Showing posts with label Marriage. Show all posts
Showing posts with label Marriage. Show all posts

Tentang Kamu, Lirik Lagu Bunga Citra Lestari dan Jodoh pilihan-Nya (The Story of My Life)

Tentang Kamu, Lirik lagi BCL and The Story of My Life
Pic by Pinterest, edit by Snapseed

Mendengar berita duka beberapa hari yang lalu tentang kematian Ashraf Sinclair, banyak sekali dukungan terhadap Bunga Citra Lestari dan putra mereka Noah Sinclair. Ternyata kematian itu tak mengenal usia, jika waktunya tiba tak ada siapa pun yang  mempu menolaknya.

Sebuah lagu berjudul Tentang Kamu yang dinyanyikan Bunga Citra Lestari menjadi salah satu lagu favorit saya. Saya doakan BCL diberi kekuatan dan keiikhlasan menerima ketentuan-Nya. Inilah lirik lagu Tentang Kamu yang dipopulerkan Bunga Citra Lestari.

Lirik Lagu Tentang Kamu (BCL)

Ku tak bisa menebak
Ku tak bisa membaca
Tentang kamu
Tentang kamu

Kau buat kubertanya
S'lalu dalam hatiku
Tentang kamu
Tentang kamu

Bagaimana
Bila akhirnya kucinta kau
Dari kekuranganmu
Hingga lebihmu

Bagaimana
Bila semua benar terjadi
Mungkin inilah
Yang terindah

Begitu banyak bintang
Seperti pertanyaanku
Tentang kamu
Tentang kamu

Bagaimana
Bila akhirnya kucinta kau
Dari kekuranganmu
Hingga lebihmu

Bagaimana
Bila semua benar terjadi
Mungkin inilah
Yang terindah

***

Lirik Lagu Tentang Kamu yang dinyanyikan BCL adalah salah satu favorit saya, suara lembut Bunga Citra Lestari adalah salah satu hal yang membuat lagu tersebut begitu menyentuh hati saya.

Saya jadi terkenang dan ingin menuliskan "Tentang Kamu" versi saya tentunya. Lika-liku perjalanan menemukan dia, yang kini menjadi pendamping hidup saya.

***

Tentang kamu, jodoh pilihan-Nya... 
(The story of my life)


Waktu terus bergulir, hari demi hari terlewati hingga tak terasa usiaku hampir menginjak kepala tiga. Dua tahun kedepan usiaku genap kepala tiga. 

Rasanya sudah teramat sering pertanyaan dilayangkan padaku mengenai kapan menikah dan siapa yang menjadi calonnya. Aku tak bisa menjawab dengan pasti hanya senyum dan entah sudah berapa kali jawabanku hanya sebatas kalimat  meminta doa  setiap kali pertanyaan itu dilayangkan padaku.

Bukannya tidak ada kesempatan untuk aku menuju ke pelaminan hanya saja mungkin belum saja berjodoh dengan yang telah lalu. Sempat hati ini condong pada seseorang yang sepertinya akan berjodoh denganku. Orang tua kami berdua sudah memberikan persetujuannya, namun aku sendiri menyangsikan niat juga keseriusannya.

Dia hanya datang dan pergi begitu saja. Penantianku selama lebih dari 6 tahun lamanya terjawab sudah ketika dia sudah bertunangan dengan yang lain. Orang tuaku juga tak menyangka akan seperti ini akhirnya. Namun aku harus melanjutkan hidup, mengikhlaskan semuanya karena aku yakin takdir-Nya lebih baik dari yang aku harapkan.

Selang beberapa lama setelah wisuda keduaku, dari gelar ahli madya menjadi sarjana. Aku mendapatkan pekerjaan baru karena saat aku melanjutkan kuliah aku memilih fokus di kuliah saja, karena banyak rekan yang lain bekerja sambil melanjutkan kuliah.

Aku diterima bekerja sebagai asisten dosen di salah satu Stikes di Bandung. Alhamdulillah amanah baru lagi untukku. Aku tak ingin melihat lagi ke belakang karena aku sudah belajar menerima dan mengikhlaskan semua yang terjadi di hidupku ini.

Tak pernah kuduga dan kusangka, saat aku kembali pulang mengajar di Stikes ibuku mengatakan bahwa seseorang tengah melamarku. Tepatnya ibu dari salah seorang tetanggaku melamar diriku. Kaget sekali aku mendapatkan kabar ini.

Dia yang dulunya kakak kelasku ketika SD dan rumahnya hanya berselang beberapa rumah dari rumahku datang untuk memintaku menjadi pendamping hidupnya. Mungkin inilah jawaban semua pertanyaanku selama ini tentang siapa jodohku. Dia datang disaat yang tak diduga.  

Kadang aku tak habis pikir bagaimana Allah SWT menjalankan skenario-Nya dalam hidupku ini. Alhamdulillah penantianku selama ini telah terjawab.

