuk bekerja dan meredakan gejala penderita depresi.

Konsumsi obat juga membutuhkan waktu yang lama, yaitu sekitar enam bulan hingga satu tahun lamanya. Pemberhentian obat harus berdasarkan anjuran dari psikiater.

Selain metode di atas penggunaan obat-obatan anti depresan atau terapi kejut listrik bahkan stimulasi magnetik.
Metode ini disesuaikan kondisi pasien.

Penderita depresi butuh dukungan pihak terdekat, terutama keluarga atau orang yang dekat dengannya. Ceritakan dengan jujur kondisi  sebenarnya pada mereka agar mereka bisa memberi dukungan dan membantu penderita agar bisa sembuh dengan cepat.

Depresi bisa berdampak buruk untuk kesehatan bisa menyebabkan penyakit hati dan gagal jantung. Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa penderita depresi memiliki kemungkinan 58% lebih banyak terserang obesitas karena perubahan pola makan yang drastis dan jarang berolahraga. 

Depresi di usia muda bisa menurunkan kemampuan otak dan meningkatkan risiko Alzheimer serta stroke jika tidak ditangani dengan serius.

Memang sebagai perempuan, yang saya rasakan memang ada beberapa tuntutan tentang banyak hal selepas menikah dan punya anak, kadang bisa bikin stress juga. Tetap tenang, jangan panik, seperti yang dilakukan teman saya, Mbak Siska Dwyta yang punya pengalaman mengatasi Otitis Media

Support system memang penting juga menurut saya. Hanya saja kadang yang diharapkan bisa memberi dukungan tak pernah ada untuk seseorang yang mengalami depresi, hal ini bisa menyebabkan tingkat depresi seseorang makin parah dan berujung keinginan bunuh diri.

Depresi pada perempuan sering kali terjadi. Jangan mudah menjudge atau memberikan penilaian buruk pada penderita depresi. Berikan empati dengan tidak membully penderita depresi. Kenali penyebab dan gejala depresi sejak dini serta cara mengatasinya dengan penanganan yang tepat.



Salam, 







Semua Terkena Dampak COVID-19, Begini Cara Meraih Hikmah dan Keseimbangan Hidup

Pengaruh Covid-19 dalam kehidupan,
via freepik.com

COVID-19 telah menjadi pandemi yang punya pengaruh dan dampak terhadap berbagai aspek dalam kehidupan.  Saya menemukan keseimbangan hidup dan meraih hikmah melalui berbagai cara yang akan saya bagikan di sini .

Tak bisa dipungkiri bahwa semua terkena dampaknya, mulai dari kehidupan keluarga, sekolah, masyarakat bahkan hampir semua negara mengalami dampak COVID-19.

Kini, keadaan sudah tak lagi sama seperti beberapa bulan yang lalu, sekarang setiap kali keluar rumah karena suatu keperluan mendesak, misalnya mencari bahan makanan menjadi kekhawatiran tersendiri apalagi saat berada di public space, seperti supermarket dekat rumah atau saat mengambil uang di atm. Saya percaya semua pasti ada hikmahnya, tak ada sesuatu pun yang sia-sia.


Hikmah di tengah Pandemi COVID-19 ala Catatan Leannie


Tak ada kejadian yang sia-sia, semua pasti ada hikmahnya. Meski, dalam keadaan teberat sekali pun. Setidaknya ada beberapa hikmah yang saya rasakan di tengah Pandemi COVID-19 ini. Bagaimana dengan Sahabat Catatan Leannie?


1.Rajin menjaga kesehatan dan kebersihan 


Rutin mencuci tangan
Rutin mencuci tangan,
via Pixabay.com/ivabalk

Kebiasaan baik ini akhirnya membuat semua orang peduli tentang kesehatan dan kebersihan. Rajin mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer saat berada di luar menjadi suatu keharusan.

Meski sempat di awal social distancing, beberapa stok makanan, multivitamin, hand wash juga hand sanitizer kosong juga. Setelah hampir sebulan, akhirnya stok di supermarket terdekat kembali tersedia. Syukurlah saya masih kebagian stoknya.


