Showing posts with label Fiction. Show all posts
Showing posts with label Fiction. Show all posts

Merenda Impian

Merenda Impian
Merenda Impian

Senja kembali datang lagi
Tak lama lagi malam pun tiba
Setelah sekian lama kuberhenti
Rasanya berat untuk mengakhiri

Setiap langkah meninggalkan kenangan
Kembali kumenyimpan asa
Menjeda dalam diamku
Kuingin merenda impian seperti dulu

Mungkin lelah, mencari arti ...
Ketika semua tak lagi sama
Bulir air mata luruh jua
Haruskah kukembali?

Penghujung Malam di Kota Kembang, 29 Maret 2019

Reuni, Tak Hanya Melepas Rindu

Pic by Pinterest

Aster kebingungan ketika harus memilih baju apa yang harus ia kenakan besok? Suaminya, Adi hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang mengobrak-abrik isi lemari. Ia sadar selama ini Aster sudah nyaman dengan pakaian kebanggaan para Emak sedunia, yaitu daster.

Adi melihat raut kecewa diwajah istrinya. Ia pun paham, sejak lama istrinya belum membeli baju baru. Tadinya Adi akan membeli sepatu baru untuk dipakai ke tempat kerjanya karena sepatu yang ia kenakan seringkali basah menembus kakinya saat hujan tiba, tapi ia tak ingin istrinya bersedih.

"Ayo Kita jalan-jalan! Ayah ada rezeki, Ibu bisa pilih baju dan kerudung baru buat dipakai reuni esok," ucap suaminya.

Aster bahagia tak terkira. Ia cepat-cepat berganti pakaian dan mengajak Rosa putrinya menaiki motor vespa andalan suaminya. Meski kadang Aster kurang suka naik vespa apalagi kalau mesinnya tiba-tiba berhenti di tengah jalan.

Ia sadar, suaminya hanyalah pegawai pabrik biasa. Meski Aster dulu seorang pegawai bank yang modis kini penampilannya jauh dari kata modis. Tak apalah yang penting keluarnya bahagia meski hidup sangat sederhana.

Aster rela meninggalkan kehidupan mewah keluarganya dulu demi Adi yang selalu ada untuknya. Pria sederhana teman kuliahnya dulu, pria baik dan penuh tanggung jawab meski harus bekerja keras agar bisa membiayai kuliahnya.

Ia tersenyum ketika suaminya meminta untuk membeli baju. Sebuah gamis sederhana berwarna tosca, warna kesukaannya. Sebenarnya ada rasa ragu dihatinya untuk menghadiri reuni. Pasti  mereka akan membicarakan kesuksesannya masing-masing.

Sedangkan ia merasa bukan apa-apa di hadapan mereka. Aster kini hanyalah wanita biasa yang kesehariannya mengurus anak dan full time ada di rumah. Sudahlah ia pun ikhlas dengan keadaan ini.
Akhirnya reuni pun tiba. Seperti yang ia kira, penampilannya kini seperti menuai kontra di kalangan temannya.

"Ini beneran Aster, kan? Beda banget, ya. Enggak nyangka pakai gamis biasanya kan pakai rok mini waktu jadi teller bank dulu. 

Dunia memang banyak berubah, ya," ucap Lulu rekannya saat bekerja di bank dulu.

"Iya, Lu. Aku sudah berhijrah sekarang." 

Aku menanggapinya dengan senyum, meski kutahu mereka seperti memandangku sebelah mata.

Percakapan pun membicarakan kehidupan pribadi masing-masing. Marni, teman sekelasnya waktu SMU kini terlihat berbeda sekali. Dulu masih culun, kini cantik, seksi bak artis. Ia hanya mampi sebentar lalu pulang lagi.

"Ah, pantes aja kayak gitu. Lihat dong hidupnya. Istri keempat pejabat, pantes kerjanya cuman shopping sama nyalon," ujar Arti sambil merasa iri dengan kehidupannya.

Semakin tak nyaman dengan pembicaraan ini, Aster berpikir untuk pulang saja. Rosa memang sedang berada di rumah ibunya. Jadi ia tenang karena anaknya ada yang menjaga.

Ia buru-buru pamit pulang kerena ternyata gerimis pun jatuh membasahi bumi, tapi seseorang menghentikan langkahnya. Aster menepis tangan seorang pria yang menggenggam tangannya.

"Rico ...?!" Tanya Aster keheranan. 

Bukankah Rico sedang berada di Jerman? Dulu ketika Rico mengajak Aster pacaran, ia menolaknya karena sudah dipinang Adi.

Aster mendapatkan kedua matanya berpandangan dengan Rico. Ia mengucap istigfar, dari cerita mereka tadi, ia tahu bahwa Rico sudah bercerai dengan istrinya karena istrinya selingkuh.

Rico menatap Aster dengan tatapan penuh cinta, hal inilah yang membuat Aster tak enak hati ...