Ternyata dia itu kamu yang rumahnya dekat denganku, yang saat masih SD gak pernah bertegur sapa, waktu SMP, kuliah bahkan saat sudah bekerja tak pernah bertemu, ya, kalau ketemu juga pas hari raya seusai salat ied.  

Jodoh kadang tidak diduga kapan dan di mana datangnya. Ada istilah kalau jodoh pasti bertamu (eh, bertemu ...) seperti kata Afgan.

Ternyata benar ya ungkapan yang menyatakan jodoh itu dekat.  Sedekat tetangga sendiri, hanya terpisahkan beberapa rumah dan masih satu Rukun Tetangga. Dialah jodoh pilihan-Nya, dipilihkan melalui skenario yang tak terduga.

Benar adanya bahwa ada ungkapan "Tidak ada pernikahan cinderella," tidak mungkin kehidupan pernikahan terus bahagia untuk selamanya, karena semua itu hanyalah ada di dunia dongeng bukan dunia nyata.

Awal pernikahan yang indah dan bulan madu yang manis pun hanya tinggal kenangan. Hari demi hari, bulan demi bulan bahkan tahun berganti tahun pun telah dilewati bersama.

Rasa yang ada dulu menggebu, mungkin bisa saja terkikis seiring berjalannya sang waktu. Jika bukan memegang teguh komitmen, telah banyak yang mengalami kegagalan dalam pernikahan dengan dalih adanya ketidakcocokan. 

Manusia terkadang punya banyak harapan juga keinginan namun semua itu terbentur dengan suatu realita. Begitu juga dengan kehidupan. Terkadang apa yang kita harapkan belum tentu jadi kenyataan.

Ada kalanya setelah menikah banyak sekali hal-hal yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan terhadap pasangan, mungkin begitu pula dengan diri pasangan terhadap kita.

Perbedaan yang ada bisa menjadi boomerang saat salah
satu pasangan memendam semua perasaannya tanpa mampu berkomunikasi dengan baik. Pasangan perlu tahu bagaimana cara mengatasi konflik dalam sebuah hubungan.

Baca juga: Cara Mengatasi Konflik dengan Pasangan


Namun, semua itu bisa diatasi jika kedua belah pihak mampu membuka telinga juga mata hati untuk bisa sama-sama mencari solusi untuk kebaikan bersama.

Seiring perjalanan dalam pernikahan, saat kita melangkah dan dirasakan ada kerikil tajam menghalangi perjalanan, bukannya alas kaki yang diganti tapi kerikilnya yang perlu dibuang.

Tak perlu berpikir mencari pengganti pasangan baru yang dirasa bisa lebih baik, namun mencari solusi atas permasalahan yang mendera.

Saat dihadapkan dengan kenyataan, harapan yang dulu dibayangkan sebelum menikah sirnalah sudah. Berharap pasangan mampu berubah menjadi lebih baik tak jua menjadi kenyataan.

Hiduplah suami istri bak orang asing yang tinggal dalam satu atap bersama.

Dimanakah keharmonisan itu?

Pertanyaannya yang mengganjal dikalbu namun tak jua didapat jawabannya.

Hidup berumah tangga itu adalah tentang prasangka baik dan positif, penerimaan, ketulusan juga keluasan maaf diantara kedua pasangan.

Ingatlah saat menikah, ada ikatan suci dihadapan-Nya. Ingatlah saat menikah banyak orang yang kita undang untuk mendoakan kehidupan pernikahan kita. Komitmen itulah yang seharusnya dijaga.

Disatu sisi, saat memutuskan untuk mundur berarti kita menyerah, jangan sampai mengabaikan doa orang-orang yang mendoakan kita sewaktu menikah dulu. 

Saat memilih ingin mencari pasangan lain selain pasangan yang sah, ingatlah diluaran sana banyak yang masih single berdoa terus menerus meminta diberikan pasangan hidup. Hargai dan bersyukurlah engkau telah diberikan pasangan hidup. 

Untuk yang telah memiliki buah hati, ingatlah mereka membutuhkan ayah juga ibunya. Selama masih punya Allah SWT, mintalah pada-Nya agar membukakan dan melembutkan hati pasanganmu sehingga marriage goals, yaitu sakinah, mawaddah juga rahmah dapat direalisasikan.

Meski dalam berumah tangga, harapan vs kenyataan terkadang tidak sejalan, ingatlah bahwa hidup itu adalah tentang penerimaan, takdir, juga tentang kuasa-Nya mempersatukan dua insan dalam mahligai pernikahan.

Menikahlah dengan seseorang yang bersedia melakukan perubahan untuk menjadi lebih baik.

Menikah itu berproses dan proses penyesuaiannya butuh waktu dan pembelajaran. Saling mengenal untuk bisa saling memahami dan melengkapi satu sama lainnya.

