Cerita Idulfitri bagi Kami yang tak Pernah Mudik

Cerita Idulfitri bagi kami yang tak pernah mudik
Keluarga kecilku, abaikan Dzaky yang susah di foto 😅

Silaturahmi bersama keluarga dan sahabat jadi pengalaman yang penuh kesan di moment Idulfitri.

Beginilah berjodoh dengan tetangga, hampir setiap hari bisa berkunjung ke rumah mama. Hehe, tinggal jalan dikit sampai deh. Banyak kemudahan yang saya rasakan ketika dekat orang tua.

Bagi keluarga kami yang tak pernah mudik, kemacetan, kelelahan saat perjalanan, rasa bahagia yang membuncah saat menginjakkan kampung halaman mungkin tak pernah dirasakan karena orang tua dan mertua tinggal berdekatan dan masih satu RT.

Baca juga: Mengatasi kelelahan mudik dengan cara ini


Kadang Mama mengirimkan makanan, kue lebaran, ngasih Dzaky baju dan lain-lain. Ah ... malu rasanya saya sendiri jarang memberi, malah jadi pihak yang diberi.

Beginilah nasib anak yang enggak hobi masak atau bikin kue. Masakannya itu-itu aja dan masakan atau kue buatan mama selalu luar biasa. Padahal mama saya adalah seorang pekerja tapi setiap hari selalu menyempatkan memasak dan kadang mengirimkannya pada saya.

Setiap tahunnya mama selalu membuat kue untuk hari raya. Saya sering dikirim mama makanan karena dekat dengan beliau. Enak pake banget. Hehe, alhamdulillah 😄

Punya mertua dan orang tua berdekatan jaraknya, otomatis setelah menikah, saya dan suami tak pernah mudik. Mau mudik ke mana, masa mudik cuma dari RT 01 ke RT 05. Rumah saya di RT 01, sedangkan rumah orang tua kami di RT 05, beda RT tapi tetap aja deketan.

Kami menikah sudah empat tahun lebih, tahun ini menginjak tahun kelima pernikahan. Nano-nano rasanya. Benar sekali merasakan lima tahun pertama pernikahan adalah fase yang cukup berat. Fase penyesuaian kedua pihak terutama. Sudah empat kali berlebaran tanpa mudik, apa saja kegiatan kami selama ldulfitri?

Tahun ini moment Idulfitri kami rayakan dengan keluarga besar dan juga sahabat sekaligus rekan kerja suami. Teman-teman saya ke mana, ya? Mereka pada mudik, jadi saya jarang bertamu pada mereka. Tinggallah saya di Bandung saja.

Moment Idulfitri hari pertama keluarga kecil kami berkunjung ke rumah orang tua saya juga mertua. Keluarga saya jarang suka berfoto jadi jarang punya kenangan bareng.

Nah, di keluarga suami ada satu foto kebersamaan Kami ketika Idulfitri hari pertama. Keluarga besar memang, suami anak ketiga dari lima bersaudara. Anak tengah ceritanya, kalau saya anak pertama dari tiga bersaudara dan sama-sama orang Sunda. Hehe 😄 Inilah foto keluarga kami.

Bersama keluarga besar suami

Moment Idulfitri hari kedua, Kami berkunjung ke rumah sahabat sekaligus rekan kerjanya suami. Rumahnya ada di daerah Cikaso, dari Gedung Sate lurus terus ke arah jalan utama sampai tiba di jalan Cikaso. Masuk melalui jalan tadi, kemudian disambut rekan kerja ayahnya Dzaky di depan gapura tempat tinggalnya.

Kesan saya selama lebaran ini, jujur saja saya kekenyangan karena terlalu banyak godaan yang ingin saya cicipi. Beraneka kue lebaran buatan mama, kolang-kaling segar, ketupat dan aneka makanan khas lebaran sayang sekali jika dilewatkan.

Ketika sampai di rumah Sahabat suami, kami disambut dengan berbagai makanan. Makan lagi dan lagi. Hehe ...

Temannya suami bahkan sengaja membuatkan bala-bala atau bakwan, rujak cuka, juga baso. Wah, senangnya, tapi harus waspai timbangan sendiri.

Merasa sekali sebagai tamu dimuliakan dan dijamu dengan baik. Segala ada pokoknya. Tadinya mau ke Punclut buat makan siang, enggak jadi karena kekenyangan.

Ternyata membahagiakan tamu itu begitu dianjurkan bahkan oleh Rasulullah sendiri. Terasa sekali silaturahmi semakin erat dan lekat dengan saling berkunjung.
Alhamdulillah, semoga berkah hidup kita semuanya.

Satu lagi kenangan buat Dzaky yang suka kucing, dia senang sekali berkunjung ke sini karena bisa bermain dengan kucing Persia yang besar sekali. Katanya sih umurnya udah empat tahun dan beratnya lebih dari 4 atau 5 kilogram.