Gerimis pun menyentuh taman hati Aster. Ia sempat menaruh hati pada Rico sebelumnya. Ia gemas karena lelaki ini tak pernah mengucapkan kata serius untuk menjalani sebuah hubungan.

Aster mengucapkan kalimat istigfar dalam hatinya. Ia teringat putrinya, Rosa dan Adi suaminya. Meski terkadang orang tuanya kurang respek pada Adi karena pekerjaannya hanya sebagai buruh pabrik.

Bagiku Adi adalah lelaki terbaik yang dipilihkan Tuhan untuknya. Ia mengingat semua kebaikan suaminya. Senyum teduhnya tak mungkin ia khianati demi seseorang di masa lalu.

Aster lalu menjauh dari Rico. Ia mengucapkan maaf dan menepi dari gerimis yang sempat membuatnya terkenang masa lalu.

Gerimis pun masih membasahi taman hati Aster, kini pelangi muncul selepas hujan setelah Adi datang dengan senyuman.

"Maaf, vespanya mogok di jalan. Aku telat menjemputmu." Aster melihat sepatu Adi yang kebasahan, ternyata sepatunya bolong. Ia ingat kemarin Adi menyuruhnya membeli baju baru padahal sepatunya sudah bolong.

Ah, suamiku ... maafkan Aku!

Aster pun membalas senyum Adi dengan penuh cinta. Baginya setelah acara reuni tadi. Reuni tak hanya melepas rindu di masa lalu, tapi juga untuk mensyukuri semua yang ia punya.

Bukan harta berlimpah yang dia miliki, keluarga yang sangat ia cintai dan juga mencintainya.

Harta yang paling berharga adalah keluarga. Istana yang paling indah adalah keluarga.

***

Salam,

Leannie Azalea
Kota Kembang, 26 Maret 2019









Jawaban yang dinanti Sekar (Part 2-End)

Langit by instagram.com_kawanimut

Alnita : Jangan kamu pikir aku tak terluka. Aku yang lebih dulu mengenal  Prasetya. Sejak kecil Pras adalah tetanggaku. Ayah pindah tugas saat aku kelas 5 SD. Saat itulah kita bertemu, Sekar.  Bukankah aku sudah bilang ada seseorang yang kucintai sejak dulu. Dialah Pras. Pras tak mengenaliku, saat kuceritakan kami adalah tetangga ketika masih kecil, dia pun melamarku.

Sekar:  Jika kau menganggapku Sahabat mengapa tak kau ceritakan tentang dia. Apa harus hubungan persahabatan kita terputus gara-gara Prasetya.

Alnita: Apa kau tak tahu sejak kau sebut namanya dalam kisahmu, hatiku juga teriris. Selama tujuh tahun kau melukaiku. Sekarang Pras sudah memilihku. Tolong, jangan menyakitiku lagi dengan berada diantara kami!

Kedua sahabat ini diam membisu. Taman yang dulunya tempat favorit mereka menceritakan kisah bahagia, tawa dan menjadi saksi keakraban mereka, kini ikut menangis pilu.

Bagai tak saling mengenal satu sama lain, mereka membalikan badan ke arah berbeda. Ada derai air mata yang mengalir ketika gerimis turun. Rinai hujan menyapu kepedihan dua sahabat yang dulunya begitu dekat dan tak terpisahkan.

*

Kini, Prasetya menjadi jurang pemisah dinding hati keduanya. Pras tak pernah berhenti menghubungi Sekar, meskipun seminggu kemudian dia akan menikahi Alnita. Gadis itu tak pernah sekali pun membalas pesan atau mengangkat telepon Prasetya.

Di ujung jalan menuju rumah Sekar, Pras menunggunya. Sepertinya Sekar sudah tak menganggap keberadaan pria yang namanya telah terukir dalam jiwa gadis cantik bermata bening itu. Ia berlalu saat Pras memanggil namanya.

"Sekar Arum, kumohon izinkan aku bicara. Sebentar saja, please!" Pras menggenggam tangan Sekar.

"Jangan kau sentuh Aku! Bicaralah, waktumu hanya sebentar," jawab Sekar dingin.

"Aku hanya mencintaimu, Sekar. Percayalah!" Pras mencoba meyakinkan Sekar dengan menatapnya lekat.

"Hah? Kau bilang mencintaiku, tapi seminggu kemudian akan menikahi Alnita, sahabatku. Tega sekali, kau, Pras. Kau pikir aku bodoh?"  tegas Sekar muak melihat wajah pria yang dulu dikaguminya.

"Ayahku berhutang banyak pada ayah Alnita. Aku terpaksa menikahinya. Kulakukan demi ayah. Setelah setahun aku akan bercerai dengan Alnita dan menikahimu. Tolong jangan pergi, aku tak bisa hidup tanpamu, Sekar. Kau tahu aku mencintai dulu, sekarang dan nanti," ucap Pras berkaca-kaca.

