Mengenal Bumi dan Sejarah Kehidupan di Museum Geologi, Cagar Budaya Indonesia yang Harus dilestarikan

Museum Geologi, Cagar Budaya Indonesia
Museum Geologi, Cagar Budaya Indonesia

Keberadaan museum punya arti penting bagi bangsa dan negara karena menyimpan bukti sejarah alam dan warisan kebudayaan sebuah bangsa. Salah satunya adalah Museum Geologi yang ada di Kota Bandung dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat nasional.

Museum ini punya beragam koleksi mengenai Bumi, dinamika, serta sejarah kehidupan yang ada di dalamnya. Museum Geologi menjadi salah satu Cagar Budaya Indonesia yang harus dilestarikan.

Sejarah Museum Geologi

Museum Geologi zaman Hindia Belanda
Museum Geologi di Zaman Hindia Belanda,
 via bgl.esdm.go.id

Museum Geologi ini didirikan sejak tahun 1928 pada masa pemerintahan Belanda oleh arsitek yang bernama Wnalda Van Scholtwenburg.

Museum Geologi Bandung berawal dari pembentukan sebuah lembaga yang bernama Dienst van het Mijnwezen, tahun 1850. Bangunan museum ini bergaya Art Deco dengan dua lantai ke arah selatan. Pada awalnya merupakan ruang dokumentasi koleksi, dari batuan, mineral, dan fosil hasil penyelidikan Geologi Indonesia sejak tahun 1850 sebagai bahan penelitian di laboratorium dan tempat untuk memamerkan koleksi.

Pada tahun 1922, lembaga ini berganti nama menjadi Dienst van den Mijnbouw. Awal berdirinya lembaga ini bernama Mijnwezen, kemudian berubah menjadi Mijnbouw, yang artinya pertambangan. Lembaga ini melakukan penyelidikan geologi serta sumber daya mineral di Indonesia, berupa batuan, mineral, fosil, dan lainnya. 

Untuk menganalisis dan menyimpan hasil penyelidikan tersebut, Dienst van den Mijnbouw membangun gedung di Rembrandt Straat Bandung tahun 1928 yang bernama Geologisch Laboratorium yang kemudian juga disebut sebagai Geologisch Museum atau sekarang dikenal dengan nama Museum Geologi.

Ilmun peserta kongres Pasipik IV
Ilmuan peserta kongres ilmu pengetahuan Pasipik IV
via museum.geology

Pembangunan gedung ini dimulai pada tahun 1928. Museum ini diresmikan bersamaan dengan  kongres Ilmu Pengetahuan se- Pasipik IV di Bandung pada tanggal 16 Mei 1929

Pada tahun 1998, pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Jepang untuk mengembangkan museum. Setelah dilakukan renovasi, Museum Geologi dibuka kembali pada tanggal 23 Agustus 2000 oleh Megawati Soekarnoputri.

Pada tahun 2012, Museum ini statusnya menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Museum Geologi di bawah manajemen dan pengelolaan Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Akses Menuju ke Museum Geologi

Mengunjungi Museum Geologi, Cagar Budaya Indonesia
Mengunjungi Museum Geologi,
via dokumentasi pribadi

Museum Geologi yang terletak di Jalan Dipenogoro No.57, Cihaur Geulis, Kec. Cibeunying Kaler, Kota Bandung, Jawa Barat 40122.

Untuk menuju ke Museum Geologi ini tidaklah sulit karena letaknya ada di pusat Kota Bandung, dekat dengan Lapangan Gasibu, Gedung Telkom, Gedung Sate, Taman Lansia. Lokasinya berdekatan dengan Masjid Pusdai dan sekitar empat kilometer dari Alun-Alun Bandung.

Museum ini mudah dijangkau  baik dengan kendaraan pribadi atau umum. Jika menggunakan kendaraan pribadi,
setelah keluar Pintu tol Pasteur, akan melewati lampu stopan perempatan Gunung batu-Surya Sumantri-Pasteur.  Masuk ke jalan layang Pasopati, di ujung Jalan Surapati akan terlihat Lapangan Gasibu dan Gedung Sate di sebelah kanan.

Ambil lajur kanan untuk kemudian belok kanan di lampu stopan ujung lapang Gasibu masuk ke jalan Sentot Alibasyah. Selanjutnya, ambil lajur kiri, untuk masuk ke Jl. Dipenogoro. Lokasi Museum Geologi ini berada di Jalan Dipenogoro Nomor 57.

Jika menggunakan kendaraan umum, dari Stasiun Bandung Naik angkot 26 Jurusan Cisitu-Tegalega turun di pertigaan Taman Sari ke Sulanjana atau Balubur. Setelah itu naik angkot 05 Jurusan Cicaheum-Ledeng, turun di depan Museum Geologi. Dari
Terminal Bus Cicaheum bisa diakses dengan angkutan kota Cicaheum-Ledeng, kemudian menuju ke Museum Geologi.