Ini dia foto Dzaky yang excited saat disuruh berfoto dengan kucingnya. (Saya jujur saja geli sama kucing apalagi bulunya, hehe ...)

Dzaky foto bareng kucing persia

Di hari ketiga lebaran, ada acara kumpul keluarga besarnya ayah di Villa Abah, salah satu villa Istana Bunga di Lembang. Nanti akan saya tulis review staycation di Villa Abah Lembang. Ada juga kenang-kenangan keluarga kecil kami di sini.

Staycation bareng keluarga di Villa Abah Lembang

Buat saya moment lebaran bisa diisi dengan ajang silaturahmi bersama keluarga atau pun sahabat. Meski tanpa mudik beginilah cara Kami memaknai Idulfitri. Bagaimana dengan cerita lebaran di keluargamu, mudik ke mana, nih?


Salam,







20 comments

  1. hemat mbak, nggak perlu mudik karna udah deket. wkwkwk..
    itu kalau kata orang jawa namanya pek-nggo, dipek tonggo (diambil tetangga). itu istilah buat orang yang nikah sama tetangga sendiri. hihihi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi, hemat pake banget. Cukup jalan bentar juga nyampe. Hehe

      Delete
  2. Senangnya bisa dekat ortu atau mertua, Mbak.. Selain jadi mudah ketemu kalau kangen, nggak perlu mudik itu menghemat biaya banget *curcol kwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bener banget. Enggak pernah galau karena enggak bisa mudik, kan bisa sering ketemu ortu. Alhamdulillah bebas biaya mudik. Hehe

      Delete
  3. wah, dapet tetangga sendiri, ya. praktis nih kalau lebaran ga perlu mudik.
    aku merantau sih. walau ortu ikut aku, tetep aja kalau lebaran mudik ke rumah ortu karena kangen suasananya.

    ReplyDelete
  4. senangnya mbak bisa dekat selalu dengan orang tua, kalo lebaran..hemat biaya mudik dan setiap hari bisa berkunjung :)

    ReplyDelete
  5. Wah enak ya mbak, lebaran gak perlu mudik, karena rumah orang tua dan mertua dekatan, dan tinggalnya juga cuma nyeberang RT saja. Begitu ya kalau jodohnya tetangga rumah, hehe. Kalau saya sejak nikah belum ada kesempatan mudik, padahal udah tiga kali ramadan tiga kali lebaran. Ah, jadi kangen lebaran bareng keluarga ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, pasti kangen ya sama keluarga. Moga bisa dapat kesempatan lain mengunjungi keluarga, ya, Mbak

      Delete
  6. aku kalaupun mudik, mudiknya ke kampung orang mbak :D

    ReplyDelete
  7. Ak tahun inj mudik k Jakarta 10 hari, mba Lia. Setelah 4 tahun sejak tinggal di Malang nggk pernah lebaran d Jkt. Happy banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah bisa berkumpul bareng keluarga, ya, Mbak.

      Delete
  8. Samaan mbak, saya juga nggak pernah mudik karena rumah nenek saya hanya jalan kaki beda RT

    ReplyDelete
    Replies
    1. Deket, ya, Mbak. Enak, enggak susah buat silaturahmi.

      Delete
  9. Sama Mbak, dirimu gak sendiri. Saya pun juga jarang mudik. Ini aja udah tahun ke3 Lebaran gak ikutan mudik ke kampung Suami, klo saya sendiri sih emang gak mudik, secara keluarga besar dari saya emang tinggal di kota yang sama dan kami klo Lebaran ya saling berkunjung. Ngumpul di rumah Mama, Tante dan Kakak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ternyata banyak yang samaan. Idulfitri memang berkesan bagi setiap orang dan keluarga

      Delete
  10. Jadi kangen keluarga deh.
    Lebaran kemaren kami hampa, ga ke mana-mana, ga juga makan kue lebaran hahaha.
    Kangen sama orang tua, apa daya nggak bisa pulang.

    Kalau berjodoh dengan tetangga itu enak juga ya, setidaknya bebas biaya mudik, dan biaya mudik bisa diganti dengan kegiatan jalan-jalan bareng.

    Tapi kalau bagi kami, mau jalan2 itu mikir, lah wong biaya mudik saja sungguh butuh waktu setahun ngumpulin pun kadang belum cukup hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, pasti, ya. Mengingat sekarang tiket pesawat juga mahal. Moga lebaran tahun depan dimampukan pulkam sekeluarga, ya, Mbak.

      Delete

Terima kasih atas kunjungannya. Moderasi komentar saya aktifkan, ya. Komentar akan muncul setelah saya setujui. Mohon tidak berkomentar sebagai anonim atau menyertakan link hidup. Link hidup akan saya delete. Maaf jika ada komentar yang belum terbalas.