Circle Pertemanan Berkurang setelah Dewasa, ini Penyebabnya!

Penyebab pertemanan berkurang
Penyebab circle pertemanan berkurang saat dewasa, via Pexels dan Canva

Pernah nggak merasa kalau semakin dewasa circle pertemanan berkurang? Apa ya penyebabnya? Ke mana para Bestie yang dulu sering jalan bareng, belanja bareng, temen curhat semasa sekolah, kuliah atau kerja? Jumlah teman yang masih terhubung hingga kini bisa dihitung dengan jari. 


Jumlahnya teman semakin berkurang seiiring usia bertambah, mungkin ada beberapa orang atau bahkan hanya satu atau dua orang saja yang masih rutin bertanya kabar atau bahkan ketemu langsung.


Saya jadi merasa kalau mencari sahabat yang satu frekuensi ini lumayan susah buat saya. Faktor lingkungan atau usia juga berpengaruh. Mungkin dulu zaman masih sekolah atau kuliah, Kita terbiasa ketemu bareng di kelas saat belajar, jadi sering ngobrol bareng bahkan jalan bareng. Sekarang nggak seperti dulu pastinya.

 


Penyebab Circle Pertemanan Berkurang saat Dewasa 


Simak, yuk, kira-kira apa saja yang menjadi penyebab circle pertemanan berkurang saat dewasa!


1. Menghindari toxic people

Toxic people, orang yang secara tidak sadar membuat orang lain tidak nyaman dengan ucapannya maupun tingkah lakunya. Semakin Kita dewasa, semakin bisa memilah mana yang cocok dijadikan teman atau Sahabat.


Ternyata pada kenyataannya, engga banyak orang yang bisa saling ngertiin, tanpa julid, bahkan ada yang menusuk dari belakang dengan menyebarkan aib atau kekurangan orang lain. Ya sudah. Bye !


Sebaiknya jangan mudah percaya orang yang baru kenal, apalagi menemukan orang yang sepertinya kepo  atau senang mengorek kehidupan pribadi orang lain. Saya pikir sebagai seorang perempuan, Kita bisa saling support. Nyatanya banyak ucapan yang bikin orang lain insecure


Merasa diri sendiri lebih baik kemudian memandang orang lain tidak lebih baik darinya juga termasuk type orang toxic. Membandingkan dirinya, anak, pekerjaan suami atau bahkan masalah anak sekolah di mana pun dibesar-besarkan pula.


Mau disekolahkan di sekolah swasta favorit sekalipun, perlu dibimbing lagi oleh orang tua di rumah. Masalah anak les atau nggak pun dibahas terus, duh padahal ya, apa sih yang perlu dibanggakan dengan memandang remeh orang lain?


Jika orang tuanya mampu menyekolahkan di sekolah swasta atau sekolah islam terpadu, ya silakan saja. Itu kan hak orang tua. Mau sekolah di negeri pun, pasti orang tua punya pertimbangan tersendiri.

 

Mungkin faktor zonasi biar dekat dengan lokasi sekolah selain pertimbangan biaya, karena tak semua orang mampu secara materi menyekolahkan anaknya di sekolah swasta. Kondisi tiap orang kan berbeda, tidak bisa menyamakan sepatu yang dipakai dengan sepatu orang lain.


Banyak hal yang seharusnya tidak perlu diperdebatkan seperti memperdebatkan full time mom vs working mom, anak disusui asi ekslusif atau diberi tambahan susu formula, memberi makan MPasi alami dengan Mpasi instan, anak melahirkan normal atau caesar. Duh, berat, ya jadi perempuan dikit-dikit dibanding-bandingkan. Itulah kenapa perempuan rentan kena stress bahkan depresi.


Menjauhi toxic people adalah salah satu penyebab jumlah teman semakin berkurang, karena kita bisa menyaring siapa saja yang satu frekuensi, tanpa julid, dan tanpa merasa superior dengan membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain.


2. Faktor menikah

Menikah, tentu saja membuat hubungan pertemanan tidak intens seperti dulu. Nggak bisa bebas jalan-jalan, ngobrol engga kenal waktu. No ... Nggak bisa, setelah menikah punya kewajiban sendiri. 


Setelah menikah, ada anak atau pasangan yang perlu diperhatikan makannya, diurus keperluannya, perlu dibimbing juga belajar di sekolahnya atau ngajinya udah sampai mana. 


Mau nggak mau, menikah memang tidak sebebas dulu waktu masih single, dan kalau pun bertamu ke teman yang udah menikah juga harus tahu batasan. Jangan kebablasan dan harus ingat waktu.