2. Menghabiskan waktu penuh bersama keluarga


Stay at home
Stay at home, via freepik.com


Stay at home dan social distancing  membawa banyak perubahan. Di rumah saja menjadi sesuatu yang berharga. Bahagia rasanya menghabiskan waktu penuh bersama keluarga.

Mengajarkan anak full time belajar di rumah  menjadi pengalaman baru buat saya yang anaknya baru masuk PAUD sebulan sebelum anjuran social distancing dan stay at home.

Belajar di rumah
Belajar di rumah, via dokumentasi pribadi


3. Bersyukur atas nikmat sehat


Berdoa dan bersyukur
Berdoa dan bersyukur, via freepik.com

Sehat adalah nikmat yang sangat berharga. Ketika sakit, seringkali orang merasa bahwa sehat itu ternyata nikmat yang harus disyukuri dan dijaga juga. Mengatur pola makan sehat menjadi salah satu ikhtiar menjaga kesehatan. Berdoa juga merupakan salah satu wujud rasa syukur pada-Nya.


4. Mencoba berbagai resep JSR dari bahan alami


Resep JSR untuk Batuk
Resep JSR untuk Batuk Berdahak,
via instagram.com/@rhosa_liena

Sejujurnya saya pernah merasakan rasa kekhawatiran yang berlebih saat diri sendiri mengalami, flu, batuk, juga alergi saat awal ditetapkannya social distancing. 

Sebagai upaya pengobatan saya memilih bahan alami rempah-rempah yang diracik menjadi resep JSR ala dr Zaidul Akbar.


Baca juga : Resep alami untuk Batuk, Flu, dan Alergi ala dr Zaidul Akbar


5. Memasak untuk keluarga dan mengurangi jajan di luar

Memasak untuk keluarga
Memasak untuk keluarga, via freepik.com


Sesekali menjadi IRT kadang ada rasa bosan dengan aktivitas harian yang berulang alhamdulillah sudah mulai menerima keadaan meski perlu proses untuk sampai ke tahap ini. Dulu sebelum nikah mikirnya kalau enggak masak, ya, beli aja, kan banyak yang jual makanan.

Namun kenyataannya memasak sendiri tenyata punya berbagai sisi positif. Selain, memastikan mengolah bahan makanan dengan bersih, mengontrol penambahan msg atau bahkan tanpa menambahkan sama sekali Msg atau penyedap rasa.

Berhubung saya pengen menerapkan pola hidup sehat, saya perlahan mengurangi bahkan tidak menambahkan sama sekali penyedap rasa yang selama ini familiar di lidah. Pengennya sih ngejalanin JSR atau Food Combining, cuman penerapannya masih menyesuaikan.


6. Mencari peluang usaha atau bisnis baru 


Jajanan Papi Martin
Bisnis kuliner keluarga,
via dokumentasi pribadi

Virus Corona ini memang berdampak dan berpengaruh terhadap kondisi ekonomi. Suami memang punya visi ke depan yang cukup baik, sehingga Kami akhirnya memutuskan untuk mencari peluang usaha atau bisnis baru di bidang kuliner jelang Ramadan ini. Berharap ke depannya bisa membuka lapangan kerja baru untuk dan impian mengunjungi tanah suci bisa terwujud.



7. Peka terhadap lingkungan dengan menjaga sikap dan lisan 


Stay at home and stay safe, via freepik.com


Keadaan atau situasi sekarang membuat orang merasakan kecemasan bahkan agak sensitif juga. Cobalah bersikap peka terhadap lingkungan dan kondisi sekitar dengan menjaga sikap dan lisan.

Jangan meyebar hoax di masyarakat, cobalah memilah informasi di tengah maraknya pemberitaan di masa sekarang ini. Stay at home dan stay safe, ya, buat semuanya.


Cara Menemukan Keseimbangan Hidup Versi Catatan Leannie


Keseimbangan hidup
Relaksasi dan keseimbangan hidup,
via freepik.com

Keadaan yang tak menentu, kapan virus Corona ini berlalu membuat kecemasan meningkat di masyarakat. Bahkan saya sendiri pun sempat mengalaminya.

Kecemasan atau Anxiety merupakan salah satu respon terhadap suatu kejadian, hal ini menjadi salah satu indikator kesehatan mental. Begini cara saya menemukan Keseimbangan hidup di tengah pandemi COVID-19.

