Showing posts with label Friendship. Show all posts
Showing posts with label Friendship. Show all posts

Ingin Punya Pertemanan yang Sehat, Kenali 7 Cirinya!

 

7 Ciri Pertemanan sehat
Ciri pertemanan sehat,
ilustrasi dari freepik.com dan canva.com


Sebelum menulis tentang ciri pertemanan sehat, saya pernah juga menuliskan tentang circle pertemanan yang kini semakin sempit. Sebelumnya saya pernah mengalami pengalaman buruk tentang masalah pertemanan. Jadi sejujurnya saya semakin selektif memilih teman. Bukan berarti saya nggak mau berteman dengan banyak orang, ya.


Sebelumnya, zaman saya masih sekolah rasanya nggak pernah menemukan drama pertemanan, deh. Zaman sekolah bahkan kuliah, alhamdulillah baik-baik temannya. Justru setelah bekerja atau menikah suka ketemu orang yang ternyata bisa baik di depan tapi belum tentu baik di belakang saya. Akhirnya ketahuan kok, siapa yang benar-benar layak dijadikan sahabat.



Pengalaman buruk tentang kepercayaan 


Ketika ada seseorang yang salah paham dengan ucapan saya, dia sampai menangis seolah-olah menjadi seorang korban yang tersakiti. Padahal setelah itu dia membicarakan keburukan tentang saya pada orang lain. Bukan hanya seorang, hampir ke semua orang yang dia temui.


Saya tahu masalah ini ketika Sahabat saya yang lain menceritakan tentang kelakuan orang tadi. Imbasnya lagi temen terdekat saya pun kena juga diomongin. Kadang saya berpikir kenapa, sih, dia seperti itu? Apa karena pengaruh inner child?


Agak susah ya, kalau orang udah punya prasangka buruk terhadap orang lain, yang terlihat hanya keburukan saja di matanya. Wah, ternyata saya membuat pilihan yang salah dengan menjadikan dia sebagai teman.


Sebenarnya saat seseorang membuka keburukan orang lain, dia sedang menampilkan citra dirinya. Saat Kita berkata atau berbuat baik, sebenarnya kebaikan itu untuk dirinya sendiri.


Jadi saya cukup mengelus dada aja ketemu orang yang dengan mudahnya menceritakan keburukan orang lain hampir pada tiap orang yang ditemuinya dan bersikap seperti dia korban yang tersakiti. Fix, orang tersebut sebaiknya dihindari saja. 


Pengalaman saya tentang kepercayaan membuat saya tidak mudah membuka diri, kecuali terhadap yang sudah saya anggap benar-benar bisa dipercaya.


Ada pepatah yang menyatakan bahwa pilihlah teman yang baik karena akan memberikan pengaruh yang baik pula. Seperti sebuah pepatah di bawah ini.


Bertemanlah dengan penjual minyak wangi. Dia mungkin akan memberimu minyak wangi, atau kau bisa membeli minyak wangi darinya. Jika tidak, kau pun tetap akan mendapatkan harum darinya. 



7 Ciri Pertemanan yang Sehat


Memang iya sih, mendapatkan seorang teman yang baik dan sefrekuensi itu nggak mudah. Makin ke sini makin ketahuan, siapa yang beneran tulus dan siapa yang modus. Bagaimana mengenali pertemanan yang sehat. Simak 7 cirinya di bawah ini!


1. Kamu bisa menjadi dirimu apa adanya

Satu poin pertemanan sehat adalah Kamu bisa menjadi dirimu apa adanya. Tanpa harus jaim saat bersama mereka. Teman yang baik bisa menerima semua kekuranganmu. Dia nggak bakalan nyinyirin  kamu. 


Aktivitas saya sebagai seorang penulis dan blogger terkadang membuat saya merasa nggak punya banyak waktu luang untuk pergi nongkrong bersama teman lainnya. Teman saya memang hanya berempat atau berlima yang sering barengan saat di lingkungan sekolah anak saya terdahulu. 


Mereka paham kok aktivitas saya. Kadang saya nggak bisa diajak ngobrol kalau lagi menyelesaikan deadline tulisan. Sering kali saya ngeblog via handphone, biar saya bisa menulis kapan pun saat saya punya waktu senggang, termasuk saat menunggu anak sekolah.


Profesi saya sebagai seorang blogger dan penulis buku membawa saya mengenal beberapa teman penulis di daerah lain contohnya saja Mba Aisyah Dian, seorang penulis Balikpapan. Mba Aisyah Dian juga senang traveling seperti saya, dia salah seorang Travel Blogger Balikpapan soalnya.