Dari Bandara Husein Sastranegara, naik ojek sekitar 500 meter arah selatan ke perlintasan rel kereta Halteu Garuda, lalu naik angkot 34 Jurusan Caringin-Sadang Serang turun pertigaan Taman Sari ke Sulanjana atau Balubur. Setelah itu naik angkot 05 Jurusan Cicaheum-Ledeng, turun di depan Museum Geologi.

Mengenal Bumi dan Sejarah Kehidupan di Museum Geologi


Sejarah Kehidupan via dokumentasi pribadi

Museum ini memiliki berbagai
koleksi yang  bermanfaat untuk pendidikan dan mengandung nilai-nilai sejarah kehidupan serta pelestarian alam.

Beragam koleksi yang dimiliki oleh Museum Geologi Bandung, diantaranya bebatuan, fosil, dan mineral. Selain itu, pengunjung dapat mengenal bumi dan dinamikanya, mengetahui bencana alam, cara memanfaatkan sumber daya alam dan mengolah energi dengan benar.

Di museum Geologi terdiri dari dua lantai, lantai satu ada tiga ruang utama yaitu ruang orientasi di bagian tengah, ruang sayap barat dan ruang sayap timur. Begitu pula di lantai dua terdapat tiga ruang, yaitu ruang bagian barat, timur, dan tengah. Ruang bagian barat lantai dua ini merupakan ruangan khusus untuk staf museum.

Kunjungan saya beberapa waktu ke Museum Geologi, meskipun bukan yang pertama kalinya, ada beberapa hal yang menjadi daya tarik museum ini, diantaranya:

1. Ruang Geologi Indonesia

Mengenal Bumi di ruang Geologi,
via dokumentasi pribadi

Di lantai satu, ruangan barat merupakan ruang Geologi, Kita  dapat mengenal bumi lebih dekat, mengetahui asal mula bumi, struktur dan pergerakan kerak bumi, batuan, mineral, pelapukan juga erosi, mengetahui geologi pulau-pulau yang ada di Indonesia, penyebaran gunung api serta kars.

Alam semesta dan terbentuknya Bumi, via dokumentasi pribadi
Pelapukan, Erosi, dan Pengendapan,via dokumentasi pribadi


Penyebaran Gunung Api di Indonesia, via dokumentasi pribadi

Di ruangan ini dilengkapi dengan video interaktif juga.

2. Ruang Sejarah Kehidupan

Rekontruksi Pithecantrophus Erectus,
via dokumentasi pribadi

Ruangan ini terdapat di sebelah Timur, di dalamnya terbagi ke dalam 4 sudut peraga (Pra Kambrium dan Paleozoikum, Mesozoikum, Kenozoikum yang terdiri dari Zaman Tersier dan Zaman Kuarter.



Fosil T-Rex, via dokumentasi pribadi

Daya tarik utama di ruang ini adalah replika fosil dinosaurus yang terkenal yaitu Tyrannosaurus rex, ada juga manusia purba Homo Erectus, juga  fosil gajah purba Stegodon Trigonocephalus.

Koleksi fosil gajah purba,via dokumentasi pribadi

3. Ruang Sumber Daya Geologi


Ruangan ini terletak di lantai dua sebelah timur, di dalamnya terdapat 8 sudut peragaan yaitu pengenalan Sumber Daya Geologi, Mineral Logam, Non Logam, Batu Mulia, Minyak dan Gas Bumi, Batubara, Panas bumi dan Sumber Daya Air.

4. Ruang Manfaat dan Bencana Geologi


Ruangan ini juga terletak di lantai 2, di dalam ruangan ini disajikan Informasi tentang pemanfaatan sumber daya geologi dari zaman ke zaman yang dimulai dari zaman pra sejarah, zaman sejarah dan zaman modern, serta informasi tentang bencana geologi (Gempabumi, Gunungapi, Tanah Longsor dan Tsunami).

5. Ruang Dokumentasi Koleksi

Ruang dokumentasi koleksi,via museum.geology.esdm.go.id

Museum Geologi memiliki banyak koleksi, mineral, batuan, fosil dan artefak.  Di ruang dokumentasi inilah koleksi-koleksi tersebut disimpan.

Koleksi yang tersimpan di sini merupakan koleksi dari zaman Belanda hingga hasil penelitian para ahli sekarang.

Ruang Dokumentasi digunakan untuk menyimpan koleksi, melakukan kegiatan preparasi dan restorasi.

Museum ini buka pada saat weekday, hari Senin-Kamis pukul 08.00-16.00 WIB. Sedangkan saat weekend, yaitu hari Sabtu-Minggu buka pada pukul 08.00-14.00 WIB. Museum Geologi Bandung ditutup pada hari Jumat dan hari libur nasional.