3. Terpisahkan jarak

Bestie yang dulu dekat ke mana ya? Oh, ternyata dia pindah setelah menikah, ikut dengan suaminya atau bekerja di luar kota. Otomatis nggak bisa seperti dulu lagi karena jarak memisahkan. 


Meski bisa terhubung via media sosial tapi kenyataannya tidak sama saat tinggal di daerah yang sama. Kadang yang tinggal satu kota saja agak susah diajak ketemuan, apalagi yang terpisahkan jarak atau tinggal di luar kota.


4. Sudah tidak satu pemikiran lagi

Waktu membuat orang lain berubah, ada teman yang dulunya dekat tetapi setelah sekali dua kali ngobrol, loh kok engga nyaman ya. Rasanya sudah berubah, sudah tidak satu pemikiran lagi. 


Sesekali ngobrol, teman saya mengucapkan selamat karena saya udah bikin buku antologi terbaru. Alhamdulillah dapat respon positif, tapi saat dia bilang minta buku saya untuk dikirimkan gratis, saya jadi mikir lagi.


Ini temen support secara tulus engga sih, bukannya mengapresiasi dengan membeli buku tapi malah minta gratis buku plus ongkir pula. Jangan, ya, Sahabat Catatan Leannie. Jangan minta barang jualan secara gratis karena merasa berteman.


Menulis itu engga mudah, loh. Perlu meluangkan waktu, berpikir, mencari ide, eksekusinya juga kadang mencari celah waktu di sela kesibukan atau aktivitas sehari-hari. 


Jika memang menghargai teman, ya belilah dagangannya. Jika tidak berminat lebih baik tidak perlu beli. Nggak perlu juga nyinyir, bilang mahal atau apalah yang bisa menyinggung temanmu. 


Siapa tahu memang dia lagi usaha buat memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Attitude is numero uno. Utamakan adab ya, meski dengan teman atau sahabat dekat sekali pun.


5. Sahabatmu sekarang adalah yang bener-bener mengerti dirimu

Akhirnya yang tersisa dari circle pertemananmu saat dewasa adalah sosok yang paling mengerti dirimu. Waktu akan menunjukkan siapa saja yang bisa terus bertahan di sisimu sebagai sahabat sejati atau bahasa kerennya, Bestiemu


Setelah saling mengenal beberapa waktu, Kamu bisa menemukan siapa saja yang layak jadi tempat curhatmu. Bercerita dengannya bikin hatimu lega. Lega tanpa merasa dijudge macam-macam. 


Dia yang dengan setia mendengar ceritamu. Tanpa penghakiman tapi bisa memberi saran terbaik bagaimana harus bersikap. Ya, saya rasa memang hanya menemukan beberapa orang saja yang bisa menjadi sahabat sejati. 


Ada teman yang masih dekat sejak zaman SMU, kuliah dan ada juga yang jadi deket saat nganter anak alias jadi macan ternak waktu di TK.  Bahkan ada Bestie yang kini jadi ipar, dari zaman SMU, kuliah, PKL barengan. Sekarang tetap dekat karena ternyata adik-adik Kita berjodoh dan menjadi pasangan suami istri, pasangan sejiwa. Senangnya. 


Teman-teman Blogger juga bisa dikatakan satu frekuensi karena punya ketertarikan yang sama, yaitu menulis dan alhamdulillah dipertemukan dengan Blogger yang baik dan bisa saling support satu sama lain. Sahabat sejati itu ada, meski jumlahnya sedikit dan bisa dihitung dengan jari.


Sahabat adalah teman terbaikmu yang tidak hanya ada saat Kamu ada di titik tertinggi hidupmu. Dia bahkan mendampingi saat Kamu berasa di titik terendah sekalipun. Ya, dia adalah Sahabat sejatimu. Pertahankan dan bersyukurlah, Tuhan kirimkan mereka yang berhati baik menjadi Sahabatmu.


Tak perlu bersedih karena kini circle pertemananmu berkurang saat dewasa. Setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Bertemu orang yang pernah menyakiti hatimu, tak perlu terlalu dikenang rasa sakitnya. Jangan sampai menjadi orang yang sama seperti dia. Itu lesson learningnya.


Begitulah seni menjalani kehidupan. Saya salut kadang sama yang punya bakat seni, seperti seni gambar, apalagi bisa bikin doodle , rasanya keren aja. Pengen deh belajar bikin doodle juga. 