2. Teman baikmu menghargai batasan privasimu

Teman yang baikmu bisa menghargai batasan privasimu. Bukan seorang yang kepo banget ama masalah pribadimu. Mereka tahu kok ada saatnya kamu butuh privasi tersendiri.


Pertemanan pasca menikah memang tidak sama saat masih single. Seorang teman harus paham kalau silaturahmi atau mau pergi bersama teman yang sudah menikah harus tahu waktu.  Dia bisa mengerti bahwa setelah temannya berkeluarga, perlu menghargai privasimu. Setelah menikah, terkadang memang butuh waktu khusus untuk anak dan suami. 


3. Pertemanan bukanlah sebuah kompetisi

Poin ketiga adalah pertemanan bukan sebuah kompetisi yang mengharuskanmu untuk menang atau kalah. Saya sudah menghindari tipe orang yang seolah-olah ingin berkompetisi. Ia merasa dirinya, suaminya atau anaknya yang paling hebat. 


Bagi saya pertemanan bukan kompetisi. Nggak perlu nyinyirin orang lain karena pilihannya berbeda lantas mencari kekurangan atau kejelekan orang lain. Hindari juga membanggakan kemampuan anak sendiri dibandingkan anak orang lain.


Pasti semua orang tua sudah mengusahakan yang terbaik buat anaknya. Hanya saja sepatu orang lain kan berbeda, tidak perlu merasa lebih hebat dan memandang rendah orang lain. Kita perlu menghargai pilihan orang lain yang berbeda.


4. Bisa saling mendukung satu sama lain

Ciri pertemanan yang sehat adalah bisa saling mendukung pilihanmu. Bukan berarti membenarkan semua tindakanmu, dia juga bisa memberikan saran terbaik untuk dirimu.


5. Tidak perlu khawatir, teman bisa menjaga rahasiamu

Teman yang baik dan amanah nggak bakalan bocor, dia mampu menjaga kehormatanmu dan bisa menjaga rahasiamu. Tak perlu khawatir, rahasiamu aman bersamanya. Tenang saja mereka nggak akan menyebarluaskan keburukan atau masalahmu.


6. Kamu tidak merasa dihina atau direndahkan

Poin ini membuatmu merasa nyaman, karena teman sejati tidak memandang status. Tanpa harus melihat materi. Sahabat yang tulus bisa tidak merasa dihina atau direndahkan. Dia juga bisa berteman tanpa melihat status, jabatan, keturunan atau materi yang kamu punya. Teman yang baik nggak akan bikin insecure.


7. Kamu menikmati kebersamaan dengan temanmu

Salah satu ciri pertemanan sehat yang terakhir adalah rasa nyaman saat bersama mereka. Kamu bisa menikmati kebersamaan dengan temanmu. Rasanya selalu happy saat bersama mereka. 


Bersyukurlah Sahabat Catatan Leannie jika diberikan teman dengan ketujuh ciri diatas. Semoga bisa langgeng dan saling support satu sama lain ya. Rezeki itu tak hanya sebatas materi saja. Punya teman yang baik juga rezeki dari-Nya.


Ingin punya pertemanan yang sehat? Kenali 7 cirinya di atas ya. Saran saya jangan sampai keliru memilih teman, ya. Pilihlah Sahabat yang dengan keberadaan dirinya bisa membuatnya semakin dekat dengan-Nya dan membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik. Bagaimana dengan Sahabat Catatan Leannie apakah pertemanan yang kalian miliki punya ketujuh ciri di atas? 



Salam,






Circle Pertemanan Berkurang setelah Dewasa, ini Penyebabnya!

Penyebab pertemanan berkurang
Penyebab circle pertemanan berkurang saat dewasa, via Pexels dan Canva

Pernah nggak merasa kalau semakin dewasa circle pertemanan berkurang? Apa ya penyebabnya? Ke mana para Bestie yang dulu sering jalan bareng, belanja bareng, temen curhat semasa sekolah, kuliah atau kerja? Jumlah teman yang masih terhubung hingga kini bisa dihitung dengan jari. 


Jumlahnya teman semakin berkurang seiiring usia bertambah, mungkin ada beberapa orang atau bahkan hanya satu atau dua orang saja yang masih rutin bertanya kabar atau bahkan ketemu langsung.


Saya jadi merasa kalau mencari sahabat yang satu frekuensi ini lumayan susah buat saya. Faktor lingkungan atau usia juga berpengaruh. Mungkin dulu zaman masih sekolah atau kuliah, Kita terbiasa ketemu bareng di kelas saat belajar, jadi sering ngobrol bareng bahkan jalan bareng. Sekarang nggak seperti dulu pastinya.