Bahagiakanlah pasanganmu sebelum engkau menyesal karena hidup tak selamanya. Saat ia tiada, takkan berguna semua kata dan rasa yang kau miliki untuknya. (Catatan Leannie)


Salam, 



Inilah Cara Terbaik Menjalani Pernikahan Versi 9 Perempuan untuk Meraih Bahagia


Cara Terbaik Menjalani Pernikahan
sumber : Pixabay.com


Pernikahan adalah penyatuan dua jiwa. Menikah berarti menyempurnakan setengah Dien atau agama. Bagaimana cara terbaik menjalani pernikahan?
Sebenarnya pertanyaan ini seperti yang simpel tetapi jawabannya perlu dicari dan digali mendalam.

Saya pernah mengadakan giveaway saat anniversary yang kelima beberapa bulan yang lalu. Menanyakan bagaimana cara terbaik bagi perempuan menjalani pernikahannya. Saya menuliskan ini dengan merangkum dari opini 9 oramg perempuan bagaimana cara mereka dalam menjalani kehidupan pernikahan yang bahagia.

Saya akan bagikan opini para perempuan tentang arti pernikahan buat mereka dan bagaimana cara menjalaninya. Semoga bisa menguatkan ikatan pernikahan dan samawa selalu, ya. Yuk, simak saja apa kata mereka tentang cara terbaik menjalani pernikahan di bawah ini!

1. Kebahagiaan dan keberkahan pernikahan dengan mendekat pada-Nya


Menikah itu sederhananya ketika ada seseorang yang mengajak kita naik perahu bersama, kemudian sama-sama berjanji untuk menikmati setiap perjalanannya, pasang surut ombaknya, gelap cerah langitnya hingga akhirnya sampai ditempat tujuan yg sama pula yakni surga-Nya kelak.

Dengan menikah, besar peluang munculnya masalah- masalah baru namun berarti semakin besar pula peluang untuk mendapatkan ladang pahala yang baru, atau sederhananya saat akad terucap maka sebagai istri kita akan punya pintu surga yang baru.

Maka solusinya saling memahami hak  dan kewajiban masing-masing karena hukumnya timbal balik.

Hak istri = kewajiban suami
Kewajiban istri = hak suami

Ibarat segitiga sama sisi, semakin suami dan istri mendekat kepada Allah maka pernikahan pun akan dekat dengan kebahagiaan, sebaliknya jika suami dan istri jauh dari Allah maka kehidupan rumahtangganya akan jauh dari keberkahan.

Jadi, bagi saya, pasangan bahagia berarti pasangan yang sama-sama berusaha saling membahagiakan satu sama lain. Bukankah sakinah itu harus diperjuangkan?

Pernikahan yang hebat berarti yang dengannya akhirat terasa lebih dekat.

Benar kata penulis Asma Nadia bahwa pernikahan adalah medan ibadah yang paling indah. (Meilawati Nurhani)

2. Menikah adalah proses belajar seumur hidup


Menikah, adalah fase kehidupan sebenarnya di dunia nyata, menurut saya. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, menjalankan pernikahan serasa rumit, jika kita tengah berada pada hati yang sempit. Sebaliknya, akan dirasa mudah, ketika hati ini diberi kelapangan dalam menjalankannya.

Semua asam garam yang kami rasakan dalam sebelas tahun perjalanan berumah tangga, sungguh membutuhkan banyak pengorbanan. Menikah, tidak hanya bagaimana memelihara agar rasa cinta itu tetap ada, melainkan tetap menjalankan komitmen, atas pilihan yang sudah dijatuhkan sebelumnya, tak tanggung-tanggung, seumur hidup lamanya. Bahkan, jikalah boleh meminta, sehidup sesyurga bisa terlaksana.

Faktanya, menjatuhkan pilihan tak sesulit bertahan pada pilihan. Akan banyak pertentangan, yang mengharuskan dua jiwa kembali mencari irisan, agar tetap bisa beriringan.

Menjalankan pernikahan membutuhkan pembelajaran, karena apa? Setiap hari akan selalu ada pelajaran baru yang harus bisa dilalui. Untuk itu, kesabaran kita akan senantiasa dipertanyakan, melalui ujian kehidupan yang datang silih berganti.

Teruslah jaga komitmen dan cinta ini, meski tak semerkah saat dirimu meminang dulu, setidaknya jangan biarkan ia layu.

Bersamamu, saya belajar menjadi wanita dewasa yang lebih baik. (Ai Quratul Ain)

3. Tips pernikahan agar tercipta harmoni dan langgeng


Menikah itu tak hanya berurusan dengan perbedaan. Menikah bisa diibaratkan sebagai jembatan, yakni menjembatani jurang perbedaan antara suami istri.
Menjalani hidup dengan menggenapkan dien (agama) adalah sebuah awal dari menjalani proses kehidupan. Pernikahan akan memberikan banyak manfaat bagi suami dan istri.