"Jangan kau permainkan pernikahan. Cobalah mencintai Alnita, dia begitu mencintaimu. Lupakan saja kenangan tentang kita. Tujuh tahun adalah waktu  singkat dibandingkan pernikahan yang seumur hidup janjinya harus kau pegang. Selamat tinggal, Prasetya!" Sekar berlari ditengah gerimis yang juga turun di relung hatinya.

Bagaimana mungkin dia bisa menantikan Pras yang seminggu lagi akan menjadi suami sahabatnya.

Apa-apaan kau, Pras? Enak saja kau mempermainkan hati kami berdua. Kau bilang setelah setahun akan menikahiku? Maksudmu, aku akan jadi simpananmu? Aku tak sudi!  Bagaimana bisa aku menunggumu selama setahun, sedangkan kau hidup satu atap bersama Alnita.

Apa yang kau lakukan dengan istrimu, aku tak kan tahu. Bagaimana jika nanti istrimu hamil dan punya seorang anak? Memang kau pikir aku tega merenggutmu dari istri dan anakmu?

Tidak, Pras. Aku mencintaimu tapi aku tak mau gelap mata. Meski harus membunuh perasaanku sendiri, itu akan kulakukan. Inilah takdir kita. Jalan hidup tak mengizinkan kita merengkuh bahagia bersama.

**

Tuhan ... aku kembali pada-Mu.

Sekar melangkahkan kakinya menuju masjid, bukan ke rumahnya. Di sinilah dia ingin menyendiri. Kini hanya Tuhanlah pelita hidupnya.

Jam menunjukkan pukul setengah enam sore. Sekar menatap sekumpulan anak yang sedang mengaji dengan seorang yang tak asing baginya.

Muhammad Langit Ramadan, ya, itu pasti dia. Langit pun sempat memandangnya sekilas kemudian menundukkan pandangannya. 

Sejak di Sekolah Menengah Pertama, ketua Osis di sekolahnya memang tak pernah sekali pun mengajak Sekar bicara. Meski Sekar pun bendahara Osis tapi Langit tak pernah menyapanya.

Sekar tak pernah menyangka bertemu kembali dengan Langit karena saat masuk SMU, Langit pindah ke luar kota, entah ke mana.

Ia memperhatikan Langit yang sedang mengajar anak-anak sekitar kompleksnya mengaji. Langit pun terlihat memerah. Ia menundukkan pandangannya saat kedua netra mereka bertemu.

Ternyata Langit menjadi imam salat Maghrib di masjid. Hati Sekar seakan damai dan adem mendengar fasihnya lantunan alquran yang dibaca Langit. Seketika hatinya juga bergetar. Ia meneteskan air mata di tengah sujud panjangnya.

Ya Allah, tolong bimbing aku. Angkatlah semua perih yang kurasa selama ini.

Saat bada salat isya, Langit beserta orang tuanya ke rumahku. Ada apa ini? Ternyata kedatangan Langit ke kotaku adalah untuk meminangku. Aku tak menyadari sudah dua bulan Langit tinggal di kota yang sama denganku.

Siapa yang mampu menampik pesona Langit? Aku pun hanya menggangguk dan tersenyum saat diminta jawaban atas kesedianku menjadi istrinya.

Terima kasih Tuhan. Inilah jawaban yang dinanti Sekar. Kelak Langit adalah tempatnya berteduh, bersandar, dan  mengarungi bahtera hidup bersama. Satu untuk selamanya, hingga menuju jannah-Nya.

Selamat tinggal masa lalu, aku kan melangkah ... bersama Langit yang menjadi pelabuhan terakhirku. Sekar Langit, nama yang sebulan kemudian tercantum pada undangan tosca pernikahan kami.

Sekar Arum Khairunnisa dan Muhamad Langit Ramadan terukir di Ar-Rasy-Nya. Alhamdulillah.

***

Kini ... usai sudah segala penantian panjangku

Setelah kutemukan dirimu, duhai kekasihku

Kini .. akan kulabuhkan hidupku

Karena kaulah cinta terakhirku

(Cinta Terakhir_Ari Lasso)


Leannie.Azalea
Kota Kembang dalam Sunyi, 17 Desember 2018


Salam,









Jawaban yang dinanti Sekar



Pic by Pinterest


Kuberlari ... kau terdiam
Kumenangis ... kau tersenyum
Kupergi .. kau kembali
Kucoba meraih mimpi
Kaucoba tuk hentikan mimpi
Memang kita tak kan menyatu ...

***

Lantunan lirik lagu yang berjudul "Harus Terpisah" dari Cakra Khan begitu menyentuh kalbu Sekar saat mendengarnya. Entah karena liriknya yang pilu atau karena menggambarkan isi hatinya saat itu.