 


Penyebab Circle Pertemanan Berkurang saat Dewasa 


Simak, yuk, kira-kira apa saja yang menjadi penyebab circle pertemanan berkurang saat dewasa!


1. Menghindari toxic people

Toxic people, orang yang secara tidak sadar membuat orang lain tidak nyaman dengan ucapannya maupun tingkah lakunya. Semakin Kita dewasa, semakin bisa memilah mana yang cocok dijadikan teman atau Sahabat.


Ternyata pada kenyataannya, engga banyak orang yang bisa saling ngertiin, tanpa julid, bahkan ada yang menusuk dari belakang dengan menyebarkan aib atau kekurangan orang lain. Ya sudah. Bye !


Sebaiknya jangan mudah percaya orang yang baru kenal, apalagi menemukan orang yang sepertinya kepo  atau senang mengorek kehidupan pribadi orang lain. Saya pikir sebagai seorang perempuan, Kita bisa saling support. Nyatanya banyak ucapan yang bikin orang lain insecure


Merasa diri sendiri lebih baik kemudian memandang orang lain tidak lebih baik darinya juga termasuk type orang toxic. Membandingkan dirinya, anak, pekerjaan suami atau bahkan masalah anak sekolah di mana pun dibesar-besarkan pula.


Mau disekolahkan di sekolah swasta favorit sekalipun, perlu dibimbing lagi oleh orang tua di rumah. Masalah anak les atau nggak pun dibahas terus, duh padahal ya, apa sih yang perlu dibanggakan dengan memandang remeh orang lain?


Jika orang tuanya mampu menyekolahkan di sekolah swasta atau sekolah islam terpadu, ya silakan saja. Itu kan hak orang tua. Mau sekolah di negeri pun, pasti orang tua punya pertimbangan tersendiri.

 

Mungkin faktor zonasi biar dekat dengan lokasi sekolah selain pertimbangan biaya, karena tak semua orang mampu secara materi menyekolahkan anaknya di sekolah swasta. Kondisi tiap orang kan berbeda, tidak bisa menyamakan sepatu yang dipakai dengan sepatu orang lain.


Banyak hal yang seharusnya tidak perlu diperdebatkan seperti memperdebatkan full time mom vs working mom, anak disusui asi ekslusif atau diberi tambahan susu formula, memberi makan MPasi alami dengan Mpasi instan, anak melahirkan normal atau caesar. Duh, berat, ya jadi perempuan dikit-dikit dibanding-bandingkan. Itulah kenapa perempuan rentan kena stress bahkan depresi.


Menjauhi toxic people adalah salah satu penyebab jumlah teman semakin berkurang, karena kita bisa menyaring siapa saja yang satu frekuensi, tanpa julid, dan tanpa merasa superior dengan membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain.


2. Faktor menikah

Menikah, tentu saja membuat hubungan pertemanan tidak intens seperti dulu. Nggak bisa bebas jalan-jalan, ngobrol engga kenal waktu. No ... Nggak bisa, setelah menikah punya kewajiban sendiri. 


Setelah menikah, ada anak atau pasangan yang perlu diperhatikan makannya, diurus keperluannya, perlu dibimbing juga belajar di sekolahnya atau ngajinya udah sampai mana. 


Mau nggak mau, menikah memang tidak sebebas dulu waktu masih single, dan kalau pun bertamu ke teman yang udah menikah juga harus tahu batasan. Jangan kebablasan dan harus ingat waktu.


3. Terpisahkan jarak

Bestie yang dulu dekat ke mana ya? Oh, ternyata dia pindah setelah menikah, ikut dengan suaminya atau bekerja di luar kota. Otomatis nggak bisa seperti dulu lagi karena jarak memisahkan. 


Meski bisa terhubung via media sosial tapi kenyataannya tidak sama saat tinggal di daerah yang sama. Kadang yang tinggal satu kota saja agak susah diajak ketemuan, apalagi yang terpisahkan jarak atau tinggal di luar kota.


4. Sudah tidak satu pemikiran lagi

Waktu membuat orang lain berubah, ada teman yang dulunya dekat tetapi setelah sekali dua kali ngobrol, loh kok engga nyaman ya. Rasanya sudah berubah, sudah tidak satu pemikiran lagi. 


Sesekali ngobrol, teman saya mengucapkan selamat karena saya udah bikin buku antologi terbaru. Alhamdulillah dapat respon positif, tapi saat dia bilang minta buku saya untuk dikirimkan gratis, saya jadi mikir lagi.


