Profesi atau Pasanganmu Penulis? Ini Dia Realitas Hidupnya!


Pic by Canva

Profesi atau pekerjaan diri atau pasangan terkadang satu paket dengan yang namanya jodoh. Pengennya sih dulu jadi pramugari atau ahli astronomi, eh ternyata pada kenyataannya jadi paramedis dan sekarang ternyata menjadi seorang penulis. Anggap saja sebagai jodoh yang dipilih dan diusahakan.

Pernahkah Sahabat bertanya bagaimana seorang penulis menggoreskan kisahnya dalam cerita fiksi dan apapun yang ia tuliskan, dari mana sih idenya?

Mengenal sosok di dunia nyata terkadang bersebrangan dengan apa yang ia tuliskan? Salahkah? Tentu saja tidak, karena seorang penulis juga manusia yang tak luput dari salah dan khilaf.

Ada beberapa realitas hidup seorang penulis versi saya. Untuk yang berprofesi sama sebagai penulis, apakah hal ini sama dengan Sahabat?

1. Waktu Teramat Berharga bagi Seorang Penulis, Apalagi Soal Deadline Tulisan

Seorang penulis, IRT dan ibu bekerja part time seperti saya sering kali merasa waktu yang dimiliki cukup terbatas. Sehari 24 jam sepertinya kurang bagi seorang penulis apalagi kalau dikejar Deadline. Hehe ...

Deadline tak mengenal waktu, ketika penulis profesional sudah kenal DL, maka sebisa mungkin ia akan menyelesaikan tulisannnya. Klien dan tulisan yang harus dibuat adalah amanah bagi saya untuk ditepati.

2. Percayalah Seorang Penulis pun Ingin Punya Waktu Me Time bahkan Family Time
 
Penulis juga manusia, ia pun terkadang  butuh recharge energy. Di sela aktivitasnya yang padat, ia juga butuh merefresh diri.

Percayalah seorang penulis yang juga ibu bahkan seorang istri suka sekali menghabiskan waktu bersama keluarga, hanya saja harus mengerti di kala ia harus menyelesaikan tulisannya, ada kalanya ia tetap berkutat dengan laptop atau gawai alias handphone.

Seorang penulis terkadang ditagih kapan tulisannya dikirimkan meski sedang family time sekali pun. Inilah yang bikin penulis galau di satu sisi harus menyelesaikan amanah dan di sisi lain keluarga pun butuh perhatiannya.

3. Seringkali Waktu Istirahatnya dikorbankan untuk Menulis disela Aktivitasnya

Terbangun di tengah malam adalah hal biasa bagi sebagian penulis. Adakalanya sebuah tulisan lahir saat penulis sedang merenungkan semua yang terjadi atau mencari riset mengenai tulisannya.

Sebuah fakta membuktikan bahwa seorang penulis kehilangan waktu istirahatnya untuk menulis. Bagi seorang penulis, menulis adalah passionnya, maka kehilangan waktu istirahat sudah ia relakan. Mungkin solusi lain adalah menyiapkan tolak angin. πŸ˜…

4. Banyak hal yang Mau ia Bagikan dalam Tulisannya, dari Dialog bahkan Kejadian Sehari-hari pun Jadi Ide Menulis

Berhati-hatilah dengan seorang penulis, apapun bisa jadi inspirasi menulis. Mungkin di dunia nyata ia diam, tapi ternyata ia menuliskan semua kisah dalam tulisannya. Dari dialog bahkan kehidupan sehari-hari pun bisa menjadi ide menulis.

5. Seorang Penulis Suka Jika Tulisannya dibaca Banyak Orang, karena Pesan yang Ia Sampaikan akan Melekat pada Pembacanya

Tulisan yang dibaca apalagi berpotensi viral begitu membahagiakan seorang penulis. Ia menitipkan pesan di setiap tulisannya. Tulislah kebaikan agar hanya kebaikan saja yang diterima pemiliknya.

6. Mengertilah terkadang Menulis pun butuh Penghargaan, Bukan Seberapa Besar Ia Dibayar untuk Tulisannya tapi Bagaimana Merespon Hasil Karyanya

Bagi seorang penulis, terkadang fee bukan segalanya. Ada kalanya tulisan yang ia buat sudah dimuat di media  dibaca banyak orang pun, hati penulis sudah berbunga-bunga. 

Jika sudah ada perjanjian kerja sama dengan penulis hargailah usahanya karena sebuah tulisan lahir dari perjuangan, mulai dari mencari ide, riset bahkan eksekusi menulis untuk para IRT yang bergelut dengan semua aktivitasnya.

Berilah respon yang baik bagi penulis, jika ia merasa dihargai maka penulis pun semakin bersemangat untuk berkarya.

Jika sudah menetapkan passionmu adalah menulis, teruslah berkarya, tetap konsisten meski banyak halangan dan rintangan menghalangi jalanmu.

7. Ada Hal yang Tak Bisa diungkapkan Seorang Penulis di Dunia Nyata tapi Bisa Terbaca dari Tulisannya

Terkadang seorang penulis mampu menyembunyikan luka dan kepedihannya di dunia nyata, tapi semua terbaca dari tulisan yang ia buat. 

Daripada curhat yang enggak penting, seorang penulis lebih memilih berkarya dengan tulisannya. Percayalah seorang penulis pun punya kehidupan nyata yang tak lepas dari berbagai masalah kehidupan.