Sekar tak bisa membayangkan bagaimana Pras menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping. Penantiannya selama tujuh tahun luluh lantah mendengar kabar bahwa Pras akan menikah dalam waktu dekat.

Berbagai pertanyaan ada di benak Sekar.

Jika Pras tak menaruh hati padanya mengapa ia pernah menjanjikan akan mengenalkan Sekar pada keluarganya?

Jika Pras tak pernah punya perasaan terhadapnya mengapa tatapan matanya menyiratkan hal bahwa ia pun punya perasaan yang sama dengan Sekar.

Jika Pras tak peduli padanya mengapa Pras selalu ada saat Sekar membutuhkannya?

Jika Pras tak menyayanginya mengapa ia menjadi orang pertama yang datang ke rumah sakit ketika Sekar sakit?

Sekar tak merasakan berapa banyaknya air mata yang mengalir karena  penat memikirkan semua ini. Pantas saja Pras belakangan ini menghilang. Sekar menganggap Pras sedang tugas ke luar kota sampai tak pernah menghubunginya.

Saat ia menerima satu undangan berwarna merah jambu, hatinya kembali teriris. Undangan pernikahan Pras dan Alnita. Pras menikahi sahabatnya sendiri. Sahabat semasa kecil dan selalu ada juga untuk Sekar. Sakit rasanya dikhianati sahabat juga orang yang disayanginya.

Alnita ... kupercayakan rahasiaku padamu. Kau selalu mendengarkan ceritaku bersama Pras. Kukira kau teman terbaikku, ternyata kau juga ikut menusukku dari belakang.

Pras ... mengapa kau melukis luka setelah menawarkan indah pelangi dalam hidupku?


Leannie.Azalea
Kota Kembang, 13 Desember 2018 


#Flashfiction
#Jawabanyangdinantisekar

Terdesak




Namaku Tania, usiaku kini menjelang seperempat abad. Aku putri pertama dari dua bersaudara, adikku juga perempuan. 

Adikku tercatat sebagai siswi kelas 2 SMA swasta di kota kelahiran kami. Orang bilang aku imut-imut, mungkin karena tinggiku hanya 148 cm, wajahku tirus dan berat badanku dibawah 50 kg. Bahkan adikku saja lebih bongsor dari pada diriku.

Sejak dua tahun yang lalu aku menikah dengan lelaki pilihan ayahku, Andika. Meski sudah menikah dua tahunKami
lamanya, kami belum diberikan anugerah buah hati. Aku dan suami sebenarnya merindukan kehadiran sang buah hati, namun kami ikhlas kalau ternyata Dia belum memberikan apa yang kami harapkan.

Andika tadinya adalah seorang marketing produk properti, namun perusahaan yang menaunginya kini tengah gulung tikar. Terpaksa ia dan juga karyawan lainnya di rumahkan alias di PHK. Kehidupan harus terus berjalan. 

Andika berusaha memenuhi kebutuhan hidup kami. Ia mengajukan berbagai lamaran kerja, namun semuanya belum berbalas, hanya sekedar telpon untuk interview kemudian seperti ditelan bumi, tak ada lagi kabar selanjutnya.

Andika hanya pasrah, ditengah rasa jenuhnya karena tidak bekerja dan hanya di rumah saja, ada kabar mengenai lowongan pekerjaan untuknya, sebagai bartender di sebuah cafe.

"Bro, gimana kabarnya?" tanya Gani, suaranya sayup-sayup kudengar dari gawainya Mas Andika.

"Kabarku baik, hanya saja aku belum mendapatkan pekerjaan kembali setelah perusahaanku gulung tikar", jawab Andika lirih.

"Sebenernya di cafe tempat kerja Gani butuh karyawan buat posisi bartender, ada yang mengundurkan diri karena pindah ke luar kota." Gani memberikan informasi mengenai lowongan kerja ditempatnya.

"Ok, makasih banyak infonya, Bro. Butuh banget kerja ni, kalau terus-terusan nganggur nanti istri makan apa. Segera surat lamaran kerja disipakan ya, nanti titip dirimu ya. Tolong berikan ke bagian HRD, ok!" ucap Andika.

"Siap, pasti Gani bantu dong, Bro". Gani mengiyakan permintaan Andika.
Meski pekerjaan sebagai bartender sebuah cafe bisa dibilang baru untuknya, Andika menyanggupi, semua hal bisa dipelajari dengan belajar. Itu prinsipnya Andika.

"Alhamdulillah ya, Mas. Akhirnya ada titik terang juga, aku kasihan melihatmu melamar kerja ke sana ke sini tapi belum ada hasilnya," ucapku bersemangat.

"Doakan selalu suamimu ya, Dek!" Andika tersenyum memadang teduh wajah ayu istri tercintanya.