Ini temen support secara tulus engga sih, bukannya mengapresiasi dengan membeli buku tapi malah minta gratis buku plus ongkir pula. Jangan, ya, Sahabat Catatan Leannie. Jangan minta barang jualan secara gratis karena merasa berteman.


Menulis itu engga mudah, loh. Perlu meluangkan waktu, berpikir, mencari ide, eksekusinya juga kadang mencari celah waktu di sela kesibukan atau aktivitas sehari-hari. 


Jika memang menghargai teman, ya belilah dagangannya. Jika tidak berminat lebih baik tidak perlu beli. Nggak perlu juga nyinyir, bilang mahal atau apalah yang bisa menyinggung temanmu. 


Siapa tahu memang dia lagi usaha buat memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Attitude is numero uno. Utamakan adab ya, meski dengan teman atau sahabat dekat sekali pun.


5. Sahabatmu sekarang adalah yang bener-bener mengerti dirimu

Akhirnya yang tersisa dari circle pertemananmu saat dewasa adalah sosok yang paling mengerti dirimu. Waktu akan menunjukkan siapa saja yang bisa terus bertahan di sisimu sebagai sahabat sejati atau bahasa kerennya, Bestiemu


Setelah saling mengenal beberapa waktu, Kamu bisa menemukan siapa saja yang layak jadi tempat curhatmu. Bercerita dengannya bikin hatimu lega. Lega tanpa merasa dijudge macam-macam. 


Dia yang dengan setia mendengar ceritamu. Tanpa penghakiman tapi bisa memberi saran terbaik bagaimana harus bersikap. Ya, saya rasa memang hanya menemukan beberapa orang saja yang bisa menjadi sahabat sejati. 


Ada teman yang masih dekat sejak zaman SMU, kuliah dan ada juga yang jadi deket saat nganter anak alias jadi macan ternak waktu di TK.  Bahkan ada Bestie yang kini jadi ipar, dari zaman SMU, kuliah, PKL barengan. Sekarang tetap dekat karena ternyata adik-adik Kita berjodoh dan menjadi pasangan suami istri, pasangan sejiwa. Senangnya. 


Teman-teman Blogger juga bisa dikatakan satu frekuensi karena punya ketertarikan yang sama, yaitu menulis dan alhamdulillah dipertemukan dengan Blogger yang baik dan bisa saling support satu sama lain. Sahabat sejati itu ada, meski jumlahnya sedikit dan bisa dihitung dengan jari.


Sahabat adalah teman terbaikmu yang tidak hanya ada saat Kamu ada di titik tertinggi hidupmu. Dia bahkan mendampingi saat Kamu berasa di titik terendah sekalipun. Ya, dia adalah Sahabat sejatimu. Pertahankan dan bersyukurlah, Tuhan kirimkan mereka yang berhati baik menjadi Sahabatmu.


Tak perlu bersedih karena kini circle pertemananmu berkurang saat dewasa. Setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Bertemu orang yang pernah menyakiti hatimu, tak perlu terlalu dikenang rasa sakitnya. Jangan sampai menjadi orang yang sama seperti dia. Itu lesson learningnya.


Begitulah seni menjalani kehidupan. Saya salut kadang sama yang punya bakat seni, seperti seni gambar, apalagi bisa bikin doodle , rasanya keren aja. Pengen deh belajar bikin doodle juga. 


Sekarang udah paham, dong, ya apa penyebab circle pertemanan berkurang saat dewasa. Gimana nih dengan Sahabat Catatan Leannie, apakah merasakan hal yang sama dengan saya? Sharing juga dong menurut kalian, apalagi nih alasan lingkar pertemanan mengecil seiiring bertambahnya usia? 



Salam,




Sepenggal Memori Ramadan dan 5 Hal yang dirindukan saat Puasa di Masa Kecil

Puasa di masa kecil
Hal yang dirindukan saat puasa di masa kecil,
freepik.com/starline 


Ramadan tiba ... Ramadan tiba, Marhaban, Ya ... Ramadan ... Ini adalah lagu yang sering kali dinyanyiin anakku. Ngomong-ngomong soal masa kecil, saya jadinya flashback dan mengingat 5 hal yang dirindukan saat puasa.

Meski sekarang udah punya anak balita dan insyaallah bakal punya adik buat kakaknya, saya masih mengingat kenangan masa kecil dan kadang kangen dengan banyak hal.

Apa sih kegiatan di masa kecil yang dikangenin sampai sekarang? Saya jadi nostalgia ke masa kecil dan ngangenin beberapa hal, seperti ini!