Agar terbangun harmoni memasuki usia 15 tahun pernikahan, kami kerap kali menjalankan hal-hal berikut:
a. Saling menerima kelebihan dan kekurangan pasangan.
b. Mengelola emosi
c. Membangun empati
d. Saling bersinergi
e. Saling berbagi peran.
f. Saling instrospeksi diri atau muhasabah
g. Saling mendoakan.

Tujuh hal diatas selalu kami upayakan demi melanggengkan kehidupan rumah tangga dan melabuhkan biduk bersama dalam keluarga. Intinya dengan membangun sikap saling memahami akan sampai pada titik Samara (Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah). (Laily Fitriani)

4. Cinta bukan kata kunci dalam pernikahan, perlakukan pasangan sebagai sahabat.


Sebelum menikah, banyak laki-laki tidak bisa tidur sepanjang malam hanya karena memikirkan kata-kata dari perempuan yang dipujanya. Namun setelah menikah dia akan cepat terlelap, bahkan sebelum istrinya selesai bercerita.

Pertengkaran dalam rumah tangga terjadi bukan karena kurangnya cinta, melainkan karena kurangnya persahabatan. Cinta beresiko berubah menjadi obsesi, tapi persahabatan selamanya tentang berbagi.

"Asyik kan, kalau kita punya pasangan rasa sahabat?"

Ini loh, asyiknya versi saya:
a. Saya tidak pernah malu mendekatinya setelah bangun tidur, meski belum mandi dan gosok gigi. SayaSaya per perasaannya tidak akan berubah, meski aku sedang jelek-jeleknya.
b. Kami bisa betah ngobrol lama, tanpa takut kehabisan bahan bicara.
c. Kami punya lelucon, yang hanya dipahami berdua.
d. Sikap konyol yang kami punya, adalah hal sederhana yang membuat kami selalu saling jatuh cinta.

Apakah menjadikan pasangan sebagai sahabat itu hal mudah? Tentu butuh proses sepanjang hidup, tapi jika kita memiliki perasaan yang bahagia, maka punya pasangan rasa sahabat bisa kita nikmati setiap saat.

Jadi, bahagiakan dulu perasaan kita. Yakinkan, bahwa bahagia itu adalah diri kita sendiri, tidak bergantung pada orang lain. (Dini Lestari)

5. Membahagiakan diri dalam pernikahan


Pernikahan itu harusnya dijalani dengan perasaan bahagia. Dimulai dari memilih seseorang yang memang dirasa sangat tepat untuk menjadi pendamping, lalu menghalalkan hubungan yang didasari komitmen untuk saling menyayangi sampai akhir.

Namun, tidak semua pasangan dipersatukan dalam ikatan pernikahan yang berlandaskan rasa cinta. Ada banyak kasus terjadi, salah satunya, pernikahan terlaksana  dengan alasan dijodohkan. Apa pun sebabnya, saya percaya bahwa jodoh itu memang sudah ditentukan oleh Tuhan.

Sebisa mungkin, menualah bersama pasangan yang sudah digariskan Tuhan menjadi teman hidupmu, sampai maut memisahkan. Selagi pasanganmu itu adalah manusia beragama dan berakhlak baik.

Jadi, cara terbaik menjalani pernikahan versi saya, berusahalah untuk tetap bahagia. Hati yang bahagia selalu menciptakan situasi tenang. Menerima segala kekurangan pasangan dengan lapang dada.

 Jangan malu dan pelit saat meminta dan memberi maaf. Tidak mengkotak-kotakkan antara tugas suami atau istri, bila memungkinkan, lakukan bersama-sama.

Saling jujur dan percaya dalam banyak hal.
Satu poin penting lainnya adalah, jangan terlalu mendengarkan 'mulut orang-orang di sekelilingmu', percayalah ... tak ada yang paling mengerti soal rumah tanggamu selain dirimu sendiri. (Syefrianidar)

6. Menikah berarti jangan egois dan malu untuk mengalah


"Sejatinya, pernikahan itu bukan masalah siapa yang menang, siapa yang kalah. Harus bisa jalan berdampingan, bukan berebut siapa di depan. Jangan sama-sama egois. Jangan malu untuk mengalah."

Selalu ingat, wejangan ibu saat anak bungsunya ini akan masuk ke episode baru kehidupan. Menjadi seorang istri dan akan menjadi ibu nantinya.

