Anggrek dan Lara


Foto: Pexels.com


"Tunggu, jangan pergi, Anggrek!"

Ibu menghadang kepergian putri cantik semata wayangnya sambil berlinang air mata.

Anggrek buru-buru memasukkan baju dan perlengkapannya ke dalam koper. Ia tak sanggup menatap sendu wajah ibunya.

Setengah berlari, ia pergi mengejar mimpi Indah seperti Lara, sahabatnya pergi ke Kota.

Saat ia hendak naik bus menuju kota metropolitan, satu tangan mungil menggenggam tangannya.

"Ibu ... jangan pergi, kalau ibu enggak ada nanti Hasna belajar sama siapa?" tanya gadis manis bermata bulat yang kini tengah menatap wajahnya.

Anggrek membungkukkan punggungnya dan mengusap lembut rambut panjang Hasna.

"Hasna, anak baik, biar ibu enggak ada, kan ada guru lain yang menggantikan. Jangan lupa belajar yang rajin supaya jadi anak pintar." 

Anggrek berpamitan pada Hasna karena bus yang ia naiki sudah tiba. Sepanjang jalan Anggrek termenung, 4 tahun dirinya menjadi guru honorer di desa. Ia ikhlas sebenarnya namun berharap medapatkan penghasilan cukup untuk membawa orang tuanya ke Mekah.

Sesampainya di kota Metropolitan, Anggrek mencari Lara karena menjanjikan pekerjaan bergaji besar.

Anggrek sangat tertarik dan memutuskan meninggalkan pekerjaannya sebagai guru honorer, dan meninggalkan orang tua untuk bertemu Lara, sahabatnya.

Semua impiannya luruh, saat tak sengaja melihat Lara turun dari sebuah mobil menggunakan bikini dan dipeluk oleh om-om berdasi masuk ke dalam hotel.


-The end-

Tulisan ini merupakan sebuah Flash Fiction yang diikutsertakan dalam One Day One Post Estrilook Community Day 6.

No comments:

Post a Comment

Silakan tinggalkan komentar. Terima kasih atas kunjungannya.

My Instagram