Sekarang udah paham, dong, ya apa penyebab circle pertemanan berkurang saat dewasa. Gimana nih dengan Sahabat Catatan Leannie, apakah merasakan hal yang sama dengan saya? Sharing juga dong menurut kalian, apalagi nih alasan lingkar pertemanan mengecil seiiring bertambahnya usia? 



Salam,




13 comments

  1. Wuidiiiiih auto koprol aku Mbak Lia baca kalau ada teman minta gratisan buku🤐🤐🤐 tydyak tahu apa ye pengorbanan apa saja agar bisa buku itu tercipta *ciaaaaaaaaaaaaaat

    Anyway aku baca lagi tulisan tentang macan ternak, itu singkatan atau apa sih, Mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Temen macam apa ya itu, heu 😅 Ituloh Simbok, Macan Ternak itu singkatan mama cantik anter anak 😂

      Delete
  2. setuju banget, teman satu persatu menghilang
    mungkin karena obrolan udah gak nyambung
    jadi sekarang lingkaran pertemanan saya hanya teman2 blogger
    yang bikin saya nyaman dan betah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, iya bener banget Ambu. Seru rasanya ketemu temen blogger. Bisa saling support

      Delete
  3. Setuju bangeett...
    Circle pertemanan itu yang bisa memahami kita saat ini. Dengan segala perubahan yang kita alami dan baik-buruknya, semoga senantiasa berada di lingkungan yang sehat dan saling support, bukan toxic people.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Teh. Memang akhirnya saya memilih hanya berada di lingkungan yang sefrekuensi saja

      Delete
  4. Iya itu daku rasakan juga.
    Padahal waktu sekolah/kuliah kayak apa gitu bikin Genk nya haha. Meski begitu silaturahmi tidak luntur walau jarang bertemu muka

    ReplyDelete
  5. Benar kali sama tulisannya kak. Aku juga merasakan seperti itu. Sebelum menikah dekat banget dengan teman, namun saat sudah menikah dan terpisah dengan jarak juga jadinya sudah jarang ngobrol, apalagi pemikiran mereka juga berbeda dengan kita. You know lah kak, kalau sudah menikah pasti sibuk ngurusin suami dan anak, mana bisa telpon, vc mereka setiap saat, nlpon orang tua aja pasti ada jeda waktunya juga. Cuma kita yang udah menikah nih memang harus bisa dan pandai memilih pertemanan, yang bisa satu sefrekuensi dengan kita biar hubungan atau komunikasi itu tetap selalu lancar dan mengalir gitu. Karena setauku kalau yang namanya teman itu ya harus jujur dan komunikasi nya lancar.

    ReplyDelete
  6. Saya selalu berasumsi begini: di dalam rahim sendirian, keluar ke dunia jadi seorang bayi yang dilindungi ibunya, terus tumbuh jadi anak-anak dan remaja yang banyak teman, jadi dewasa makin sedikit teman, terus mati juga sendirian di liang lahat. Ya itulah siklus hidup, berarti kalau cicle pertemanan makin sedikit, berarti kita sudah menyampingkan hal2 yang tidak prioritas serta sudah mendekati ajal jadi harus lebih memperbaiki diri, insha allah...tulisan anda bagus sekali kakak :)

    ReplyDelete
  7. Semakin dewasa semakin banyak kesibukan kita. Dan biasanya ego mulai muncul. Wajar kalau pemikiran mulai berbeda. Makanya circle pertemanan jadi berkurang. Tapi yakinlah. Meskipun sedikit tapi yang sedikit itu adalah yang terbaik

    ReplyDelete
  8. Setuju nih kalau buat saya semakin bertambah usia saya lebih senang masuk circle pertemanan yang gak pake drama, gak melulu membahas masa lalu dan fokus berbicara hari ini dan kedepan secara produktif.. no baper-baper club deh hehehe

    ReplyDelete
  9. Dari 5 penyebab yang ditulis di artikel ini, menurut saya faktor pernikahan mungkin menjadi yang paling berpengaruh. Setelah menikah banyak yang menjadi sibuk dengan urusannnya masing-masing.

    ReplyDelete
  10. Relate banget sih, semuanya punya alasan masing-masing tp yg paling sering sih krna udah terpisah jarak apalagi sdh menikah jg

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya. Moderasi komentar saya aktifkan, ya. Komentar akan muncul setelah saya setujui. Mohon tidak berkomentar sebagai anonim atau menyertakan link hidup. Link hidup akan saya delete. Maaf jika ada komentar yang belum terbalas.

ASUS Zenphone 9