✅ Acceptance atau penerimaan dalam hidup


✅ Pausing atau rehat sejenak


✅ Relaksasi dan melepaskan kekhawatiran 


✅Affimasi positif terhadap diri


✅Bersyukur dalam setiap keadaan


Hal pertama yang perlu dilakukan adalah acceptance atau penerimaan terhadap keadaan. Jika masih ada rasa kekhawatiran, cobalah pausing  atau rehat sejenak, bisa dengan mengurangi informasi terkait virus Corona yang meresahkan.

Cobalah relaksasi untuk mengurangi tingkat stress dengan tarik napas sejenak untuk melepaskan kekhawatiran. Affirmasi positif terhadap diri sendiri terlebih dahulu agar emosi lebih stabil. Katakan pada diri bahwa saya bisa menghadapi situasi ini dan keadaan akan membaik setelah pandemi berlalu.

Saat sudah bisa menerima keadaan, hati yang lapang akan mudah merespon keadaan sebagai tanda bersyukur terhadap setiap keadaan.

Meski, saya pribadi tidak tahu kapan pandemi COVID-19 berakhir, mari tetap dukung upaya pemerintah dalam mencegah penyebaran virus Corona. Lakukan pencegahan dan lindungi keluarga dengan memperkuat sistem imun tubuh.

Semua merasakan pengaruh dan dampak COVID-19, temukan hikmah dan keseimbangan hidup seperti yang saya lakukan agar emosi lebih stabil di tengah pandemi ini. Semoga semua Sahabat Catatan Leannie diberi kesehatan dan keberkahan. Aamiin.



Salam, 



#BPNRamadan2020
#BPNChallengeday2


Berbeda dari Flu Biasa, Inilah Pandemi COVID-19 yang Menyita Perhatian Dunia

Pandemi COVID-19, freepik.com


Corona Virus Disease-2019 atau dikenal dengan COVID-19 telah menjadi pandemi yang menyita perhatian dunia. Covid-19 ditetapkan oleh WHO sebagai Pandemi pada tanggal 11 Maret 2020.

Apa itu Pandemi? Pandemi merupakan peningkatan jumlah kasus penyakit yang menyebar ke berbagai negara di dunia.

Sebelum Pandemi COVID-19, tahun 1918 terjadi pandemi terparah di dunia yaitu kasus Flu Spanyol yang mengakibatkan kematian sebanyak lima puluh juta orang.  Pada tahun 2009, Strain Influenza H1N1 atau Flu Babi menyebar ke seluruh dunia.


Menurut data dari Worldometers, pada hari senin, tanggal 20 April 2020, tercatat sebanyak  2.414.098 kasus COVID-19 di dunia, 629.390 dilaporkan sembuh dan 165.153 meninggal dunia.


Mengenal Corona Virus Disease-2019 (COVID-19)


Morfologi Virus Corona
Morfologi virus Corona, freepik.com


Pada  tanggal 20 Januari 2020, Virus Corona jenis baru yaitu SARS-CoV-2, pertama kali dilaporkan di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok.  Otoritas Kesehatan Kota Wuhan menyatakan bahwa tiga orang meninggal setelah menderita Pneumonia yang disebabkan virus Corona.

Dikutip dari BBC, Michelle Roberts dan James Gallager sebagai koresponden kesehatan dan sains BBC, mengatakan  di pasar grosir hewan dan makanan laut Kota Wuhan dijual hewan liar seperti ular dan kelelawar. Dugaan virus corona baru ini berasal dari hewan liar tersebut. .

Dalam istilah kedokteran, virus Corona jenis baru yang menjadi pandemi saat adalah  2019 Novel Coronavirus (2019-nCoV). Secara morfologi, virus Corona ini berbentuk bulat dan memiliki tanduk berbentuk mahkota. Penyebaran virus ini terjadi dari hewan ke manusia, kemudian dari manusia ke manusia lainnya.

Manifestasi klinik Virus Corona bisa menyebabkan gangguan ringan sistem pernapasan, infeksi paru-paru berat, hingga berujung kematian.