1. Tarawih bareng Sahabat


Saya punya Sahabat dekat sewaktu masih Sekolah Dasar, ke mana-mana selalu barengan. Pas SD, taraweh suka disamper temen dan kita jalan bareng ke masjid.
Sampai SMP udah beda sekolah, jarang ketemu apalagi pas SMU. Kuliah dan kerja pun dia di luar kota.

Pas nikah sama orang Bandung dan balik lagi ke sini. Kangennya saya sama dia, pernah sekali meet up di pasar minggu dekat rumah.



2. Nulis ceramah saat tarawih


Nulis ceramah saat tarawih memang tugas dari sekolah, tugas dari guru agama dan dikasih buku khusus. Hal yang dikangenin juga saat nungguin antrian buku ceramah dicap sama DKM Masjid.

Secara enggak langsung, bakal bener-bener menyimak tausiah dari ustaznya setelah isya jelang tarawih. Sekarang di masa pandemi, tarawih cukup di rumah aja. Padahal tarawih di masjid tiap tahun adalah hal yang saya rindukan ketika Ramadan tiba.


3. Ngabuburit, jalan-jalan sore cari cemilan


Rasanya jadi anak kecil happy banget, ya. Pas masih SD bareng  sahabat saya sering banget ngabuburit bareng, cuman jalan-jalan aja ke kompleks dekat rumah sambil cari cemilan buat buka, meski mama juga suka masakin takjil di rumah.

Tetep aja ngabuburit bareng sahabat jadi hal yang dirindukan saat puasa di Bulan Ramadan. Sekarang udah enggak pernah ngabuburit, aktivitasnya diganti masak buat keluarga dan nyiapin takjil.


4. Main monopoli, bola beklen, congklak, dan boneka kertas


Happy banget kalau inget ini. Rasanya main sama sahabat jadi hal yang dikangenin juga. Main monopoli, bola beklen, congklak, juga main boneka kertas adalah mainan khas anak perempuan yang bisa bikin mager. Lol ...

Aslinya ngangenin banget melakukan berbagai jenis permainan ini. Sayangnya anak sekarang mainannya beralih ke gawai. Hiks miris sebenarnya.


5. Baca buku sampai tamat dan rutin menghapal Alquran


Rasanya kangenin baca buku baik komik atau novel sampai tamat, sekarang semenjak jadi ibu rasanya baca buku sampai tamat pun udah jadi hal yang mewah.

Sejak SD saya rutinin menghapal Alquran bahkan pernah sampai hatam Alquran dalam sebulan, yang sekarang jarang banget bisa tercapai. Jadi pe er banget buat saya.

Nostalgia ke masa lalu kadang jadi hal yang membahagiakan, ya. Banyak mengucap syukur masih diberikan nikmat sehat sampai sekarang. Saya  terkenang banyak hal saat Ramadan, nostalgia masa kecil dan mengingat arti persahabatan juga.


Itulah sepenggal memori masa kecil dengan melakukan 5 hal yang dirindukan saat puasa selama Ramadan. Bagaimana dengan Sahabat Catatan Leannie, apa aja nih kenangan berkesan saat Ramadan di masa kecil?




Salam, 




#BPNRamadan2020
#BPNChallengeday18


Kenangan Ramadan Berkesan, Masa Kecil dan Persahabatan yang Tak Terlupakan

Kenangan Ramadan Berkesan

Ramadan meninggalkan kenangan berkesan yaitu tentang masa kecil dan persahabatan. Masa kecil memang hanya sekali dan tak akan terulang kembali. Ramadan meninggalkan kenangan yang berkesan ketika saya masih berada di Sekolah Dasar. Seiring berjalannya waktu, Ramadan tidak seseru masa kecil. Entahlah, ini saya saja yang merasakan atau Kamu juga merasa begitu?

Salah seorang sahabat saya semasa kecil membuat saya terkenang dan rindu akan kebersamaan kami dahulu. It's a long time ago. Sudah lebih dari tiga dasawarsa ternyata. Lama juga kan, ya, dan jangan tanya saya usia berapa sekarang, hehe 😄

Apa saja sih kenangan ramadan berkesan versi saya, simak, yuk!

1. Ngabuburit sambil main bareng

Dulu kami sering menghabiskan waktu bersama saat menunggu datangnya waktu berbuka atau dikenal juga dengan ngabuburit. Kami sering main boneka kertas, ular tangga, monopolie, atau mendatangi rumah teman untuk bermain bersama atau berkeliling kompleks sambil jalan sore-sore cari jajanan takjil. Seneng banget rasanya kalau inget moment di atas

2.  Jalan menuju masjid dan Tarawih bareng

Kami juga selalu salat tarawih bersama. Jalan bareng menuju mesjid dan kadang sepulang tarawih bisa mencari jajanan untuk disantap usai tarawih.