Harga tiket untuk pengunjung pelajar dan mahasiswa sebesar Rp 2.000,00, sedangkan untuk umum sebesar Rp 3.000,00 dan pengunjung asing sebesar Rp 10.000,00

Museum Geologi sebagai Cagar Budaya Indonesia


Museum Geologi, Cagar Budaya Indonesia,via bgl.esdm.go.id

Berdasarkan UU RI No. 11 Tahun 2010, pengertian Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.

Penetapan Museum Geologi sebagai Cagar Budaya ditetapkan oleh
SK Menteri NoPM.04/PW.007/MKP/2010
SK Menteri No184/M/2017. Museum ini merupakan kategori cagar budaya bangunan yang ada di Kota Bandung. Museum Geologi memiliki peringkat Cagar Budaya Nasional dan kini dikelola oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Penetapan Museum Geologi sebagai Cagar Budaya Nasional, via bgl.esdm.go.id

Museum Geologi merupakan salah satu aset terpilih karena bangunan ini merupakan bangunan Cagar Budaya dan  ditetapkan sebagai Cagar Budaya tingkat Nasional. Selain itu, Museum Geologi juga memiliki beragam koleksi benda Cagar Budaya dan perlu untuk didaftarkan.

Sebagai Cagar Budaya, Museum Geologi memiliki tugas ganda, untuk melindungi, memelihara, mengembangkan dan memanfaatkan peninggalam sejarah alam, sumber daya geologi, dan kebudayaan masa lalu, selain itu Museum Geologi juga memiliki kewajiban untuk melestarikan bangunan museumnya. Oleh karena itu, museum dan cagar budaya merupakan dua unsur yang saling berkaitan dan mendukung satu sama lainnya.


Museum Geologi dan Kampanye Pelestarian Cagar Budaya Indonesia


Pembukaan Kampanye Pelestarian Cagar Budaya di Museum Geologi tahun 2018, via bgl.esdm.go.id

Sebagai Cagar Budaya, Museum Geologi perlu dijaga dan dilestarikan karena merupakan warisan budaya bagi generasi mendatang dan menjadi nilai penting yang menunjukkan jati diri bangsa.

Mengunjungi Museum Geologi menjadi salah satu upaya pengenalan dan pelestarian cagar budaya. Selain itu merawat benda di museum atau menjaga kebersihan juga melaksanakan tata tertib ketika berkunjung ke museum menjadi salah satu upaya untuk menjaga dan merawat cagar budaya Indonesia.

Untuk menjangkau kesadaran masyarakat mengenai pentingnya merawat cagar budaya, diperlukan sebuah kampanye pelestarian cagar budaya.

Kampanye Pelestarian Cagar Budaya yang dilaksanakan oleh kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sesuai UU No 11 Tahun 2010, karena  dengan adanya UU Cagar Budaya ini pemerintah wajib melakukan perlindungan dan pelestarian terhadap Cagar Budaya.

Pada 24 -26 September 2018 yang lalu, Museum Geologi mengadakan kampanye pelestarian cagar budaya di Museum Geologi. Selain masyarakat, pemerintah pun perlu berperan aktif dalam merawat cagar budaya.

Dengan adanya kampanye ini diharapkan akan tersosialisasikan registrasi Nasional Cagar Budaya dan Kebijakan Pelestarian Cagar Budaya, adanya  pengawasan pergerakan dan pelestarian Cagar Budaya serta melakukan pendaftaran objek yang berpotensi sebagai Cagar Budaya.

Merawat cagar budaya berarti melestarikan warisan budaya bagi generasi mendatang. Melestarikan bukti sejarah dan nilai penting yang menunjukkan identitas atau jati diri bangsa.

Rawat atau musnah! Jika bukan oleh Kita yang menjaga dan melestarikan cagar budaya, siapa lagi?

Sudahkah  Kamu mengunjungi cagar budaya yang ada di kotamu? Yuk, ikut berpartisipasi pada Kompetisi “Blog Cagar Budaya Indonesia:  Rawat atau Musnah"  di bawah ini!




#CagarBudayaIndonesia #KemendikbudxIIDN


Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi Blog Cagar Budaya Indonesia : Rawat atau Musnah! #CagarBudayaIndonesia #KemendikbudxIIDN. 
Sumber foto merupakan dokumentasi pribadi penulis yang diedit dengan aplikasi Fotogrid dan Canva.


Referensi:




4 comments:

  1. Wah informatif banget teh, museum geologi bukti bahwa cagar budaya itu bisa dihidupkan & sampe sekarang masoh selalu rame ya, inget dulu waktu SD pernah kesana, yg paling seru disana ada ruangan khusus kaya bioskop buat nonton film sejarah bumi.. mudah-mudahan bisa ajak anak2 berkunjung kesana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bener memang bagus buat edukasi. Nah, iya, bisa ajak anak ke sana

      Delete

Silakan tinggalkan komentar. Mohon tidak menyertakan link hidup. Terima kasih atas kunjungannya.

My Instagram