Bukan tanpa alasan ibuku sering mengulang hal ini, kalahkan ego.
Delapan tahun sudah kami menikah, dan sampai saat ini, hal ini masih kami lakukan :
a. Mengucapkan maaf dan terimakasih. Hal sepele memang, tapi ini penting bagi pasangan untuk merasa saling menghargai.
b. Bersalaman (mencium punggung tangan suami dan sebaliknya) dan mengecup kening. Ingat rida suami ada di tangannya dan rido istri di keningnya.
c. Obrolan absurd atau becandaan, yang cuma kami berdua yang mengerti.
Ini bukan tentang benar atau salah
Bukan perihal siapa yang harus mengalah. Bukan soal 'saya' atau 'kamu'

Menikah adalah 'kita' yang harus bisa berjalan bersama, dengan tujuan yang sama.

Jadi jika ditanya "Bagaimana cara terbaik menjalani pernikahan?" Jalani saja, jadi dirimu sendiri, hargai pasanganmu jadikan dia teman hidupmu bagian dari dirimu, bukan hanya 'partner berumahtangga'.
(Wulan Dewi)

7. Menikah adalah komitmen dan komunikasi


Menikah muda adalah tantangan tersendiri dalam menjalani pernikahan hingga bertahan sampai detik ini. Bagaimana susah payahnya mengontrol gejolak emosi jiwa muda,sampai menahan diri untuk tidak mudah terbawa perasaan. Yang patut saya syukuri adalah saya mendapati suami yang bisa berperan menjadi teman ,sahabat, bahkan kakak (karena usia suami juga yang cukup jauh diatas saya) sehingga saya bisa melewati semua jalan terjal itu dengan (saya enggak akan pernah bilang mudah,karena memang pada kenyataannya tidak) lancar.

Pernikahan memang tentang bagaimana kita memegang komitmen dan berkomunikasi. Klise? Iya, tapi memang seperti itu tentang bagaimana mempertahankan rasa dan memelihara asa. (Yanti Septrimayanti)

8. Komunikasi adalah kunci sebuah hubungan apalagi pernikahan jarak jauh


Komunikasi ... adalah hal penting paling mendasar yg harus di perkokoh dalam menjalani hubungan pernikahan jarak jauh.

Terlebih di zaman digital ini
Tidak ada alasan untuk tidak saling mengedepankan komunikasi untuk menjaga hubungan tetap harmonis
karena dengan komunikasi kita bisa mereduksi jarak agar kami sebagai keluarga bisa tetap merasa dekat. (Artha Kusumawardhani)

9. Menjaga hubungan selalu harmonis lewat pillow talk


Menjaga hubungan selalu harmonis memang susah tapi alhamdulillah selama hampir 10 tahun saya sama suami akur-akur saja malah tiap hari masih pacaran terus  karena kebiasaan kami itu sebelum tidur kami ngobrol sambil ngopi ngomong keseharian kami udh ngelewati apa aja (pillow talk), tujuan kami supaya saat kita pergi tidur, hati dan pikiran udah lega  dan bisa tidur nyenyak.

Setiap bangun subuh cara membangunkan suami atau kadang suami yang bangunin saya dengan bisikan mesra tujuannya agar pagi kita penuh dengan senyuman. (Siti Aisyah)

Membaca opini dari para perempuan menjadi reminder atau pengingat bagi diri bahwa memang pernikahan adalah proses pembelajaran seumur hidup. Menyempurnakan setengah Dien dan membawa diri juga pasangannya menjadi lebih dekat dengan-Nya.

Itulah cara terbaik menjalani pernikahan versi 9 perempuan untuk meraih kebahagiaan. Semoga sakinah, mawadah, dan warahmah yang menjadi tujuan pernikahan bisa Kita capai setelah membaca pengalaman para perempuan di atas. Aamiin.




Salam,












Mengamalkan Sunah, Suami Membantu Pekerjaan Istri di Rumah

Mengamalkan sunah, suami membantu pekerjaan istri
Pic by Shaliha.com

Akhlak suami terhadap istri salah satunya adalah bersikap baik terhadap istrinya. Rasulullah adalah teladan bagi Kita semua. Salah satu sunah Rasul ternyata membantu pekerjaan istri di rumah.

Hal yang terjadi di masyarakat karena tradisi turun temurun menganggap bahwa pekerjaan rumah juga dapur adalah tugas istri, sedangkan suami hanya mencari nafkah saja di luar sana.  Lain ceritanya jika istri punya asisten rumah tangga, setidaknya ada yang membantu pekerjaan di rumahnya.

Hadits tentang Membantu Pekerjaan Istri


Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori, Al-Aswad pernah bertanya pada Aisyah.

“Apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan ketika berada di tengah keluarganya?” ‘Aisyah menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membantu pekerjaan keluarganya di rumah. Jika telah tiba waktu shalat, beliau berdiri dan segera menuju shalat.” (HR. Bukhari)

Membantu pekerjaan istri di rumah merupakan suatu wujud rasa tawadhu atau kerendahan hati Rasulullah S.A.W. Hal ini merupakan salah satu sunah yang bisa dicontoh oleh umatnya.