3. Menulis tugas ceramah saat tarawih atau bada salat subuh

Sudah menjadi tradisi saat masih SD, untuk menulis hasil resume ceramah pada saat tarawih. Kami harus menyimak apa yang penceramah sampaikan dan menuliskannya di buku aktivitas Bulan Ramadan. 

Sepulang tarawih, kami juga harus
menunggu antrian untuk dapat cap masjid dan penceramah. 

Selain menulis resume ceramah Ramadan, ada juga evaluasi hapalan alquran, dan salat sunah yang dilakukan setiap hari di Bulan ini. Sayang sekali program ini sepertinya sudah tidak ada dalam kurikulum pelajaran SD sekarang.

Kisah Persahabatan di Masa Kecil

Persahabatan yang kami jalin berlanjut sampai masa SMU. Meski saat SLTP dan SMU, kami berlainan sekolah. Saya mendapatkan kabar duka kalau ibunya teman saya meninggal karena kanker payudara.

Teman saya, kakak dan ayahnya memutuskan pindah ke Malang, tempat asal orang tua mereka. Saya kuliah di Jurusan Analis Kesehatan Politeknik Kesehatan Bandung sedangkan yang saya tahu dia kuliah di Jurusan matematika Universitas Negeri Surabaya.

Setelah menikah, sahabat saya pindah kembali ke Bandung. Saya memberikan undangan pernikahan padanya via medsos. Kami ngobrol via WA atau Fb kemudian memutuskan untuk bertemu.

Bertemu dengan sahabat saya di masa kecil dengan dua putra dan putrinya dan saya juga membawa putra saya. Kangen-kangenan Kami sambil ngasuh anak di pasar minggu.

Bertemu sahabat semasa kecil
Menemani kegiatan anak bermain pasir sambil ngobrol tentang berbagai hal, dimulai dari teman semasa SD, kehidupan pernikahan, pekerjaan sebagai irt, juga berbagi cerita menarik seputar kehidupan rumah tangga. 

Dia tak berubah tetap jadi pribadi yang menyenangkan, santun, dan selalu penuh dengan senyuman. Kami saling menghargai privasi masing-masing, berbagi banyak hal dalam hidup, dan saling menguatkan. Alhamdulillah, indahnya silaturahmi dan Persahabatan kami.

Baca kisah kami tentang Persahabatan 


Reuni plus buka puasa bersama alumni SLTPN 1 Bandung

Satu lagi kenangan berkesan adalah saat menghadiri acara buka puasa bersama.
Kali ini bersama teman saya, alumn SLTPN 1 Bandung di Treehouse Cafe. Sebuah pertemuan seru yang dihadiri alumni kelas 1-5 dan 3-5 SLTP 1 Bandung.

Reuni seru di Treehouse Cafe

Kami memilih Cafe Treehouse dengan pertimbangan mencari tempat makan plus playground anak. Serunya ngobrol bareng mereka. Bercerita tentang masa SLTP, saat masih unyu-unyu, ada kisah cinlok juga, seputar pekerjaan dan kesibukan mereka sekarang.

Baca juga cerita tentang Buka Bersama di Treehouse Cafe

Jika bukan bulan Ramadan dengan momen buka puasa bersama agak sulit rasanya mengumpulkan mereka. Alhamdulillah berkat silaturahmi dan buka puasa bersama bisa menjadi penghapus rasa rindu akan masa muda dahulu. Sekarang juga masih muda sih, berjiwa muda meski dengan predikat emak-emak. 😅

Itulah kenangan Ramadan berkesan bagi saya mengenai masa kecil dan kisah tentang persahabatan.  Bersyukur tiap tahun bertemu kembali di Bulan Ramadan. Semoga berkah Ramadan menyertai Kita semua.


Salam,







Memories in Bali, Sebuah Kisah tentang Persahabatan

Berfoto di GWK, Bali, bersama Sahabat
Seru-seruan bareng Sahabat Kuliah di GWK, Bali

Kangen Sahabat kuliah membuat saya terkenang akan Memories in Bali, sebuah kisah tentang indahnya persahabatan. Pertama kali mengunjungi Bali saat fieldtrip D4 Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Bandung tahun 2013.

Kuliah D4 ini merupakan kuliah lanjutan selama satu tahun setelah lulus D3 Analis Kesehatan. Sebelum ini saya bekerja di sebuah laboratorium klinik utama ternama di Bandung.