Tania bersyukur sebentar lagi Andika bisa kembali bekerja. Terkadang ada rasa sedih menyelimuti hatinya melihat sang suami hanya bertumpang dagu kemudian hening, menatap langit biru. Kosong, pandangan matanya menerawang tak tentu arah.

"Syukurlah sebentar lagi Mas kembali bekerja," ucap Tania sambil memperlihatkan binar matanya yang bening

Tiga hari kemudian Andika mendapatkan panggilan kerja di cafe tempat Gani bekerja. Keesokan harinya Andika resmi bekerja di Cafe sebagai seorang bartender, atau peracik minuman. Hanya saja dia kebagian sift sore artinya dia berangkat kerja pukul 04.00 WIB kemudian pulang pukul 24.00 WIB.

Sebagai seorang istri, Tania khawatir saat Andika pulang larut malam. Pikirannya mengembara ke mana-mana, ada kekhawatiran yang menyelimuti hati kecilnya. 

Di satu sisi, Tania bersyukur suaminya mendapatkan pekerjaan tapi di
sisi lain, Tania mengkhawatirkan resiko pekerjaan suaminya yang baru.
Selang satu bulan, tiba saatnya awal bulan yang dinantikan semua istri. Ya, tanggal gajian tentunya. 

Andika akan pulang larut lagi, Tania menyiapkan dirinya agar sewaktu suami pulang, Tania bisa menyambut Andika dengan memperlihatkan senyum paling manis.

Tania melirik jam tangannya, sudah jam 02.15 pagi, biasanya Andika pulang ke rumah jam 24.40 WIB karena perjalanan dari rumah ke tempat kerja menghabiskan durasi 40 menit.

Tania mulai gundah. Tangan kanannya di remas-remas beberap kali. Dia
melangkahkan kakinya ke depan dan ke belakang secara bergantian, meskipun bola matanya tengah meredup, Tania berusaha tetap terjaga demi menyambut kedatangan Andika.

Pintu rumah terbuka. Terdengar derap langkah kaki seorang lelaki masuk ke rumah mungil nan cerah terlihat dari warna dinding rumah yang penuh warna ceria. Andika menjatuhkan badannya di sofa, Tania hanya memandang wajah suaminya. Begitu Tania mendekati sang suami tercium aroma lekat dari minuman yang teramat mengganggu penciumannya. 

Sepertinya Andika Mabuk. Tania tak menyangka hari ini dia akan bertengkar untuk yang pertama kali dengan lelaki yang menjadi panutannya.

"Coba jelaskan kenapa semua ini bisa terjadi, kenapaaa?!" tanya Tania sambil menahan amarah yang bersemayam di hatinya.

"Maaf istriku, aku hanya terdesak keadaan ... " jawab Andika 

"Maksudmu?! Aku tak mengerti mengapa dikatakan terdesak, Haah!" tiba-tiba intonasi Tania meninggi.

"Iya, Aku hanya mendengarkan saran temanku saja, cuman seteguk kok, hanya setetes minuman itu menyentuhku," jawab Andika.

"Bagaimana mungkin hanya seteguk sedangkan nafasmu, bajumu beraroma alkohol begini!" protes Tania

Tania benar-benar kecewa dengan Andika, bagaimana mungkin ia mengatakan dirinya terdesak kemudian memilih minum minuman yang memabukkan dirinya.

Anggrek dan Lara


Foto: Pexels.com


"Tunggu, jangan pergi, Anggrek!"

Ibu menghadang kepergian putri cantik semata wayangnya sambil berlinang air mata.

Anggrek buru-buru memasukkan baju dan perlengkapannya ke dalam koper. Ia tak sanggup menatap sendu wajah ibunya.

Setengah berlari, ia pergi mengejar mimpi Indah seperti Lara, sahabatnya pergi ke Kota.

Saat ia hendak naik bus menuju kota metropolitan, satu tangan mungil menggenggam tangannya.

"Ibu ... jangan pergi, kalau ibu enggak ada nanti Hasna belajar sama siapa?" tanya gadis manis bermata bulat yang kini tengah menatap wajahnya.

Anggrek membungkukkan punggungnya dan mengusap lembut rambut panjang Hasna.

"Hasna, anak baik, biar ibu enggak ada, kan ada guru lain yang menggantikan. Jangan lupa belajar yang rajin supaya jadi anak pintar." 

Anggrek berpamitan pada Hasna karena bus yang ia naiki sudah tiba. Sepanjang jalan Anggrek termenung, 4 tahun dirinya menjadi guru honorer di desa. Ia ikhlas sebenarnya namun berharap medapatkan penghasilan cukup untuk membawa orang tuanya ke Mekah.

Sesampainya di kota Metropolitan, Anggrek mencari Lara karena menjanjikan pekerjaan bergaji besar.

Anggrek sangat tertarik dan memutuskan meninggalkan pekerjaannya sebagai guru honorer, dan meninggalkan orang tua untuk bertemu Lara, sahabatnya.