Tawadhu atau rendah hati ternyata membuat seseorang ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sabda Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa:

“Tidaklah seseorang tawadhu’ (merendahkan hati) karena Allah melainkan Dia akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim)

Begitulah para suami jangan merasa menjadi rendah karena membantu pekerjaan istri di rumah, ya, karena Rasulullah pun melakukan hal ini.

Kriteria Suami Terbaik


Nah, jadi buat para lelaki yang bergelar suami kalau mau mengamalkan sunnah rasul bisa mencoba hal ini juga, jangan hanya bicara poligami kalau bahasannya tentang sunah rasul, ya. Betul apa betul, Ibu-Ibu? 😄

Masih banyak amalan lain yang bisa dilakukan dan membuat istri semakin merasa dihargai dan disayangi setulus hati. Biasanya istri juga akan makin sayang dengan tipe suami seperti ini.

Salah satu kriteria suami terbaik adalah suami yang mampu bersikap baik terhadap istri, anak dan keluarganya. Ini juga kata Rasulullah, karena lelaki atau suami terbaik terbaik adalah suami yang mampu melindungi dan memberikan rasa nyaman terhadap wanita yang dinikahinya.

Dampak Istri Melakukan Pekerjaan Rumah Sendirian


Salah satu hal yang bisa dilakukan suami untuk menyenangkan dan membahagiakan istrinya adalah dengan membantu pekerjaan istri di rumah, apalagi sang istri tidak punya asisten di rumahnya, kerjaan rumah itu memang kadang enggak ada habisnya, loh, para suami.

Nah, apa dampaknya jika seorang istri mengambil alih semua pekerjaan rumah tanpa asisten, bahkan banyak juga istri yang ikut bekerja di luar sana?

Istri akan mudah merasa lelah, moodnya juga naik turun karena bisa saja kurang mampu menghandle semuanya, bahkan jika istri tersebut memiliki anak yang usianya masih bayi atau balita, bukan tak mungkin sang istri bisa stress, babby blues pasca melahirkan pun bisa terjadi karena sang ibu kelelahan mengurus anak tapi tak mendapat perhatian yang cukup dari suaminya, bahkan suami tetap saja cuek dengan urusan pekerjaan rumah tangga.

Beberapa  Cara agar Suami Mau Membantu Pekerjaan Istri


Tak selamanya suami paham mengenai sunah bahwa membantu pekerjaan istri adalah dianjurkan dan Rasulullah pun mengerjakan hal ini.

Sebenarnya ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh istri agar suaminya tak segan membantu pekerjaan rumah, diantaranya dengan melakukan komunikasi yang baik, meminta bantuan secara langsung dengan sopan, tanpa marah-marah, atau juga memberikan reward ketika suami membantu istri di rumah dengan melakukan hal-hal yang disukai suaminya.

Intinya kerja sama dalam rumah tangga itu penting, karena suami istri diciptakan untuk saling melengkapi juga menutupi kekurangan satu sama lainnya. Perjalanan dalam rumah tangga juga adalah suatu proses pendewasaan keduanya.

Beruntungnya seorang istri yang suaminya mau turun tangan menjaga anak juga membantu pekerjaan istri di rumah. Pesan buat lelaki yang suka mengamalkan sunah rasul, terutama suami yang punya istri tanpa asisten rumah tangga, sudahkah membantu meringankan pekerjaan istri di rumah?



Salam, 






Konflik antar Pasangan dalam Pernikahan, Ikuti 5 Cara ini untuk Mengatasinya!

Pic by Pinterest

Pasangan dalam kehidupan berumah tangga seperti sepasang sepatu yang berjalan beriringan. Konflik antar pasangan bisa terjadi dalam pernikahan. Mereka perlu melakukan berbagai cara untuk mengatasinya.

Adakalanya konflik pun menerpa kedua pasangan. Kehidupan berumah tangga yang asalnya harmonis menjadi tegang karena masalah diantara keduanya.

Berbeda sudut pandang diantara keduanya, terkadang bisa membuat konflik semakin memanas. Bagaimana cara mengatasi konflik antar pasangan dengan bijak?

1. Ambil jeda waktu sejenak, jangan terbawa emosi

Ketika emosi bicara terkadang kata tak bisa dikendalikan, masalah yang terjadi ternyata semakin memanas. Bukan penyelesaian yang didapat, oleh karena itu, ambillah jeda waktu sejenak.

Biarkan emosi yang ada diantara kalian mereda, selanjutnya berbicara dan berkomunikasi dengan pasangan. Coba bicarakan baik-baik, ya.

2. Evaluasi diri, jangan-jangan kesalahan ada pada dirimu bukan orang lain


Nah, ini yang terpenting dalam pernikahan. Mengevaluasi diri merupakan cara Kita bercermin tentang diri. Jangan hanya menyalahkan pasangan atas konflik yang terjadi. Perbaikilah diri sendiri, lalu lihat apa yang terjadi pada pasangan Kita.