Setelah bekerja hampir lima tahun di laboratorium klinik swasta , saya mengambil keputusan untuk resign dan melanjutkan kuliah D4. Saat itu acara fieldtrip dilaksanakan ke Pulau Dewata, Bali.

Kami pergi dengan penerbangan pesawat dari Bandara Husein Sastranegara ke Bandara Ngurah Rai. Berangkat dari rumah pukul 05.00 WIB, baru naik pesawat sekitar pukul 06.00 WIB.

Sampai di Bali sekitar pukul 9.00 WITA atau 8 WIB.  Sesampainya di Bandara, Kami menuju berbagai tempat untuk kunjungan yaitu ke Puskesmas dan RSUD Sanglah, Denpasar.

Kunjungan ke Lab Mikrobiologi RSUD Sanglah

Kunjungan ke Laboratorium RSUD Sanglah, Denpasar memperlihatkan keadaan Laboratorium di sana. Ada juga kunjungan ke Laboratorium Mikrobiologi RS Sanglah. Seru banget bisa berkunjung ke sini, melihat berbagai alat laboratorium yang sudah canggih dan automatic.

Buat yang pengan cari oleh-oleh khas Bali yang murah meriah bisa datang ke Pasar Seni Guweng di daerah Sukowati, Gianyar, Bali. Jangan sampai kalap belanja, ya. Coba perhitungkan isi dompet Kamu kalau ke sini 😅

Shopping, yuk!

Jalan bareng Sahabat memang asyik dan seru juga. Hihi ... maklum masih mahasiswi, beginilah gaya Kami saat shopping. Hihi ...

Pada nyobain topi buat ke pantai,
entah jadi beli apa enggak 😅

Traveling ke Bali kalau belum lengkap, kalau enggak  ke Pantai,  dong, ya. Beberapa pantai kami kunjungi, Pantai Kuta, Pantai Jimbaran, dan Pantai Tanjung Benoa. Pantai di Tanjung Benoa ini asyik buat cobain banana boat dan berbagai aktivitas olahraga air lainnya, loh. 

Pantai di Jimbaran juga so sweet  alias romantis banget apalagi pas malam dihiasi lampu cantik dan Kami makan lesehan bareng Sahabat. Sebelumnya Kami sudah puas foto-foto di pantai. Masih dengan gaya mahasiswi, beginilah moment yang Kami abadikan. Seru banget pokoknya.

Mantai, nih

Biarlah ombak menerpa,
asal tangan kami saling menggenggam

Love and Friendship

Saya membayangkan suatu saat nanti bisa menikmati indahnya malam di tepi pantai bareng pasangan halal. So Romantic. Dulu pas kuliah masih gadis, alhamdulillah setelah nikah, honeymoonnya ke Bali di Bulan September 2014. Yess, mengunjungi Bali untuk yang kedua kalinya.😍

Nanti saat juga akan menuliskan pengalaman berkesan saat honeymoon ke Bali di blog ini.

Seru banget bisa menghabiskan waktu bareng Sahabat menikmati keindahan pantai-pantai di Bali. Bisa dilihat ekspresi Kami saat itu. Refreshing dulu sebelum berkutat dengan sidang atau skripsi.

Melepas penat bersama Sahabat

Garuda Wisnu Kencana atau GWK identik dengan Bali banget. Kami sempat berkumpul bareng, mengadakan games seru, dan menikmati kebersamaan sambil melihat pemandangan cantik khas Bali.

Udah kaya foto angkatan

Ngumpul bareng

Perjalanan ke Bali memang mengesankan. Keindahan alamnya, arsitekturnya, ragam budaya juga makanan khas Bali benar-benar saya suka.

Arsitektur Bali memang keren

Suka dengan arsitektur khas Bali

Selama tiga hari dua malam menghabiskan waktu di Bali rasanya belum cukup untuk menjelajahi Bali yang memesona. Akhirnya harus check out juga dari hotel tempat kami menginap di sini. Mengabadikan kenangan via foto membuat saya rindu masa-masa ini.

Akhirnya check out juga
Ketika rindu menyapa, saya teringat kembali memories in Bali, sebuah kisah tentang indahnya persahabatan. Ini adalah moment yang tak terlupakan bareng Sahabat bagi saya. Menurut Kamu, kapan moment tak terlupakan ketika teringat Sahabat?


Salam,





Sudah Cukupkah Empatimu? Terkadang yang dibutuhkan Hanyalah Mendengarkan

Pic by Canva

Pernahkah secara tak sadar Kamu melakukan bullying terhadap orang lain?
Sudah cukupkah empatimu? Ternyata yang dibutuhkan hanya mendengarkan.