Semua impiannya luruh, saat tak sengaja melihat Lara turun dari sebuah mobil menggunakan bikini dan dipeluk oleh om-om berdasi masuk ke dalam hotel.


-The end-

Tulisan ini merupakan sebuah Flash Fiction yang diikutsertakan dalam One Day One Post Estrilook Community Day 6.

Lupa

Puisi tentang Lupa,
via unsplash.com/Irina



Manusia kadang lupa
Terkadang mereka ingat
Mungkin juga tak ingat
Atau pura-pura lupa


Ia mengukur kebahagiaan
Dengan sepatu orang lain
Membandingkan kehidupannya
Melihat dan menilai dari satu sisi


Manusia lupa bersyukur,
Menghirup embusan udara,
Nikmat sehat,
Punya keluarga yang mencintai


Mungkin ada satu hal
Yang dimiliki orang lain
Tapi ...
Tidak kau miliki


Lupa bersyukur membuatmu lupa bahagia
Maka bersyukurlah ...
Agar nikmatmu bertambah 
Biarkan hatimu dipenuhi untaian kebahagiaan



Leannie.Azalea
Kota Kembang, 19 Juni 2018

Tak Terucap



Puisi tentang sunyi
Puisi Tak Terucap,
via unsplash.com / Giorgio Trivato



"Ketika jarak menjadi bayang semu, saat dekat terasa biasa dan jauhnya jarak semakin terasa rindu. Ingin kukatakan, hanya saja bibir ini kelu, biar kalbu yang menyampaikan bahasa rindu untukmu. Ya ... untukmu selalu, hanya kamu."




Leannie.Azalea
Kota Kembang, 11 Juni 2018

Tak Seindah yang Semestinya

Puisi Tak seindah yang semestinya
Tak seindah yang semestinya,
via unsplash.com/ Aral Tasher



Kutatap langit malam
Kuharapkan sinar rembulan
dan bintang yang berpijar
Namun ...

Yang ada
Hanyalah malam dingin
Tanpa bintang
Tanpa rembulan

Malam gelap
Tanpa cahaya terang
Yang kudamba
Malam tetaplah malam

Embusan pawana berbisik
Dalam kesunyian
Menyibak tirai malam
Malam tetap memesona

Meski tak seindah
Yang semestinya
Aku bersyukur
Akan kehadiran sang malam

Aku tahu
Esok pagi nan ceria
Kan sambut
Dunia hangat dan cerah


Leannie.Azalea
Kota Kembang, 09 Juni 2018

Nuansa Biru


Puisi Nuansa Biru
Nuansa Biru,
via dokumentasi pribadi



Menatap wajah lautan biru
Terpesona indah 
Lembayung yang merona
Saat ia menutup mata senja


Hingga malam pun menyapa dua jiwa
Pertemuan kita dibingkai rasa
Nuansa biru hadir menatap dua insan
Terpaut haru di palung kalbu


Senantiasa biru 
Saat berjumpa denganmu
Denting waktu pun ikut menjadi saksi


Hari ini, esok dan selamanya
Semoga Dia menjaga keutuhan cinta kita
Sakinah bersamamu hingga ke surga-Nya



~Leannie.Azalea~
Bandung, 25 November 2017

Si Cantik

Cerpen Si Cantik
Si Cantik,
via freepik.com




Daisy seorang gadis kecil putri semata wayang di keluarganya sedang merengek minta jalan-jalan.


Daisy merasa ibunya terlalu sibuk bekerja. Ayah Daisy bekerja sebagai pilot di pesawat milik pemerintah. Ayah juga hanya pulang ke rumah saat cuti saja dan itupun bisa dihitung pertahunnya berapa kali.


Daisy akhirnya bisa membujuk ibunya untuk meluangkan waktu menemaninya jalan-jalan ke taman di dekat apartement yang mereka tempati. Raut wajah ibu terlihat suram, berbeda dengan Daisy terlihat sangat gembira. 


Ibu duduk termenung di bangku taman, sedangkan Daisy berlari dengan ceria,tiba-tiba Daisy menabrak seorang nenek tua yang membawa sebuah boneka. Daisy meminta maaf karena tidak sengaja menabrak nenek tadi.


"Tak apa-apa Cu, penglihatan nenek juga sudah kabur jadi tak melihat engkau berlari ke arah nenek" senyum nenek pada Daisy.


"Nenek mau ke mana, kenapa sendirian di sini?" tanya Daisy 


"Nenek menunggu cucu, nenek kangen sama dia."jawab nenek pilu.


Daisy melirik ke arah boneka yang dipegang nenek. Cantik juga boneka itu pikirnya. Nenek itu memberikan boneka tadi untuk Daisy.


Daisy senang bukan kepalang menerima pemberian  boneka cantik tadi, sebaliknya nenek tadi tersenyum mengeringai.