Coba pikirkan juga, apakah selama ini ada hal atau sikap Kita terhadap pasangan yang kurang baik, misalnya kurang memperhatikan pasangan atau anak, terlalu sibuk bekerja, atau bahkan sudah baiklah service sebagai istri. Hehe ... masalah ini perlu juga diperhatikan, loh.

3. Komunikasikan dengan baik apa yang Kamu rasakan

Setelah mengambil jeda waktu, Kamu perlu bicara dengan pasangan. Beritahukan apa yang Kamu rasakan. Bicara dengan baik, jangan sampai apa yang Kamu bicarakan menjadi masalah baru karena kemampuan berkomunikasi itu penting.

4. Jangan membandingkan kehidupan pernikahanmu


Ini juga poin yang harus Kamu perhatikan, ya. Jangan mengukur kebahagiaan orang lain dari sudut pandang Kita sendiri. Jangan juga membandingkan kehidupan pernikahan orang lain.

Kita tak pernah tahu apa yang mereka hadapi selama berumah tangga. Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau, ibaratnya begitu. Ciptakan kebahagiaan pernikahanmu sendiri. Bahagia itu diciptakan, dimulai dari hati yang bersyukur.

5. Ingat selalu marriage goals
Pernikahan adalah hubungan antara dua insan

Ingat juga tujuan pernikahan atau marriage goals. Bukankah pada saat akad, semua mimpi Indah tercipta bersama pasanganmu?

Pernikahan yang bahagia, sakinah, mawadah dan rahmah itu diciptakan bersama oleh kedua pasangan yang tak henti mau saling menghargai, memahami, mendukung dan memaafkan kesalahan atau kekurangan pasangannya.

Beragam rasa tercipta di sana. Kadang merasa bahagia, sedih, marah, terluka. Semua menciptakan aneka rasa dalam mengarungi kehidupan pernikahan.

Itulah 5 cara mengatasi konflik antar pasangan dalam pernikahan versi saya. Bagaimana dengan Kamu?



Salam,






Hanya Cinta yang Bisa ... Memaafkan dan Menghapus Luka

All about love via Pinterest

Memaafkan dan menghapus semua luka yang disebabkan kesalahan pasangan? Bisa, kah? Jawabannya bisa. Hanya cinta yang bisa menghapus pedih dan memberi harapan baru pada jiwa yang luka.

Seberapa besar Kamu berdamai dalam diri dan mau menerima kesalahan pasanganmu, itulah kunci agar kehidupan bersama pasangan bisa langgeng.

Saya menemukan ternyata hati yang terbuka mampu menerima kembali pasangannya. Ada dua kisah yang saya temukan, keduanya membuat saya cukup terharu.

Kisah pertama seorang lelaki meninggalkan istrinya setelah memiliki tiga orang anak yang sudah dewasa, ada dua anaknya telah berumah tangga. Menikah dengan wanita yang ia pilih dan meninggalkan istrinya selama ini.

Ketika lelaki ini sakit, ternyata ia kembali pada mantan istrinya. Istrinya pun berbesar hati mau menerima mantan suaminya.

Entahlah ... wanita yang menjadi istri keduanya kemana setelah lelaki ini sakit parah. Komplikasi berbagai penyakit. Sepertinya hanya cinta yang bisa menjadi alasan istri terdahulunya menerima lelaki ini.

Wanita yang pertama kali ia nikahi dan punya tiga orang anak sebagai buah cinta mereka, ternyata mau menerimanya kembali setelah dia meninggalkan istrinya dan memilih wanita lain. 

Istri pertamanyalah yang setia mendampingi hingga akhir hayat. Memang terkadang cinta tak mengenal logika.

Kisah kedua adalah tentang seorang istri yang ketahuan selingkuh di depan mata suaminya, dengan orang yang pernah bekerja di rumahnya. Lelaki ini sempat pergi meninggalkan luka. Istrinya pun tinggal sendiri karena lelaki simpanannya pada akhirnya pergi juga.

Suatu ketika wanita ini sakit dan harus dioperasi. Ada bagian tubuhnya yang harus dioperasi, perlu diangkat dan dibuang agar kanker tak menyebar ke seluruh tubuhnya. Ternyata saat dia di rumah sakit dan yang merawatnya hingga kini adalah mantan suaminya.

Sepertinya mereka sudah rujuk kembali.  Kini lelaki tersebut menjadi suami wanita tadi. Mereka menghabiskan sisa hidup di akhir masa senjanya.

Berbahagialah dan jangan kecewakan pasanganmu. Merekalah tempatmu pulang dan menghabiskan sisa usia.