Perbedaan Gejala Virus Corona atau COVID-19 dengan Flu Biasa


Gejala virus Corona
Gejala virus Corona, freepik.com

Berbagai informasi terkait Virus Corona ini membuat saya sendiri merasa ada suatu kekhawatiran ketika mengalami flu biasa atau terkena influenza saat awal ditetapkannya social distancing.

Tak perlu panik berlebihan, ketahui terlebih dahulu perbedaan gejala Virus Corona dengan Flu biasa. Simak, yuk, perbedaan keduanya di bawah ini!

1. Gejala Flu Biasa


Setelah terjadi Infeksi virus, gejala flu atau pilek memuncak dalam 2-3 hari. Umumnya gejala flu biasa terdiri dari:

✅Bersin
✅Hidung tersumbat atau pilek
✅Sakit tenggorokan atau tenggorokan terasa gatal dan kering
✅Batuk
✅Cairan hidung mengental
✅Mata berair
✅Demam atau meriang


Pada kenyataannya, beberapa orang tidak mengalami demam, hanya merasa flu saja.
Beberapa gejala flu yaitu pilek, hidung tersumbat dan batuk bisa  bertahan selama sepuluh sampai empat belas hari. Pada jangka waktu tersebut, semua gejala di atas akan berangsur membaik.

2. Gejala COVID-19


Gejala COVID-19 umumnya muncul setelah 2-14 hari terinfeksi. Biasanya muncul gejala seperti: 

✅Demam
✅Batuk
✅Sesak napas


Menurut jurnal penelitian The Lancet, gejala lainnya seperti Sakit tenggorokan dan Pilek, dilaporkan sebanyak 5% pasien, sedangkan Diare, Mual, dan Muntah, dilaporkan oleh 1 -2% pasien.

Berdasarkan The New York Times,  pada pasien COVID-19 dilaporkan gejala Pneumonia, bahkan pada kasus yang tidak parah.


Cegah Penyebaran COVID-19 dengan Upaya ini


Pencegahan COVID-19 dengan Germas
10  langkah Germas untuk mencegah virus Corona,
kemenkes.go.id

Virus Corona SARS-CoV-2 yang menjadi penyebab Covid-19 dianggap lebih berbahaya karena penyebaran dan penularannya lebih cepat, yaitu melalui perantara percikan (droplet), dan kontak langsung dengan benda yang terinfeksi virus.  Virus Corona ini mampu bertahan lama pada suatu benda, tergantung jenis permukaannya.

Menurut situs Kememkes.go.id, untuk menjaga diri dan keluarga  dalam mencegah penularan virus Corona, yaitu dengan melaksanakan 10 Gerakan Masyarakat Sehat atau Germas, diantaranya:


1. Makan makanan bergizi

2. Rajin olahraga dan istirahat

3. Sering cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir

4. Gunakan masker bila batuk atau tutup mulut dengan lengan atas bagian dalam

5. Tidak merokok

6. Minum air putih 8 gelas/hari

7. Makan makanan yang dimasak sempurna dan jangan makan daging dari hewan yang berpotensi menularkan

8. Jaga kebersihan lingkungan

9. Bila demam dan sesak napas segera ke fasilitas kesehatan

10. Jangan lupa berdoa




Pemerintah menganjurkan social distancing dan stay at home sebagai upaya mencegah penyebaran virus Corona agar tidak cepat meluas. Meski realitasnya kadang tidak sama seperti yang dianjurkan.


Baca juga : Realitas Stay at Home pasca Social Distancing


Demikianlah berbagai upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan juga penyebaran COVID-19 agar tidak meningkat. Mari jaga dan lindungi keluarga dari pandemi ini dengan menjaga imunitas keluarga dan mendukung upaya pemerintah melakukan social distancing dan stay at home.

Memang Virus Corona ini berbeda dari flu biasa, maka penting bagi Kita untuk mengetahui gejala COVID-19 dan mewaspadai penyebarannya. Semoga keadaan cepat membaik dan pandemi ini cepat berlalu.



Salam,




#BPNRamadan2020
#BPNChallengeday1









Resep JSR dr Zaidul Akbar untuk Batuk, Flu, dan Alergi dengan Bahan Alami Rempah-rempah

Resep JSR untuk Batuk,
 via instagram.com/@rhosa_liena

Untuk menjaga imunitas keluarga, ada beberapa orang yang memilih bahan alami rempah-rempah sebagai upaya untuk meningkatkan imunitas tubuh dan mengobati berbagai keluhan atau penyakit seperti batuk, flu, dan alergi.