Setiap tulisan yang ditulis dengan hati akan menyentuh pembacanya. Saya mempercainya hal ini. Demikianlah realitas hidup seorang penulis. 

Bagaimana Sahabat, tertarik berteman atau punya pasangan seorang penulis? Jika iya, terimalah realitas hidupnya.


Salam,




27 comments:

  1. Sangat senang berteman dengan para penulis, apalagi yang masih muda-muda, serasa usia saya lebih muda beberapa tahun dari aslinya😊😁

    ReplyDelete
  2. poin nomor 7 tu paling kerasa kalo lagi baca tulisan orang, hihi
    nice post mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi ... semua terbaca dari tulisannya. Diangkat dari kisah nyata soalnya.

      Delete
  3. Ada pepatah: jangan coba2 menyakiti hati seorang penulis, atau namamu akan abadi ada di setiap tulisannya hehehehe. Menulis sebagai penghilang stres untuk saya. Thanks mba untuk artikelnya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah, Mbak. Hehe ... sama-sama 😊.
      Menulis jadi terapi untuk Menghilangkan stress atau kesedihan.

      Delete
  4. Aku masih lebih nyaman menyebut diri sendiri sebagai blogger daripada writer. Kalo writer itu macam tahta tertinggi, beratttt gituuu, kudu ngerti KBBI, aturan nulis dll. Sementara aku gak terlalu suka aturan nulis yang aku gak mudeng 🀣🀣🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Blogger juga penulis, Mbak Inna 😊. Kadang saya juga suka miss soal aturan KBBI, sering typo walau udah diself editing. Ya gitu deh. Mungkin karena passionnya nulis jadi menikmati aja.πŸ˜„

      Delete
  5. Otw cari jodoh penulis deh. hahaha
    Untuk perempuan yang cita-citanya tinggal di rumah tapi masih ingin tampil berkarya, kurasa menulis bisa jadi alternatif.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Colek si akang. Haha ... yes, jadi alternatif berkarya dan berpenghasilan dari rumah

      Delete
  6. Mewakili suara hatiku bgt
    Benerrrr

    Apa yg ditulis kadang apa yg g ia ungkpkn d dunyat mb

    Prnah ditagih pas lg piknik

    Tidur malem bangun dini hari

    Nulis smbil gendong

    Bnykk

    Ini bener smua yg mb tuliss wkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, nih, Mbak. Soalnya kejadiannya based on true story. Hehe ... Saya juga ngalamin kayak gitu πŸ˜…

      Delete
  7. setuju banget mbak.... tulisan ini membuat saya berkaca-kaca hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi ... sebenarnya ada satu lagi, tapi nanti saya bikin di kesempatan lain. Seringnya orang berkomentar. Di rumah aja? Atau Enggak kerja, Mbak? Dia aja enggak tahu kalau diem di rumah penulis ngapain aja. Hehe

      Delete
  8. Begitulah kehidupan seorang penulis. Masih mau sama penulis? Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe ... mungkin sebenarnya kalau udah jodoh, ya, mau diapain lagi πŸ™ˆπŸ˜…

      Delete
  9. Salut sama penulis yang bisa menghadapi realita kehidupannya...
    Luar biasa 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menulis itu terapi juga, Mbak. Hehe ... daripada mengeluh dll, mending berkarya. Lebih positif.

      Delete
  10. Tolak angin dan kerokan...πŸ˜‚
    Itulah nikmatnya jadi penulis. Saya baru belajar dan baru saja mengenal dunia literasi, ternyata nyanduuuu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku enggak biasa dikerok, langgangan beli tolak angin. Harus nyetok banyak. Halah ... Emang nyandu, sih. Soalnya jadi kepuasan tersendiri. Nulis sebagai terapi juga ditengah hiruk pikuknya dunia.πŸ˜…

      Delete
  11. Kerasa banget yaa yang namanya berkejaran dengan DL. berasa 24 jam sehari aja gacukup dan berujung ga kepegang itu tulisan haha. Dan overall aku sangat menikmati proses apa yang aku tekuni sekarang sebagai passion. Terus berjuang ya mbaa

    ReplyDelete
  12. Cita² saya dlu pramugari & astronot πŸ˜‚ Lalu beralih jadi jurnalis. Sekarang nggak nyangka nyemplung di dunia menulis. Memang jodoh itu tak ke mana ya, baik jodoh manusia maupun jodoh profesi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ish, ish, ish ... sampai terinspirasi jadi status fb. Haha πŸ˜…

      Delete
  13. Hampir sama dengan yang saya pikirin, Mbak :)
    Waktu jadi berharga banget. Family time pun klo bisa dlm rangka menulisk, spt hari ini. Ngajakin semua anggota keluarga tuk hadir di bedah buku. Nantinya acaranya mau saya tulis, hehe.
    Pastinya, saya selalu izin misua jika ada tugas atau proyek. Jika ga memungkinkan ya ga saya ambil.
    Makasih sharingnya ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ceritanya saya lagi curhat yang dibikin artikel. Hehe ... iya, Mbak. Saya juga jalan-jalan, foto-foto, ntar dibikin tulisan. Bener banget harus ada izin kalau enggak, takut enggak Berkah, ya 😊

      Delete
  14. Mewakili sebagian rasa dari penulis lokal dan blogger..hehehe. Apalagi point 7, kirain saya doang...ternyata banyak yg merasakan hal yg sama.

    ReplyDelete

Silakan tinggalkan komentar. Terima kasih atas kunjungannya.

My Instagram