Ternyata hanya cinta yang bisa menerima kembali pasangannya setelah disakiti.  Setiap perjalanan hidup sendiri atau orang lain bisa kita ambil hikmahnya.


Salam,




Lima Tahun di Awal Pernikahan adalah Fase Terberat, Simak 3 Faktanya!

Sumber: Pinterest

"Barakallah ... selamat ya, semoga samawa dan langgeng."

Ucapan inilah yang umum diucapkan pada pengantin baru. Saya juga mendapatkan ucapan tersebut ketika menikah empat tahun lalu.

Pernikahan adalah hal yang dinantikan seorang wanita. Indahnya pernikahan, memiliki pasangan yang menemani hidup kita, punya tempat bergantung dan berbagi kisah bersama.

Kebahagiaan ketika awal menikah dan manisnya honeymoon, yang mengalahkan manisnya madu. Halah ...

Kita bisa menemukan  pasangan yang bisa tetap mempertahankan keharmonisan dan keromantisan pasca menikah sampai usia senja. Rahasianya apa, ya? Hehe ...

Sudah banyak yang menyatakan bahwa lima tahun di awal pernikahan adalah masa tersulit bagi kedua pasangan. Mengapa?

Simak saja 3 fakta mengenai lima tahun pertama di awal pernikahan.

1. Fase Penyesuaian dan Realisasi

Setelah menikah, Kita mulai hidup bersama seseorang yang bergelar suami. Seseorang yang membawaku Kita ke dalam dunia baru, yaitu dunia pernikahan.

Setahun  bahkan dua tahun menikah, ada diantara pasangan yang mungkin kaget dengan kebiasaan pasangan yang "enggak banget" dan baru ketahuan setelah menikah.

Inilah fase penyesuaian kedua pasangan untuk membuat pasangannya saling nyaman satu sama lain. Kenyataan terkadang tak seindah realitas hidup. Tetep berjuang untuk mewujudkan pernikahan yang diridainya. Saling memaklumi, memaafkan dan mengingatkan satu sama lainnya sangat penting.

Harus dicatat bahwa cara menyampaikan sesuatu terhadap pasangan perlu dikomunikasikan dengan baik. Niat yang baik harus ditempuh dengan cara yang baik pula.

2. Zona Nyaman yang Berbahaya

Bagi saya sendiri yang mau menginjak lima tahun usia pernikahan, memang saya sadari ternyata menikah itu tak selamanya indah, mudah, dan bahagia. Semua bisa kita upayakan memang, tetapi perlu adanya timbal balik dari kedua pasangan.

Kesibukan kedua pasangan, kelelahan suami selepas bekerja seharian atau istri yang juga lelah mengurus anak atau pun  juga ada yang ikut berkerja di luaran sana, membuat kehidupan pernikahan tidak sehangat dulu. Hal ini bisa terjadi ketika pernikahan menginjak usia tiga sampai empat tahun pernikahan.

Di sinilah kedua pasangan harus mampu saling membahagiakan satu sama lain.  Jangan sampai menjadi zona nyaman yang berbahaya karena merasa pernikahan baik-baik saja tapi ternyata ada kehampaan di hati salah satu atau kedua pasangan.

Ketika dua fase di atas belum bisa dilalui pasangan, ada kemungkinan terjadi perceraian selama lima tahun pertama setelah menikah.

3 . Fase Penerimaan Kedua Pasangan

Ada pasangan yang bikin iri, sudah sampai kakek dan nenek pun saling bergandeng tangan, saling tertawa bahagia dan mencintai satu sama lainnya hingga akhir hayat. Kita tak pernah tahu apa yang mereka alami sebelum ini.

Yang pasti mereka sudah mengarungi kehidupan pernikahan lebih lama dan punya banyak pengalaman hidup. Kita tak tahu apa yang pernah mereka lewati sebelumnya.

Setelah melewati dua tahapan sebelumnya. Tahun kelima adalah masa penerimaan pasangan. Mereka sudah mampu saling menerima satu sama lainnya. Saling mendukung dan tidak menghakimi. Komunikasi adalah hal yang sangat penting untuk kedua pasangan menikah.

Kisah Habibie dan Ainun adalah salah satu inspirasi bagi saya. Saling setia, mendukung dalam setiap langkah, mencintai dengan setulus hati juga rela berkorban demi pasangan. Sungguh  pasangan yang jadi teladan. Cinta mereka tetap terpatri meski salah satu pasangan sudah menghadap Illahi.

Semoga Sahabat yang belum menikah setelah membaca artikel ini bisa segera dipertemukan dengan jodoh terbaiknya

Bagi pasangan yang baru menikah, semoga bisa melewati gelombang di lima tahun awal pernikahan, dan bagi pasangan yang sudah lama menikah, bisa menjalani kehidupan pernikahan yang samawa, berkah, dan langgeng hingga ke surga-Nya.  Aamiin.


Salam,