Ketika seseorang mengajakmu bicara, apa yang terjadi? Entah disengaja atau pun tidak, reaksimu ternyata membuat orang yang bercerita tambah down.

Memang adakalanya Kita tak bisa mengukur kemampuan orang lain sama seperti yang lainnya. Respon negatif yang diucapkan bisa menjadi boomerang.

"Masa gitu aja enggak bisa?"

"Kamu kurang sabar sih, orang lain juga mampu!"

Banyak lagi tanggapan yang membuat pencerita semakin tersudutkan. Berhati-hatilah dengan responmu. Lidah memang lebih lebih tajam dari pedang. Kata-kata yang keluar dari ucapanmu tak bisa ditarik lagi. Padahal seseorang mengajak bicara, mungkin dia ingin melepaskan beban yang ada pada dirinya.

Bukannya masalah terpecahkan, malah menambah masalah baru. Ternyata respon negatif menambah perasaan orang lain menjadi ikut buruk juga. Cobalah berempati dengan respon yang baik juga.

Jika orang yang bercerita sepertinya butuh nasihat, berikanlah kata-kata yang santun sehingga apa yang disampaikan bisa ia terima.

Lebih baik diam daripada berbicara hal yang tidak mengenakkan bagi orang lain. Mungkin hanya dengan mendengarkan itu jauh lebih baik. Berikan tanggapan jika diminta, pilih juga kata-kata yang santun tentunya.

Kadang merasa kasihan juga terhadap orang yang bercerita. Cukupkan saja empatimu. Kamu boleh merespon seperlunya saja dan menghargai orang lain sebenarnya bisa dimulai dengan mendengarkan.



Salam,




Sehari bersama Sahabat, We Time sekaligus Refresh Energy

Sehari bareng Sahabat

Apa arti Sahabat menurut Kamu?

Sahabat bagi saya adalah seseorang yang selalu ada, menemani Kita pada titik tersulit dalam hidup dan tak kan pernah meninggalkanmu pada kondisi apapun. Sehari bersama Sahabat sungguh berkesan. Buat saya bertemu dengan Sahabat meski sebentar jadi we time dan recharge energy.

Bahagia bersama Sahabat, shopping bareng, nangis bareng, dan yang paling sering curhat lebih lega bareng Sahabat. Hihi ... pokoknya seru bareng Sahabat.

Ada banyak Sahabat yang menemani saya selama ini. Saya jadi banyak belajar tentang kehidupan bareng Sahabat. Meski sudah tidak banyak waktu bareng Sahabat karena berbagai kesibukan, sudah berkeluarga, atau tinggal jauh di luar kota ternyata tidak mengecilkan arti Sahabat buat saya.

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan Sahabat saya. Ada Sahabat yang saya kenal sejak kecil, lulus SD udah jarang ketemu, SMP bahkan SMU juga jarang.  Padahalrumahnya deket rumah saya, tapi jarang ketemu. Kuliah apalagi karena  Sahabat saya ini kuliah di luar kota. Kuliah jurusan Matematika di Universitas Negeri Surabaya, sedangkan saya di Analis Kesehatan Poltekkes Bandung.

Baru ketemu kemarin-kemarin setelah kami menikah dan punya anak. It's a long time. Sehari bertemu lagi dengan teman semasa kecil sangatlah berkesan.

We Time bareng Sahabat plus Bocil

Sehari bareng Sahabat bisa sekalian We Time plus recharge energy. Setelah punya anak Me Time udah berubah jadi We Time. Soalnya ke mana-mana bawa Dzaky.  Hehe ... 

Kenapa saya bilang recharge energy? Bisa recharge sekalian berbagi energi positif. Berbagi banyak hal bareng Sahabat. Saling menguatkan dan mendukung membuat saya merasa tidak sendiri di dunia ini. Halah ... yang lain ke mana emang? 😅

Satu lagi Sahabat yang saya kenal belum lama di dunia literasi. Ketemu di salah satu grup kepenulisan, teman nulis bareng 100 puisi bersama Edelweiss Authors. Datang dari Depok ketemu di Gramedia BTC. Seru banget ketemu Sahabat yang satu ini. Ngobrol  kaya yang udah kenal lama padahal baru sekali ketemu.


Meet up sambil ngasuh

Meski banyak juga saya ketemuan sama Sahabat yang lain, saking serunya suka lupa buat foto bareng. Dua cerita di atas ada fotonya jadi bisa diceritain di sini.

Bagaimana dengan Kamu, seberapa greget saat bertemu dengan Sahabat?


     Salam,