"Mama ... Daisy dikasih boneka ini. Namanya Si Cantik. Cantik, kan, Ma?" Daisy pun menunjukan boneka pemberian nenek.


"Nenek yang mana?"tanya ibunya keheranan.


Saat Daisy melihat ke belakang, ia tak melihat sosok nenek tadi. Daisy tak peduli, hatinya senang karena memiliki teman baru yaitu "Si Cantik".


***
 
Setelah kembali ke rumah, Ibu meminta izin pada Daisy untuk kembali ke kantor. Meskipun saat ini weekend, namun Ibu tetap pergi ke kantor, alasannya banyak pekerjaan yang belum rampung. 


Daisy harus menelan kekecewaan karena ditinggal pergi ibunya. Ia tinggal di rumah dengan Bi Warti. Berhubung putri Bu Warti sedang melahirkan tadi pagi ia meminta cuti untuk menemani anak juga cucu pertamanya.


Daisy sendirian di rumahnya. Bukan pertama kali ia mengalami hal ini. Rumahnya yang besar juga megah membuatnya merasa dingin, Daisy rindu keceriaan, kebahagiaan juga kehangatan cinta dan kasih sayang terutama dari kedua orang tuanya.


Sepanjang malam Daisy tidak bisa tidur. Ia tidur di sebuah kamar yang cukup besar dan hanya sendiri. Eh tidak sendiri tapi ditemani bonekanya, "Si Cantik" ia dekap dalam tidurnya. "Met bobo Cantik"


Si Cantik melepaskan diri dari dekapannya Daisy. Ia tersenyum meneringai. Si Cantik kemudian turun dari tempat tidur Daisy.


Perlahan ia berjalan selangkah demi selangkah menuju ke luar. Si cantik membuka daun pintu dan berjalan menuju beranda kamar apartement. 


Si Cantik memandang bintang terang di malam itu. Ia pun bergumam pada dirinya sendiri. 


"Tenanglah Chantika, kita telah menemukan mangsa baru ..."


Dalam tidurnya Daisy bermimpi bertemu dengan seorang gadis yang mendekap Si Cantik. Gadis itu mengajak Daisy berkenalan dan mengulurkan tangannya.


"Perkenalkan namaku Chantika, akulah pemilik boneka ini. Boneka yang diberi nama Si Cantik. Aku titipkan Si Cantik sama kamu ya..." Chantika tersenyum datar.


"Aku Daisy, senang bisa kenalan sama Chantika. Aku sebenarnya butuh teman, aku kesepian. Kamu mau ya jadi temen aku?" ujar Daisy.


***

"Daisy... Bangun, Nak! Waktunya sekolah, jangan sampai telat ya!" Suara ibu memecah keheningan di kamis pagi.

 
"Yah ibu... Daisy masih ngantuk sebenernya." Daisy pun beranjak bangun dan bersiap-siap pergi ke sekolah.


Daisy harus menerima kenyataan bahwa ibunya lagi-lagi pulang malam, Mba Warti hanya datang pagi-pagi menyiapkan sarapan, beres-beres rumah, siang menyiapkan makan siang untuk Daisy dan datang malam hari untuk menyiapkan makan malam. 


Biasanya Bi Warti menginap di rumah Daisy namun semenjak anak semata wayangnya melahirkan, Bi Warti keberatan menginap di rumah dan ibupun izinkan Bi Warti datang sewaktu-waktu saja di rumah. 


Tinggallah Daisy sendirian, sendiri dalam rumah besar yang sepi. Daisy hanya menghela napas panjang.


***

Waktu berlalu dan tidak terasa kini maghrib telah tiba. Daisy menghela nafas lagi karena ibu juga Bi Warti belum datang ke rumah.


"Untunglah ada Si Cantik jadi aku tak merasa sendiri" ujar Daisy.


"Loh, kok, Si Cantik engga ada ya di kamarku, kok bisa? Kemana kamu bonekaku?" tanya Daisy dalam hati.

Daisy mulai mencari keberadaan Si Cantik di dalam rumahnya, namun ia belum menemukan tanda-tanda keberadaannya.


Ia pun melihat ke arah beranda apartemen rumahnya dan menemukan Si Cantik sedang berada di beranda apartemen. 


Daisy pun berjalan menuju beranda. Saat ia melihat jendela, Daisy melihat sosok anak sebaya dengannya. Chantika. Daisy mengingat wajahnya saat bertemu dalam mimpinya semalam. Chantika memanggil namanya...


"Daisy... Datanglah, temani Aku... Tolong Aku !"

Daisy mengikuti arah suara itu. Ia membuka pintu jendela, sosok Chantika sudah tak terlihat, kemudian Daisy mengamati sekitar beranda apartemennya dan menemukan Si Cantik tergeletak di lantai.