Memang berobat ke dokter diperlukan, tetapi untuk kondisi seperti saya yang punya alergi obat-obatan tertentu, pilihan bahan alami sepertinya bisa menjadi solusi masalah saya.

Selama dimulai social distancing dan stay at home sebagai anjuran pemerintah untuk menanggulangi penyebaran virus Corona semakin meluas, sebenarnya saya sudah mengalami beberapa masalah kesehatan. Sudah berobat ke dokter dan masih belum fit seperti sedia kala.

Saya mengikuti dr Zaidul Akbar di Instagram resminya dan sudah mengenal JSR atau jurus sehat rasulullah dengan bahan rimpang.

Yuk, buat ramuan JSR ala dr Zaidul Akbar buat meningkatkan imunitas tubuh, mengatasi berbagai masalah kesehatan, yang sering saya alami.

Di bawah ini ada beberapa jenis ramuan JSR yang sering saya buat buat buat kondisi saya di atas dengan berbagai keluhan seperti batuk, flu, alergi, Saya ambil gambar dari instagramnya @rhosa_liena dan @ninacuisine_ yang menyimpan dengan baik resep atau ramuan JSR.

1. Resep JSR untuk Batuk


Saya itu punya alergi dingin, jadi selama musim penghujan dan cuaca dingin akan sering batuk-batuk.  Nah, untuk batuk dan flu ada beberapa ramuan atau resep yang bisa digunakan dengan metode JSR.  Beda gejala, beda juga resepnya. Yuk, simak, di bawah ini.

a. Resep batuk kering

Resep JSR  Batuk Kering
Resep JSR untuk Batuk Kering,
via instagram.com/@rhosa_liena

Untuk batuk kering, sediakan 1-2 buah lemon, 2-3 sdm madu. Pada segelas air hangat ditambahkan perasan lemon dan ditambahkan madu. Jangan diberi tambahan gula pasir, ya!

b. Resep batuk berdahak

Resep JSR batuk berdahak
Resep JSR Batuk Berdahak,
via instagram.com/ nanacuisine_

Pada batuk berdahak, sediakan bahan seperti 1 sdt cengkeh, 3 buah Bunga Lawang atau Star Anise. Seduh dengan air panas (kira-kira 300 ml). Setelah hangat tambahkan 2-3 sdm madu.

Resep atau ramuan JSR ini berfungsi sebagai anti bakteri, antibiotik, meningkatkan sistem imun, anti parasit juga.

c. Resep batuk kering pada dewasa disertai tenggorokan gatal

Resep JSR batuk kering dewasa
Resep Batuk kering pada dewasa,
via instagram.com/nanacuisine_

Ada kalanya sebelum batuk, tenggorokan terasa gatal. Saya sering mengalami hal ini soalnya. Bisa jadi mengalami radang tenggorokan sehingga menyebabkan batuk kering.

Resep untuk batuk kering pada dewasa disertai tenggorokan gatal adalah siapkan satu buah sereh, satu atau dua ruas jahe, satu buah lemon, dan madu. 
Caranya jahe diiris tipis, geprek, atau boleh diparut bersama sereh, lalu dipanaskan dengan api kecil selama kurang lebih dua menit. Setelah hangat beri perasan lemon dan madu.

Jangan lupa berdoa sebelum minum ramuan ini. Minum sehari sekali untuk meredakan batuk dan gatal pada tenggorokan.

2. Resep JSR untuk Flu

Resep JSR untuk Flu
Resep JSR untuk Flu,
via instagram.com/@rhosa_liena

Untuk resep flu, siapkan bahan-bahan seperti satu ruas jahe, satu batang kayu manis ukuran sedang, tiga buah cengkeh, satu sendok makan madu, setengah sendok beepolen (saya skip karena enggak ada stoknya di rumah) dan air sebanyak 200-300 cc. Jahe digeprek, lalu tambahkan kayu manis, cengkeh pada seduhan air panas, setelah hangat beri tambahan madu. Aduk merata.