Daisy memeluk si Cantik dan mengusap rambutnya. Saat ia akan kembali ke dalam rumah, seseorang berbisik di telinganya. Dekat dan teramat jelas. Daisy pun tertegun.


"Daisy... Tolong aku, selamatkan diriku. Temani aku!


"Siapa kamu, kamu Chantika bukan?" tanya Daisy.


Saat Daisy melihat ke arah sekitar, dia tak melihat siapa-siapa. Daisy berdiri melihat ke arah bawah di balkon apartemennya.


"Non Daisy ... hati-hati jangan berdiri di balkon!" seru Bi Warti khawatir,


Bi Warti kemudian tergopoh-gopoh setengah berlari menghampiri Daisy di balkon apartemennya.


"Non, ngapain sih di sini? Hati-hati nanti Non Daisy jatuh, loh.


"Gak apa-apa Bi Warti, Daisy cuman pengen aja main ke beranda soalnya seharian ini suntuk di rumah dan engga ada yang nemenin." Jawab Daisy sambil manyun.


***

Bi Warti menyiapkan makan malam untuk Daisy juga ibunya. Bi Warti terus melirik jam tangannya, sudah waktunya ia pulang ke rumahnya namun ia terlihat tidak tega untuk meninggalkan Daisy di rumahnya. Ibu Daisy belum juga pulang padahal waktu menunjukan pukul 20.00 WIB. 


Biasanya pukul 19.00, Bi Warti pamit pulang, namun karena khawatir pada Daisy, ia menunggu hingga ibunya pulang. 


Daisy melihat Bi Warti yang cemas. Di satu sisi, ia senang ditemani Bi Warti namun ia juga kasihan juga Bi Warti harus menemaninya padahal anak juga cucunya menunggu Bi Warti di rumahnya.


"Bi Warti, pulanglah ... sudah lama juga bibi menemani Daisy di sini," bujuk Daisy 


"Tapi, Non ... Masa Bi Warti ninggalin Non Daisy di rumah sendirian sih? Bibi khawatir, Non Daisy ...


"Gak apa-apa, Bi ..."


Bibi Warti pun pulang ke rumahnya. Bi Warti gak enak hati meninggalkan Daisy sendirian di apartementnya, mana Ibu Daisy belum pulang, hari menjelang malam. 


Namun, Bi Warti menenangkan dirinya, ia sudah membuatkan makan malam untuk Daisy juga Ibunya. Ia juga memiliki urusan lain di rumahnya. Anak dan cucu pertamanya telah menanti di rumah.


***
 
Daisy mendengar suara itu lagi ... suara Chantika menghantuinya ... Daisy kini benar-benar sendiri di apartemennya. Ia hanya bersama Si Cantik. Daisy bercermin bersama Si Cantik. Daisy melihat sosok lain selain dirinya dan Si Cantik di cermin.


"Daisy, ini aku Chantika ... Ulurkan tanganmu, temani aku di sini, sungguh diri ini kesepian ..."


Daisy mendekap Si Cantik dan menatap cermin, Ia mengulurkan tangannya dan Chantika menarik tangannya ke dalam cermin.  


Si Cantik terduduk manis di atas kursi  yang letaknya persis ada di depan cermin. Boneka Si Cantik pun tersenyum. Tuannya telah masuk perangkap.


***

Ibu pun pulang ke apartement setelah rapat di kantor telah usai. Ibu mencari-cari Daisy ke semua sudut apartement. Daisy menghilang ke mana ya pikir ibunya. Ibunya menatap cermin di kamar Daisy.


Ia melihat bayangan Daisy di cermin, namun Daisy tak ada di kamarnya. Ibu memegang cermin dan mengulurkan tangannya. Seketika cermin tadi mengeluarkan darah dari keempat sudutnya...

***

Rembulan

Puisi karya Leannie
Rembulan,
via freepik.com/kjpargeter




Rembulan bersinar terangi malam
Cahayanya terangi hati yang membisu
Sepinya hari terasa kini
Entah sampai kapan rasa ini sirna


Saat kau lepaskan genggaman itu
Ku berharap semua hanyalah mimpi
Kulukis tanya  sang rembulan
Mampukah cahayamu peluk sukma ini



~Leannie.Azalea~
Bandung, 14 Desember 2017

Asa yang Baru

Puisi tentang Asa
Asa yang baru,
via Freepik.com/bedneyimages




Kutuliskan kisah baru
Setelah kisah lama pergi menjauh
Tersirat suatu asa yang baru
Dalam kotak berbingkai bahagia


Masa yang telah usang
Berganti hari baru yang cerah
Tetes embun menatap sang pagi
Mengharapkan asa yang baru


Bukan hanya sekedar angan
Hanya secarik bahagia kupinta
Pada pagi kupintakan asa yang baru
Secerah senyum mentari pada buana


~Leannie_Azalea~
Bandung,14 Desember 2017