Resep Anti Flu atau pencegahan agar tidak terkena Flu yaitu bisa dengan menyiapkan satu kelingking kunyit, satu buah lemon peras. Rebus kunyit dengan  air sebanyak 300 cc, jangan sampai mendidih airnya. Setelah hangat tambahkan perasan lemon dan madu.


3. Resep JSR untuk Alergi

Resep JSR untuk Alergi,
via instagram.com/@rhosa_liena


Sebenarnya saya baru kemarin-kemarin mengalami alergi yang cukup berat. Biasanya alergi hanya sebatas batuk saat cuaca dingin saja tetapi kemarin-kemarin saat diberlakukannya stay at home dan social distancing, saya mengalami alergi sampai tangan, kaki dan seluruh badan saya kemerahan. 


Urticaria, via dokumentasi pribadi

Ternyata saya mengalami urticaria atau biduran. Kondisi alergi saya sudah pada tahap ini kemarin-kemarin. Urticaria atau dikenal dengan biduran merupakan reaksi kulit dengan rasa gatal dan kemerahan.  

Biduran atau urticaria ini dapat muncul secara tiba-tiba di bagian tangan, kaki, bahkan seluruh bagian tubuh. Hal ini bisa dipicu oleh berbagai faktor. Penjelasan tentang Uricaria lebih lengkap bisa diakses di sini.

Setelah saya pikir sepertinya ada makanan yang saya konsumsi sebagai pemicunya.  Sebelumnya saya makan ikan asin plus sambal terasi, biasanya sih enggak apa-apa, tapi sepertinya ini jadi salah satu pemicu alergi saya.

Nah, saat kondisi daya tahan tubuh melemah, saat itu seluruh badan saya kemerahan. Untung saja keesokan harinya sudah baikan. Alhamdulillah.

Saya makan juga telur rebus setelah alergi saya hilang kemarin, ternyata keesokan harinya tangan, kaki juga badan saya merah-merah lagi. Nah, kan, berarti setelah makan ikan asin, sambal terasi juga telur rebus ternyata bisa jadi pemicu alergi bagi saya.

Saya mencoba mencari resep alergi dari bahan alami. Alhamdulillah setelah dua atau tiga hari kondisi alergi saya mereda dengan ramuan JSR anti alergi ini.

Tips mengatasi alergi dengan metode JSR dr Zaidul Akbar yaitu dengan meminum air alkali, bisa dari infused water kurma atau rempah, sayuran juga buah-buahan.

Untuk mengatasi alergi, siapkan bahan rempah-rempah yaitu satu buah kayu manis ukuran sedang, tiga sampai lima buah cengkeh, tiga buah bunga lawang, segelas air kira-kira 200-300 cc dan madu. 
Seduh dengan air panas atau dipanaskan dengan api kecil selama kurang lebih dua menit. Setelah hangat beri tambahan dua sendok makan madu. 


Sejujurnya untuk kondisi sekarang yang mengharuskan stay at home, cobalah untuk peduli kesehatan keluarga dengan meningkatkan imunitas tubuh.

Baca juga : 7 Tips Jitu untuk Menangkal Corona dengan Meningkatkan Sistem Imun Tubuh

Sebelumnya, saya dulu tipe yang begitu sakit langsung ke dokter, akan tetapi ternyata tubuh saya alergi terhadap obat-obatan tertentu, karena sering kali setelah minum antibiotik, saya mengalami gatal-gatal, terutama di bagian tangan.

Makanya begitu tahu JSR Zaidul Akbar ini merasa senang dan ingin mencoba resepnya saat saya mengalami berbagai keluhan seperti batuk, flu juga alergi seperti yang sering saya alami.

Baca juga : Realitas Stay at Home Pasca Social Distancing

Jika ada yang bertanya mengenai bahan-bahan di atas diperoleh dari mana? Saya sendiri membeli di marketplace seperti shoppee untuk menyetok berbagai rempah-rempah di rumah.

Itulah berbagai resep alami  JSR dari Zaidul Akbar untuk batuk kering, batuk berdahak, batuk disertai tenggorokan kering, flu dan dan alergi yang saya terapkan di rumah. Semoga Sahabat Catatan Leannie diberi kesehatan dan ada dalam lindungan-Nya. Aamiin.



Salam,